Tidak Semua Orang Harus Mempunyai Hubungan Keluarga untuk Saling Merawat dan Berbagi


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Suatu hari saya masuk ke sebuah salon, disana saya mendengar sebuah cerita. Walaupun hanya sekilas, namun cerita ini membuat saya merenung dan ingin berbagi:

Di salon itu ada seorang ibu yang memiliki rumah di pinggir jalan raya dan sebuah toko snack yang laris. Ibu tersebut mengusahakan ekonominya secara mandiri dengan cara berjualan snack. Lalu anaknya meminta ibunya menjual semua rumah dan toko snack tersebut dan tinggal bersamanya. Sang ibu dengan senang hati menurut dan berpikir bahwa dia akan dirawat oleh anaknya dan tinggal bersama anaknya.

Tetapi bayangan indah berbalik dengan kenyataan. Ibu tersebut setiap bulan memang diberi uang oleh anaknya namun ia setiap hari harus sendirian di rumah, ini karena anak dan menantunya setiap hari harus pergi bekerja dan cucunya sekolah di luar negeri.

Ia juga tinggal di perumahan yang jauh dari tempatnya tinggal dulu, ia juga tidak mengenal tetangga. Dia yang terbiasa memiliki pekerjaan, mempunyai penghasilan sendiri, pergi sendiri kemana saja dan mengatur sendiri keuangannya, saat ini jadi merasa stress dan tidak kerasan. Ini karena ia terbiasa mengelola hidupnya sendiri dan tentu saja dengan cara yang mandiri.

Di tempat tinggalnya yang dulu, ia juga banyak berteman dengan tetangga. Otomatis dengan tinggal di rumah anaknya, ia jadi kehilangan persahabatan, tempatnya untuk bercerita dan berbagi.

Kondisi ini banyak dialami para Lansia lain. Mereka harus pindah ke tempat baru, entah tinggal bersama anaknya atau pindah ke tempat yang baru. Padahal bagi Lansia, kondisi ini belum tentu memberikan rasa bahagia. Di tempat lama, umumnya mereka sudah berteman dengan banyak orang, ada tempat untuk cerita. Kondisi baru ini malah membuatnya sedih.

Mungkin seorang anak juga berpikir bahwa dengan ibunya tinggal bersamanya, ia bisa membuat ibunya bahagia, bisa mengawasinya setiap hari dan menyediakan waktu buat ibunya. Jika jauh, ia kuatir ibunya akan kesepian dan ketika anaknya dibutuhkan, belum tentu ada di rumah.

Ini merupakan problem relasi antara orangtua dan anak ketika orangtua sudah memasuki masa tua. Ada anak lain yang kemudian memutuskan tinggal di rumah ibunya, namun ini juga tidak mudah karena jika punya suami dan anak misalnya, maka biasanya ia harus punya kesepakatan dengan anak dan suaminya.

Namun yang membuat saya berpikir adalah banyak orang yang menganggap bahwa hidup sendiri itu tidak menyenangkan dan harus ditemani. Padahal tak semua orang harus hidup berdua. Ada banyak orang yang memutuskan untuk tidak menikah dan hidup sendiri, mereka bahagia hidup bersama teman-temannya. Ada yang memang sudah lama hidup sendiri dan mandiri secara ekonomi, jadi tak pernah mempunyai problem soal kesendirian.

Saya jadi ingat, pernah ada seseorang yang berkata "Kalau kamu tidak menikah dan tidak punya anak, siapa yang akan merawatmu ketika tua? kalau kamu tidak punya pasangan siapa yang akan menjagamu?. “

Padahal menikah belum tentu memiliki anak, atau bisa saja pasangannya meninggal atau pergi tak kembali. Ini bisa saja terjadi.

Saya juga teringat seorang guru yang sudah tua dan sakit. Dia tidak memiliki siapa-siapa dan hidup sebatang kara. Tetapi dia memiliki sahabat dan murid-murid yang bergantian membantu, membiayai dan merawatnya hingga sembuh, bahkan mengusahakan agar bisa tinggal di panti jompo dan mereka bergantian untuk mengunjungi.

Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan dan semesta dan bagaimana kehidupan akan berjalan. Orang tua mencintai dan merawat anaknya adalah bentuk dari rasa sayang dan cinta. Begitu juga si anak yang merawat orangtuanya ketika orangtuanya memasuki masa tua. Walaupun kejadian lain juga banyak terjadi, misalnya orangtua yang memilih tinggal di panti jompo atau justru anak yang tak mau merawat orangtua.

Namun saya adalah orang yang pernah berpikir bahwa segala sesuatu sudah ada nasibnya sendiri-sendiri, sudah ada jalannya masing-masing. Kita bisa saja punya rencana tetapi semua kembali Tuhan yang menentukan. Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan dan alam semesta. Mati atau hidup juga Tuhan yang menentukan. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik buat kehidupan dan berbagi kebaikan buat kehidupan.

Berbuat baik, memperhatian dan merawat tidak harus ada hubungan darah, tidak harus ada hubungan keluarga, karena hubungan darah pun belum tentu bisa memberikan kebaikan buat kita. Kebaikan bisa datang dari mana saja, kapan saja dan dari siapa saja karena tangan Tuhan dan alam semesta bekerja dengan cara yang tidak pernah kita duga.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)