Status Sosial yang Tak Penting Ditanyakan Ketika Lebaran


Menanyakan status sosial adalah hal yang tak penting untuk ditanyakan ketika lebaran. Ini yang sering saya alami dan yang membuat tidak nyaman. Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: sekarang sudah setinggi apa kami bisa sekolah? Hal-hal yang membuat saya dan saudara-saudara tak nyaman ketika kami tak bisa bersekolah tinggi

*Ravika Alvin Puspitasari- www.Konde.co

Momen yang selama ini mendebarkan dalam hidup saya adalah saat berkumpul dengan saudara dan keluarga ataupun tetangga sekitar rumah ketika lebaran.

Satu-persatu dari saudara selalu ditanyai mengenai pendidikannya. Dalam keluarga kebetulan hanya saya dan kakak sepupu yang berjenis kelamin perempuan dari banyaknya sanak keluarga.

Keluarga kakak sepupu saya berasal dari keluarga kelas atas, katakanlah mampu jika untuk membiayai anaknya sekolah sekolah sampai selesai. Berbeda dengan keadaan saya yang justru sebaliknya.

Kebanyakan kerabat menanyai kakak sepupu saya:

“Sudah lulus kuliah?.”

Berbeda dengan saya yang ditanya,"sibuk apa sekarang?."

Itulah pertanyaan yang dilontarkan pada saya, perempuan dari keluarga kelas bawah (proletar) ini.

Padahal faktanya, saya juga bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri. Pikir banyak orang, perempuan kelas bawah seperti saya setelah lulus SMA, maka ia akan bekerja sebentar kemudian menikah.

Pernyataan semacam itu bukan hanya dari kerabat saya yang mengamini namun berlaku pada masyarakat sekitar juga dengan subyek berbeda yang dialami oleh beberapa teman perempuan saya.

Kebanyakan kerabat dan masyarakat sekitar saya tidak banyak yang mengetahui bahwa perempuan dari kelas bawah pun bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dalam hal ini masyarakat luas masih terkonstruksi, dimana masih melekatnya budaya patriarki. Mereka menganggap bahwa perempuan hanya memikirkan kerja seadanya setelah kuliah, lalu menikah.

Dari sini terdapat sekat atau pemisah dalam pertanyaan yang dilontarkan, bawa perempuan borjuis dan proletar itu berbeda. Kecenderungan kaum perempuan masyarakat proletar selalu menduga ‘Ah paling setelah lulus SMA dia menikah’ dalam anggapan tersebut perempuan proletar didomestifikasi dibanding perempuan kaya.

Pendomestifikasian cenderung lebih rentan menyasar pada perempuan dari kelas ekonomi menengah ke bawah seperti saya. Karena alasan ekonomi dan status sosial, maka perempuan miskin seakan-akan juga harus segera menikah guna menunjang kelayakan kehidupannya di saat kelompok kelas atas punya akses untuk sekolah tinggi. Ini cukup memprihatinkan karena menikah dianggap sebagai final solution bagi perempuan masyarakat bawah seperti saya.

Fakta sosial yang berkembang di masyarakat seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih belum bijak dan belum memiliki keadilan akan kesetaraan gender.

Dalam konteks tulisan ini, kontruksi itulah yang sering membuat perempuan kelas menengah ke bawah cenderung terbelenggu dalam dunia patriarki yang tidak ramah gender, seperti akhirnya menyetujui bahwa perempuan kelas bawah tak harus sekolah tinggi-tinggi.

Masyarakat luas kemudian juga seperti memberikan pandangan bahwa perempuan diperankan sebagai ‘konco wingking’ yang berarti teman belakang. Miris bukan anggapan masyarakat luas? Dikira perempuan proletar cukup untuk bisa membaca dan menulis saja. Dalam hal ini perempuan lalu diposisikan di wilayah domestik yakni melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, menyapu, mengurus anak yang dilakukan di rumah tangga.

Pertanyaan tentang status sosial yang merujuk pada status pendidikan tersebut kemudian seperti menjadi teror tersendiri bagi perempuan yang mengalami.

Perempuan disini seperti yang saya alami seperti mendapat tekananan bahwa yang tidak menuntut ilmu tinggi dianggap tidak diakui keberadaannya. Padahal ada banyak alasan mengapa perempuan tak bisa menuntut ilmu yang tinggi. Teman-teman saya, tak bisa sekolah tinggi karena kemiskinan yang mereka alami, namun bukan berarti mereka pasrah. Mereka bekerja keras, belajar keras karena ilmu tak hanya bisa diraih melalui bangku sekolah, namun dari beragam tempat

Dan tidak pada tempatnya juga ketika menempatkan penghormatan perempuan pada status pendidikannya atau status sosialnya, karena sejatinya penghormatan pada manusia bukan pada status kelasnya

Jadi, jangan ada lagi pertanyaan: sekolah dimana kamu? Bisa sekolah tidak? Karena itu artinya kita tidak memberikan respek pada yang dikerjakan orang lain. Dan saya percaya, semua tempat adalah guru, semua ruang adalah tempaan untuk belajar

Saya berharap dengan ini, lebaran tahun ini akan baik-baik saja, tidak membuat berdebar-debar dan tak usah menjawab dimana kami semua sekolah

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ravika Alvin Puspitasari, perempuan yang berasal dari sebuah Kabupaten yang terkenal dengan tanah kelahiran Presiden pertama Indonesia, Bung Karno. Kesibukan saat ini kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Aktif menulis di Lembaga Institute For Javanese Islam Research dan saya tertarik pula dengan isu-isu gender yang sedang berkembang saat ini.