Phoolan Devi, Bandit Queen Pembela Perempuan dan Kelompok Minoritas

*Muhammad Muzaqi- www.Konde.co

Mari kita buka tulisan ini dengan ungkapan dari seorang perempuan muda di Afghanistan, “Mereka hanya bisa menembak tubuh, tapi tidak bisa membunuh impian,” begitu ujar Malala Yousafzai suatu waktu.

Ungkapan itu memberikan makna, bahwa impian seseorang tidak akan pernah bisa dibunuh, termasuk gagasannya.

Tulisan ini akan mengupas tentang para bandit. Diawali di nusantara, ada sebuah kisah pada zaman kerajaan, terdapatlah seorang bandit yang mempunyai prinsip dan berbalik arah. Sebut saja saat masa kerajaan, salah satu yang terkenal, yaitu brandal Lokayaja. Konon, sosok Lokajaya adalah Sunan Kalijaga atau nama aslinya Raden Said. Lokajaya di kenal sebagai bandit yang mencintai rakyat miskin. Dia gemar merampok untuk dibagikan hasilnya kepada kaum papa.

Lalu bila menengok ke tahun 1970-an, kita pernah mendengar sosok Kusni Kasdut di jajaran teratas bandit Indonesia. Mantan komandan dalam laskar rakyat ini sangat disegani dalam dunia bandit. Sepak terjangnya, diantaranya merampok Museum Nasional Jakarta dengan membawa 11 permata. Sampai penyanyi rock God Bless pun membuatkan lagu “Selamat Pagi Indonesia” untuk melukiskan peristiwa itu.

Sedikit melangkah kedepan. Dengan menempuh jarak sekitar 9.073,9 Km dari tanah air kita menuju ke negeri yang dijuluki Barata. Tempat dewa Siwa dipuja dan perayaan Diwali diadakan. Negeri yang tak lain bernama India. Sebagian budayanya mempengaruhi Indonesia, semisal musik dangdutnya, karinya, martabak dan kain sari.

Di India terdapat bandit yang kemudian menjadi legendaris pada dekade 1980-an. Dia lahir dari kasta terendah dalam susunan kasta yang ada di India, yaitu kasta Dalit. Kasta ini berisi orang yang bekerja sebagai buruh dan pengemis. Nama bandit itu Phoolan Devi.

Perempuan ini berperawakan tegap, dan rambut layaknya gelombang laut. Phoolan Devi punya hati mulia. Lahir sebagai seorang perempuan adalah petaka di kebudayaannya. Saat masih umur 11 tahun Phoolan Devi harus menikah paksa dengan laki-laki yang sudah punya istri. Malangnya, dia dijadikan budak untuk rumah tangga laki-laki itu.

Kebencian Phoolan Devi terhadap laki-laki pun makin menjadi. Terlahir dari kasta rendah kerap membuat Phoolan diperlakukan seperti pekerja seks oleh orang-orang dari kasta tinggi. Malang, suatu waktu ketika ia berhasil kabur dari percobaan permerkosaan laki-laki dari kasta tinggi, namun ia justru dipersalahkan oleh pengadilan desa. Bahkan dia diusir bagai seorang pendosa.

Suatu ketika, ia diambil paksa oleh para bandit. Sang ketua bandit bahkan menjadikannya sebagai budak nafsu. Bandit tersebut dari kalangan kasta atas yaitu kelompok Dhakur. Vikram dari kelompok Malla, adalah salah satu anggota bandit yang kemudian menyelamatkan Phoolan Devi dan membunuh ketua bandit yang sedang menindih tubuh Phoolan.

Saat itulah, Phoolan manjadi ratu bandit bersama Vikram. Phoolan kemudian menuntut keadilan atas perlakuan yang terjadi pada tubuhnya selama ini. Ia kemudian membunuh 22 orang laki-laki yang dulu telah melecehkan atau memperkosanya. Berita pembersihan itu membikin gempar masyarakat di India, tepat di hari Valentine tahun 1981.

Phoolan terhitung sebagai perempuan pemberani di masanya. Gara-gara hal ini, Phoolan Devi disebut-sebut sebagai reinkarnasi dari Dewi Durga. Salah satu dewi yang begitu tinggi, di mana sifatnya keibuan di satu sisi dan begitu tangguh di sisi lain.

Phoolan Devi tidak pernah lupa darimana asal kastanya. Pernah merasakan hidup susah, sengsara dan miskin membuat watak kasta rendahnya menancap erat-erat. Kelompoknya, kerap melakukan perampokan di rumah orang-orang kaya, hal itu dilakukan sebagai dasar menolong rakyat miskin, terutama untuk perempuan dan anak-anak.

Karena kerap membuat ketar-ketir orang kaya, pihak otoritas memburu Phoolan dan kelompoknya di berbagai sudut kota maupun desa. Banyak anggotanya mati di ujung pistol penguasa. Karena tak ingin melihat kawan-kawannya terus menjadi korban, Phoolan pun menyerahkan diri, dengan syarat agar anak-anak di India diberikan pendidikan gratis.

Syarat tersebut membuat sosok Phoolan mulai mendapat tempat tersendiri di hati banyak orang. Simpati rakyat mulai muncul, cap bandit mulai memudar. Ia pun dipenjara pada tahun 1983 dan bebas di tahun 1994. Saat kebebasannya, Phoolan Devi giat membela kaum miskin India.

Dua tahun setelah kebebasannya, Phoolan Devi mencalonkan diri menjadi anggota parlemen melalui Partai Samajwadi (Partai Sosialis). Bahkan dua kali Phoolan Devi pada tahun 1996 dan 1999, terpilih menjadi anggota parlemen dan menjadi oposisi pemerintah yang didominasi Partai BJP.

Sebagai anggota DPR, Phoolan sangat lantang melakukan aksi-aksinya di luar pemerintahan bersama rakyat miskin. Dia bahkan lebih ganas dalam mencari kesetaraan dan keadilan gender dalam masyarakat yang didominasi laki-laki, dimana penindasan dan eksploitasi perempuan sangat banyak terjadi. Melakukan kampanye-kampanye untuk pendidikan anak-anak secara gratis dan perlindungan terhadap perempuan adalah pekerjaan Phoolan Devi yang tak ada habisnya.

Namun nasib buruk akhirnya tetap menimpanya. Sisa geng Dhakur yang anggotanya pernah dibunuhnya rupanya menaruh dendam. Suatu hari mereka mengarahkan pistol kepada Phoolan Devi saat sedang berada di rumah. Phoolan tertembak, lantas meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Juru bicara Partai Samajwadi manaruh curiga adanya unsur kesengajaan. Menuduh partai BJP mempunyai peran dalam pembunuhan tersebut.

Demonstrasi besar-besaran pun terjadi saat kematian Phoolan Devi di Uttar Pradesh, daerah terpadat di India, dan wilayah politik utama. Sosoknya di kenang sebagai jelmaan dewi dan juga penyelamat kasta rendah yang mencoba mengangkat harkat dan martabatnya. Phoolan meninggalkan banyak amal. “Bandit Queen”, itulah film yang mengisahkan tentang Phoolan Devi, sang ratu bandit pembela rakyat miskin.

Dari menderita, menuju bangkit melawan. Kisah Phoolan adalah kisah lapisan terbawah di sebuah negeri yang mencoba mencari jalan perlawanannya. Bisa jadi mulanya salah. Di India, negeri dengan julukan Barata, pendidikan anak-anak dan perempuan mulai diperhatikan lebih dari sebelumnya. Sesuatu yang dulu diimpikan Phoolan.

(Foto: Wikipedia)

*Muhammad Muzaqi, aktivis perburuhan. Tulisan ini merupakan bagian kerjasama www.buruh.co dan www.Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email