Film Ammonite, Cinta dan Pengetahuan Yang Tersembuyi Dalam Hidup Mary Anning

Ammonite, film yang dibintangi oleh dua perempuan, Kate Winslet dan Saoirse Ronan tak hanya bercerita tentang kehidupan seorang paleontolog atau penemu/ peneliti fosil, tetapi juga perasaan cinta tersembunyi yang dirasakannya

Film drama Ammonite karya Francis Lee yang baru diliris bulan September 2020 lalu, disambut hangat oleh penonton umumnya. Ada dua sisi yang mencoba dipotret dalam film ini, tentang perempuan paleontolog atau penemu/ peneliti fosil yang namanya cepat dilupakan, dan perasaan cinta yang dirasakannya

Film ini mengangkat kisah hidup seorang paleontolog terkemuka, Mary Anning (Kate Winslet). Film menggaris bawahi peran perempuan dalam kemajuan ilmu-pengetahuan yang sering disepelekan, atau bahkan dilupakan.  

Mary Anning adalah penemu kerangka Ichthyosaurus (sejenis dinosaurus reptil laut) di Britania Raya. Ia lahir dan besar di Lyme Regis, desa kawasan pesisir selatan, pada 1799. 

Berasal dari keluarga pekerja, ayahnya adalah seorang tukang kayu pembuat lemari, dan sering mengumpulkan kerang-kerangan dari pantai untuk dijual ke turis guna menambah penghasilan keluarga. Dari ayahnya tersebut, Mary belajar banyak hal. Sayangnya, sang ayah meninggal saat Mary masih remaja, sehingga Mary harus bekerja menopang ekonomi keluarganya.

Mary juga menemukan kerangka utuh Plesiosaurus, yang adalah temuan pertama di Britania Raya (dan juga dunia). Temuan-temuannya kemudian punya peran penting dalam pemikiran ilmiah tentang kehidupan prasejarah.

Sebab pada masa tersebut, beberapa tahun sebelum terbitnya buku On the origins of species (tentang asal-muasal spesies) karya Charles Darwin (1859), orang kebanyakan tidak percaya akan adanya binatang prasejarah yang punah.

Perempuan dalam ilmu pengetahuan

Pada masa Mary hidup, sepanjang awal abad ke-19, perempuan tidak punya kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai segi kehidupan ekosospol, termasuk juga dalam dunia akademis. Perempuan tidak punya kesempatan belajar lebih dari sekolah dasar. Baru pada 1868, perempuan diperbolehkan masuk kampus ikut kuliah di Inggris – ini dua dekade lebih setelah Mary meninggal dunia!  

Dalam situasi demikian, Mary tidak diterima dalam dunia akademis masa itu yang masih misoginis. Padahal, temuan-temuannya diakui penting dan malah mengguncang sendi-sendi ilmu geografi, zoologi dan studi fosil. Mary tidak memperoleh pengakuan yang selayaknya dan sialnya, temuan-temuannya justru malah banyak dipergunakan oleh akademisi (laki-laki) untuk mendongkrak karir mereka sendiri. Para akademisi (laki-laki) itu sering memberi kuliah atas temuan-temuannya tersebut tapi enggan menyebut ataupun malah menutupi fakta bahwa Mary adalah penemunya.   

Baru sepanjang abad ke-20, ada banyak kajian atas pentingnya temuan-temuan fosil yang ia kumpulkan, sehingga ia mulai diapresiasi dan diakui sebagai salah seorang peletak dasar palentologi modern. Sejak itu pula, kisah hidup Mary Anning menjadi cukup dikenal luas, terutama di Inggris. Kisahnya juga jadi bacaan bagi anak-anak/ remaja umumnya.

Ia lalu menjadi salah seorang simbol atau ikon perempuan dalam ilmu pengetahuan.

Tafsir atas kehidupan pribadi

Namun, ada banyak sisi dari kehidupan Mary yang masih belum kita ketahui. Ini karena kurangnya catatan-catatan yang ada atau tersisa. Dan masih banyak hal yang memang tertutup atau ditutup-tutupi karena adanya tabu sosial. Hal inilah yang menjadi awal pijakan film Ammonite.

Dalam hidupnya, Mary yang harus membiayai ekonomi keluarganya kemudian bertemu seorang laki-laki yang meminta Anning untuk merawat istrinya, Charlotte Murchison (Saoirse Ronan). Sejak pertemuan dengan Charlotte itulah, film Ammonite kemudian menawarkan sebuah tafsir atas kehidupan Mary yang masih terselubung tersebut, terutama tentang kehidupan seksualnya. Mary digambarkan memiliki hubungan yang sangat intim dengan perempuan. Kisah asmara ini menjadi tema dasar film sehingga banyak adegan detail tentang hidup pribadi Mary, yang selama ini tidak diketahui publik.

Bagi penonton (Inggris) yang umumnya sudah kenal cerita tentang Mary, tafsir atas sisi kehidupan pribadi yang diangkat film ini tentu lumayan mencengangkan. Sebagai tafsir, kisah ini tentu tidak sepenuhnya didasarkan kenyataan.

Dari segi tema cerita, film Ammonite juga bisa dianggap mirip dengan film Portrait of a lady on fire karya sutradara Céline Sciamma (2019), yang menggambarkan hubungan asrama yang membara dalam hubungan sesama perempuan. Apalagi, kedua film juga mengambil latar kehidupan abad ke-19, saat perempuan di Eropa mulai tampil dalam berbagai segi kehidupan sosial politik.

Namun dari segi teknis skenario dan sinematografi, film Ammonite dirasa masih kurang dibanding film Portrait of a lady on fire. Film Portrait of a lady on fire yang juga lebih unggul dari segi penceritaan. Misalnya, di dalam film Portrait of a lady on fire, para tokoh laki-laki tidak punya nama (setidaknya nama mereka dianggap tidak penting) dan hanya berperan sebagai figuran. Juga, hubungan antar sesama perempuan digambarkan lebih dinamis.

Terlepas dari kekurangan tersebut, film Ammonite adalah sebuah film yang layak ditonton dalam melihat pengalaman perempuan di dalam dunia akademis/ ilmu pengetahuan. Mary dari seluruh film ini adalah gambaran tentang perempuan yang mandiri dan berani menjadi dirinya sendiri, meski tidak memperoleh pengakuan akademis yang selayaknya.

Film ini juga menggelitik kita untuk menelisik lebih jauh peran perempuan Indonesia dalam ilmu pengetahuan secara umumnya. Sejarah kita masih belum adil mengakui peran mereka. Termasuk juga atas kehidupan pribadi mereka yang mungkin masih ditutup-tutupi.

(Foto: IMDb)

Jafar Suryomenggolo

Jafar Suryomenggolo

Menetap di Paris, Perancis

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email