Selamat Tahun Baru, Ini Masih Pandemi dan Kita Tidak Bisa Kemana-Mana

Kami yang biasanya sibuk dengan rutinitas liburan: membawa ransel naik gunung, berlari ke pantai, camping di udara segar, kali ini tidak bisa kemana-mana. Saya penasaran, apa yang dilakukan para perempuan di masa liburan dalam situasi pandemi?

Sebagai masyarakat urban, pulang ke rumah ibu atau pulang kampung adalah saat yang sangat saya tunggu. Begitu juga dengan teman-teman saya yang lain!

Salah satu teman saya, Lita, selalu mempersiapkan pulang kampung dengan persiapan secara khusus: mau pulang bawa oleh-oleh apa? Mau berapa hari ini disana? Berapa banyak cuti yang harus diambil? Baju apa saja yang harus dimasukkan koper? Bagaimana dengan tiket?

Sebulan sebelumnya biasanya Lita sudah beli tiket, sudah merencanakan nanti mau pergi kemana. Sebagai backpacker, dia juga pasti sudah cari penginapan untuk ajak jalan ibu dan adik perempuannya. Petualangan pulang kampungnya selalu seru!

Pulang kampung memang selalu menyita perhatian para urban, apalagi yang sepi sendiri hidup di kost yang sempit di tengah kota. Atau yang tinggal di rumah kontrakan seperti Lita, atau KPR sempit 4L: Loe Lagi, Loe Lagi. Pulang ke rumah dan keluar dari rutinitas di kamar, ini yang paling ditunggu!

Tapi pandemi ini membuat banyak orang tak bisa membuat melakukan ini. Ada yang pulang dengan segala persiapan khusus: tes Swab untuk memastikan semua baik-baik saja, ada yang memilih tinggal di rumah saja.

Banyak yang bilang kondisi ini sebagai bad holiday atau ada yang bilang: ini liburan paling ‘kreatif’ karena harus di rumah aja, menyibukkan diri dengan memasak, membuat vlog, baca buku dan nonton film yang banyak

Saya penasaran untuk mencari tahu: apa saja yang dilakukan para perempuan di masa liburan pandemi ini?

“Aku memutuskan untuk tidak pulang, sedih, tapi lama-lama sudah terbiasa, karena kan sudah sering hidup sendiri dan tidak bisa pulang. Banyak hal yang lebih menyedihkan dari ini sebenarnya, jadi sebenarnya pekerjaan rumahnya adalah keluar dari situasi sulit.

Yang aku lakukan di apartemen, ya, bersih-bersih rumah, mengerjakan pekerjaan kantor dan telp teman, karena khan sulit juga ya bertemu teman di saat pandemi. Lalu aku biasa buka laptop dan nonton tv. Sedih, tapi bersyukur saja karena bisa melalui banyak masa sulit.

Salah satu hal sulit yang aku lakukan di tahun ini yaitu, aku pernah kena Covid-19, jadi ini kayak alarm yang membuatku harus hati-hati untuk pergi, segala sesuatu juga harus direncanakan. Jadi buatku, enjoy saja dan bersyukur saja dengan kondisi saat ini walaupun liburan di apartemen saja.”

(MJ Puspitawati, bekerja sebagai konsultan, Jakarta)

“Liburan Natal ini walau pengin banget pulang ketemu ibu dan adikku, sedih, tapi aku gak bisa pulang. Lalu aku dan teman-teman membuat acara makan malam dirancang bareng teman-teman yang tak bisa pulang, biar membuat suasana Natal dan liburan ini jadi berbeda, jadi tetap saja aku punya acara bareng teman biar suasananya berbeda.”

(Vivi Widyawati, Aktivis Perempuan, Jakarta)

“Tidak bisa pulang pasti ya, karena sedang belajar. Kalau ditanya sedih atau tidak, sedih banget gak ketulungan, gak bisa diceritain gimana sedihnya. Bahkan yang ada dalam pikiranku cuma: pulang, pulang, pulang. Tapi mana bisa? Akhirnya di kamar saja, buka laptop, nonton film, telp keluarga dan teman-teman di Indonesia.”

(Mita, sedang sekolah di Inggris)

“Tidak bisa pulang, ini yang bikin sedih banget, tapi tertolong sih, ketika ngadain zoom meeting ibadah Natal, membuat zoom meeting tahun baruan bareng keluarga dan teman-teman, lumayan, ini bisa ngobatin rasa kangen. Jadi, berterimakasihlah sama teknologi, ahay!”

(Mutiara, pekerja kreatif, tinggal di Bandung)

Liburan kali ini aku memutuskan pergi ke Bali sama 2 orang temanku. Kami memilih keluar Jakarta di akhir tahun karena sebagai perantau, sumpek dengan suasana Jakarta. Selama ini, 10 bulan lamanya, kami menghabiskan waktu di rumah karena kebijakan work from home dari kantor. 10 bulan itu pula saya harus bolak-balik ke psikolog karena stres tinggal 10 bulan di ruangan kecil di Jakarta. Meski begitu, saya ke Bali hanya untuk refreshing, ganti suasana dan banyak menghabiskan waktu di penginapan saja. Sebelum ke sini, memilih untuk PCR dan selama berlibur juga melakukan tes Swab antigen beberapa kali untuk memastikan kondisi. Kemana-mana pakai masker dan bawa handsanitizer, memilih tempat yang sepi dan enggak banyak orang.

Rencana liburanku yang enggak kesampaian, ya, pulang kampung. Saya memutuskan untuk tidak pulang karena orangtua meminta untuk tidak pulang. Rasanya sedih karena usia ayah di atas 65 tahun dan punya sakit komplikasi, jadi takut pulang, enggak bisa kumpul keluarga di Natal dan Paskah. Stres juga. Beberapa kali ke psikolog walaupun antriannya juga minta ampun banyaknya

(Renata, pekerja media, Jakarta)

“Liburan kali ini Belanda sedang memberikan aturan yang ketat sekali karena ada varian baru virus Covid-19, maka kami semua tinggal di rumah. Jika keluar, maka hanya menemani anakku naik sepeda dan olahraga, tidak lebih dari itu karena semuanya harus dikerjakan dari rumah. Biasanya jika liburan, kami selalu pergi ke suatu tempat baru atau aku pulang ke Indonesia, tapi kondisi kali ini, tidak  bisa kemana-mana. Jadi hanya keluar olahraga dan naik sepeda saja. Di rumah aku kasih kesibukan ke anakku untuk bermain, menggambar dan mengajaknya mengerjakan tugas bersama-sama. Rutinitas libur ini tidak ada bedanya dengan keseharian kami di masa Covid-19.”

(Nona Mariska, Belanda)

Mungkin ini yang disebut liburan ‘kreatif’, harus bisa meminimalisir rasa sakit, kesepian, keinginan untuk pergi, dan menggantinya dengan hal-hal baru yang menyenangkan. Memang beginilah situasinya!

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email