Tubuh LGBT: ‘Sempurna’ Atau ‘Tidak Sempurna’ Stop Menghakimi

Pilihan LGBT dalam mengekspresikan identitas gender dan seksualitasnya, baik melakukan operasi dan suntik hormon ataupun tidak, semestinya harus diapresiasi, jangan justru dihakimi. Pilihan yang mereka ambil dengan penuh kesadaran itu menunjukkan strategi dan daya tahan atau resiliensi LGBT dalam bernegosiasi dengan heteronormativitas

“Belum suntik hormon dan operasi, apakah saya tetap transpuan?”, begitu kurang lebih pertanyaan seorang transpuan yang saya baca di sebuah media

Membaca pertanyaan itu, saya merasa tergerak untuk menuliskan artikel ini. Bukan tanpa alasan. Saat ini, saya sedang menyelesaikan sebuah penelitian tentang pengalaman kebertubuhan seorang transmen Muslim.

Apa yang saya teliti ini barangkali bisa memberikan sedikit sumbangan gagasan bagi keresahan yang dirasakan oleh sang pemberi pertanyaan. Meskipun demikian, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak mengidentifikasi diri saya sebagai seorang transgender, sehingga analisis saya di dalam tulisan ini tidak menutup kemungkinan bisa menghadirkan bias.

Dalam penelitian yang saya lakukan, saya menjadikan disertasi milik Benjamin Daniel Hegarty, seorang peneliti pada isu gender asal Australia, sebagai salah satu referensi penting. Dalam disertasinya, Hegarty mencetuskan konsep becoming incomplete (menjadi tidak sempurna).

Disertasi tersebut merupakan studi etnografi dan analisis sejarah pada masa Orde Baru (1967-1998) tentang pengalaman kebertubuhan waria atau transpuan (male-bodied feminity) di Indonesia.

Hegarty memulai studi tersebut dengan sebuah kritik terhadap pandangan Barat (western imaginary) yang membayangkan waria atau transpuan di Indonesia berada pada posisi inferior, seperti identitas seksualitas mereka mengalami diskoneksi dengan pikiran dan jiwanya.

Untuk membuatnya tidak lagi terdiskoneksi, orang Barat mengimajinasikan transgender perlu membentuk tubuhnya secara ‘sempurna’, yaitu dengan melakukan operasi alat kelamin serta berbagai terapi dan suntik hormon sebagaimana yang dilakukan oleh transivitas di Thailand (Thai lady boy).

Dengan merekam subjektivitas dan pengalaman kebertubuhan transpuan dalam konteks kehidupan sehari-hari (day-to-day lives), Hegarty menunjukkan bahwa transpuan di Indonesia membayangkan kebertubuhan yang ‘sempurna’ bukan dengan mengubah identitas seksnya (jenis kelamin) atau melakukan serangkaian terapi dan suntik hormon—sebagaimana yang dibayangkan oleh banyak pemikir Barat. Di Indonesia, kebertubuhan transpuan ‘sempurna’ justru menekankan pada performativitas gender atau tampilan ekspresi gender dan seksualitas yang visible (desire for visibility).

Visualitas tersebut diekspresikan oleh transpuan melalui dandan (déndong), yaitu mendandani tubuhnya. Hal itu merupakan puncak dari pengalaman kebertubuhan transpuan. Artinya, Hegarty memandang bahwa kebertubuhan waria tidak melulu harus sesuai dengan bayangan Barat yang dinilai perlu mengubah tubuhnya secara sempurna (becoming complete), melainkan cukup dengan menjadi ‘tidak sempurna’ (becoming incomplete) lewat déndong,dll.

Berbeda dengan Hegarty, penelitian saya tentang pengalaman kebertubuhan transmen Muslim justru menunjukkan hal yang berkebalikan. Subyek penelitian saya menyatakan bahwa untuk menjadi seorang laki-laki ‘sempurna’, ia harus mengubah fisiknya secara ‘sempurna’ pula  (becoming complete). Hal itu sebagaimana yang diimajinasikan oleh Barat dan masyarakat heteronormatif kebanyakan, yaitu laki-laki harus memiliki tubuh maskulin. Ia pun melakukan serangkaian operasi hingga suntik dan terapi hormon dalam rangka menubuhi identitasnya sebagai seorang ‘laki-laki sempurna’.

Sekilas, saya memandang hal itu sebagai bentuk inferioritas. Ia seolah terjebak pada standar-standar heteronormatif yang selama ini coba untuk dia lawan dengan menggunakan perspektif queer. Dalam artian, perspektif queer menolak berbagai oposisi biner, monolitik, dan patologis sebagaimana yang terkandung di dalam logika heteronormatif. Sebagai seorang queer, subyek penelitian saya juga melawan hal itu. Namun, pada akhirnya, dia seakan juga terperangkap di dalam norma heteronormatif yang coba dia lawan. Hal itu terlihat dari imajinasi dia dalam membayangkan bentuk ‘laki-laki sempurna’ yang ia sesuaikan dengan logika heteronormatif. Ia juga seolah terjebak pada definisi-definisi Barat dalam membayangkan kebertubuhan transgender yang dianggap perlu untuk menjadi ‘sempurna’ (becoming complete).

Di sisi lainnya, saya juga melihat bahwa jika hal itu dapat disebut sebagai sebuah keterjebakan, maka keterjebakan itu merupakan suatu hal yang dia lakukan dengan sengaja dan penuh kesadaran. Artinya, ia sengaja menjebak dirinya pada heteronormativitas untuk bernegosiasi dengan situasi sosial, budaya, agama dan politik di sekitarnya.

Dengan mengubah tubuhnya menjadi ‘laki-laki sempurna,’ ia ingin menghindari berbagai praktik kekerasan seksual yang selama ini kerap ia alami—salah satunya adalah ketika ada tragedi peremasan payudara untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang perempuan. Ia juga sangat mengilhami ajaran sufisme Islam klasik tentang “man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” yang berarti “barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan-nya.”

Ia percaya bahwa mengubah tubuhnya, melalui serangkaian terapi dan operasi, akan memberikannya kebahagiaan, ketenangan batin, dan menebus segala luka yang pernah dia alami di masa silam. Hal itu juga menjadi bentuk kejujuran dan pengakuannya atas kondisi gender dan seksualitasnya serta untuk menerima kebesaran Tuhan.

Gagasan yang dicetuskan oleh Hegarty (tentang becoming incomplete)dan gagasan yang saya kemukakan di dalam penelitian saya (tentang becoming complete) menunjukkan adanya kepelbagaian queer dalam mengimajinasikan pengalaman kebertubuhannya. Saya berpendapat bahwa keduanya bukanlah sesuatu yang perlu untuk dipertentangkan: perlukah transgender mengubah identitas seksnya? Perlukah transgender melakukan terapi dan suntik hormon? Apakah mengubah visualitas tubuh transgender lewat déndong saja sudah cukup? Apakah seseorang dapat disebut sebagai transgender sekalipun tidak mengubah tubuhnya sedemikian rupa? Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut saya, tidak memiliki jawaban yang pasti dan ideal.

Karena baik becoming complete maupun becoming incomplete, keduanya sama-sama menunjukkan adanya subjektivitas, bentuk resiliensi, dan bekerjanya agensi di dalam diri seorang queer.

Hal itu penting untuk dilihat, sebab setiap queer memiliki subjektivitas dan hidup di dalam setting sosial, budaya, agama, dan politik yang berbeda-beda. Pilihan untuk menjadi ‘sempurna’ (becoming complete) maupun menjadi ‘tidak sempurna’ (becoming incomplete), dengan demikian,perlu disesuaikan dengan situasi yang sedang mereka hadapi.

Kedua pilihan itu seharusnya juga tidak lagi menjadi soal, sebab keduanya tetap menekankan adanya kapasitas seorang queer untuk bernegosiasi dengan norma heteronormatif.

Oleh sebab itu, strategi setiap queer dalam mengekspresikan identitas gender dan seksualitasnya—baik melakukan operasi dan suntik hormon ataupun tidak—semestinya perlu diapresiasi, jangan dihakimi. Alasannya, pilihan yang mereka ambil dengan penuh kesadaran itu menunjukkan strategi dan daya tahan (resiliensi) mereka dalam bernegosiasi dengan heteronormativitas.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay) 

Abdullah Faqih

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email