Sebut Perempuan Cerewet Dan Banyak Ngomong; Meminggirkan Pemikiran Perempuan

Jika ada perempuan yang banyak bicara, selalu dianggap cerewet. Sedangkan laki-laki yang banyak bicara dianggap sebagai cowok cool dan keren. Tahukah kamu, bahwa stigma ini telah meminggirkan pengalaman dan pemikiran perempuan

Selain suka bergosip, ada lagi stereotype yang dilekatkan pada perempuan, yaitu sebagai perempuan cerewet

“Ah, kamu cerewet seperti perempuan saja.”

“Ih, mulutnya seperti mulut perempuan”,

“Bermulut banyak seperti perempuan saja”

Tentu saja orang sudah sering mendengar lontaran kalimat-kalimat itu, bahkan sejak saya kecil. Jadi jika ada yang banyak bicara, selalu disebutnya: mulutnya kayak perempuan. Seolah-olah jika banyak ngomong itu buruk dan mulut perempuan itu selalu jelek.  

Jika kita lihat, padahal penyebab semua ini adalah budaya dan pemikiran yang selalu menyudutkan perempuan. Jika perempuan banyak bicara, stereotype atau stigmanya itu adalah perempuan buruk dan dianggap ambisius. Padahal laki-laki yang punya ambisi selalu dianggap bagus, keren.

“Wajar kalau laki-laki banyak ambisi, khan dia laki.”

Sejak kapan cerewet itu dianggap buruk dan perempuan selalu dikonotasikan sebagai orang yang cerewet? Kalau saya lihat, cerewet itu identik dengan banyak ngomong, suka mengganggu, merepotkan. Dan konotasi inilah yang dilekatkan pada perempuan: sebagai orang yang banyak ngomong dan pengganggu

Idiom inilah yang kemudian dipercaya, jadi jika ada perempuan punya pemikiran berbeda atau pendapat yang beda, maka akan dianggap sebagai perempuan yang aneh pemikirannya dan terlalu banyak ngomong

Seringkali juga ketika ada perempuan yang banyak bertanya, malah dianggap ini sebagai keingintahuan yang terlalu tinggi, jadi ini dianggap ribet. Selain dianggap ribet, perempuan yang banyak bertanya juga kadang dianggap sok tahu, sok pinter, padahal kalau dipikir lagi, jika ada orang yang bertanya, pasti itu karena dia pengin tahu, kan?

Tapi kenapa ya, laki-laki yang banyak bicara kenapa malah dianggap sebagai cowok pintar, keren, cool. Giliran perempuan banyak bicara, dianggap sebagai penggosip, dan distigma sebagai penggunjing.

Konstruksi patriarki juga menumbuhkan bermacam macam standarisasi seperti perempuan harus dituntut untuk menjadi ibu yang mengajari anaknya bicara, mengajari anaknya berpendapat, mengajari anaknya supaya aktif, harus sempurna tanpa cela. Tapi ketika ia berpendapat di tempat lain, dianggap sebagai penggosip

Itu adalah salah satu contoh bagaimana dunia ini sudah sering menafikan pemikiran perempuan dan pengalaman perempuan. Karena dalam feminisme, perempuan tak hanya berpikir ketika bicara sebagaimana yang dilakukan para laki-laki, namun perempuan sudah melakukan, sudah melakukan tindakan real, nyata karena tindakan nyata ada dalam kehidupan perempuan setiap harinya. Jadi ketika perempuan bicara, itu adalah kenyataan yang ia alami setiap hari

Pengalaman perempuan inilah yang selama ini tidak disebut sebagai kenyataan; karena kenyataan, yang real selalu disebut sebagai milik laki-laki.

Dalam feminisme, kesadaran dan pemikiran perempuan selalu ditarik dari partisipasi kehidupan sosial perempuan. Pengalaman perempuan ini seringkali ditolak sebagai sesuatu yang real dan penting. Para feminis menaruh perhatian banyak soal pengalaman perempuan selama ini, karena pengalaman hidup personal perempuan adalah politik.

Bagi perempuan, pengalaman, reaksi emosional seringkali merupakan landasan pemikiran kritis. Para antropolog feminis telah lama memperjuangkan ini bahkan berupaya bagaimana mengetengahkan pengalaman perempuan dari berbagai budaya sebagai sebuah pengalaman dan tindakan politik penting yang sudah dilakukan perempuan selama ini

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak, Anggota Tim Cemeti dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email