Banyak Yang Meninggal Di Masa Pandemi; Bagaimana Menerima Kondisi Ini?

Di masa pandemi ini, cerita tentang orang yang meninggal berseliweran setiap hari. Semua seperti teror yang tak pernah pergi. Bagaimana cara melepaskan dan menerima kondisi sulit ini?

Semua seperti teror yang kerap datang  ketika mendengar orang yang meninggal di masa pandemi ini. Seminggu lalu mau ketemu batal, ternyata seminggu kemudian ia telah sakit dan meninggal. Sebulan lalu ketemu di tempat makan, sebulan kemudian mendengar kabar bahwa dia telah meninggal kemarin pagi.

Cerita ini lalu-lalang tiap hari di wall sosial media beberapa teman.

“Jangan nangis terus, nanti ‘jalannya’ berat!”

Perkataan itu terngiang-ngiang di telinga Niken. Ia tak ingat lagi siapa yang mengatakannya untuk pertamakali. Kegalauan sudah menguasai pikirannya, semenjak mendengar kabar suaminya meninggal.

Bahkan, ketika orang-orang di sekitar silih berganti berkirim pesan maupun meneleponnya untuk menanyakan kabar atau bagaimana peristiwa itu terjadi, Niken tak ingat lagi apa jawabannya kepada semua orang.

Kamu merasa familiar dengan kejadian itu? Mungkin bukan diri sendiri yang mengalami, akan tetapi ketika kita mendampingi seorang sahabat yang sedang kehilangan suaminya, orang tua atau kerabat dekatnya.

Sejak awal 2021, rasa duka tak pernah lelah mewarnai hari-hari kita di bumi Indonesia. Kerabat yang meninggal karena covid-19, wafat karena sakit parah, insiden Sriwijaya Air, bencana alam, tenggelamnya kapal selam Nanggala, lalu disusul berturut-turut dengan wafatnya para pesohor yang kisah hidupnya membuat kita terperenyak termasuk teman yang baru saja kita chat kemarin tahu-tahunya beberapa hari kemudian meninggal. Air mata seperti tak dibiarkan mengering lama-lama.

Kejadian terdekat ketika beberapa waktu lalu, suami dari salah seorang sahabat-sesama orang tua siswa-di Sanggar Anak Alam Yogyakarta, meninggal dunia. Sudah beberapa bulan ini kondisi tubuhnya drop akibat komplikasi pada ginjal. Semua shock dan terkejut. Air mata kami-teman-temannya di WhatsApp Grup tak henti mengalir turun sepanjang malam itu. Terpukul sangat akan kepergian yang mendadak, meninggalkan istri dan kedua putra yang masih pendidikan dasar.

Saya teringat peristiwa di masa lalu. Bagaimana saya, seorang anak SMP menyikapi kematian Papa setelah berjuang 49 hari akibat komplikasi kanker usus yang tak punya alternatif kesembuhan saat itu. Tetiba saya mati rasa, tak bisa bereaksi atas apa yang terjadi. Setelah puas menangis di hadapan jenazah Papa dan mendorong brankarnya menuju kamar mayat, tak ada rasa apapun. Bahkan rasa takut saat memasuki kamar mayat pun tiada, meski ada beberapa jenazah lain di sana.

Ketika menerima para pelayat, saya bagaikan robot yang bergerak fungsional. Baru ketika tombol gas untuk kremasi dinyalakan, isak tangis saya tak bisa dihentikan. Orang-orang boleh berkata untuk tidak menangisi, akan tetapi saya tak peduli.

Kehilangan, apalagi ditinggal mati entah suami, orang tua maupun anak ditenggarai menempati tingkat depresi yang gejalanya serupa gejala gangguan depresi mayor, seperti merasa sedih berkepanjangan, gangguan tidur, gangguan nafsu makan dan menurunnya berat badan. Nancy Schimelpfening seorang administrator support grup penderita depresi mengungkapkan, pada beberapa kasus grief yang ekstrem seseorang bahkan memiliki kecenderungan bunuh diri sama seperti penderita gangguan depresi mayor lainnya. Hal yang memicu keinginan ini malah peristiwa umum seperti ulang tahun mendiang suami, ulang tahun perkawinan, dll yang seketika membuka kenangan pahit musibah yang terjadi.

Menjadi istri yang ditinggalkan suami di beberapa budaya, juga membuka persoalan baru.  Ollenburger dan Moore (1996) menyatakan bahwa kehidupan perempuan yang menyandang status janda sangat memengaruhi psikis dikarenakan perempuan cenderung hidup lebih lama dari lelaki. Perempuan umumnya menikah dengan lelaki yang lebih tua, akan tetapi lelaki yang lebih tua memungkinkan menikah lagi dibanding perempuan tua. Ada norma-norma tidak tertulis yang menentang perempuan tua untuk menikah dengan lelaki yang lebih muda, termasuk norma yang memandang sinis perempuan tua untuk menikah lagi.

Pada kenyataannya, bukan hanya kedukaan yang dihadapi seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, akan tetapi situasi di mana ia dihadapkan tanggapan masyarakat tentang stigma janda yang umumnya negatif. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai perempuan untuk memberikan dukungan kepada sesama perempuan yang menghadapi kehilangan seperti ini.

Bantulah ia melalui fase-fase grieving

Berdasarkan penelitian Elizabeth Kubler-Ross dalam bukunya On Death and Dying fase atau fase kematian yang dibagi dalam lima tahap.

1.Denial

Fase ini memberi waktu sang istri atau seseorang yang kehilangan untuk menerima dan memroses kehilangan. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan diri yang umum dan membuat ia kuat atas intensitas kedukaan yang terjadi.

Contoh ungkapan saat berada dalam fase ini, “Suamiku tidak pergi, ia akan datang dan muncul lagi di sekitarku.”

2.Anger

Ini fase kebalikan dari denial dan menyembunyikan banyak emosi dan rasa sakit di hati seseorang. Tidak selalu kemarahan ini ditujukan kepada mendiang suami, akan tetapi bisa saja ke objek atau orang lain di sekitar.

Ungkapan fase anger, “coba ia lebih menjaga kesehatan, ia enggak akan cepat pergi!.”

Bisa juga kemarahan diarahkan kepada obat-obatan yang selama ini membantu kesehatan mendiang suami, sang istri membuangnya dan berkata,”kamu tak berguna dan tak bisa membuat suamiku hidup lebih lama.”

3.Bargaining

Pada fase ini, sang istri, pasangan atau yang kehilangan berandai-andai bila musibah atau kematian itu tidak terjadi. Bahkan beberapa orang mempertanyakan kuasa Tuhan yang tak mampu menolong saat musibah. Fase ini adalah bentuk pertahanan diri terhadap emosi-emosi yang muncul saat berduka. 

Ungkapan fase bargaining, “coba ia tidak pergi saat itu, tidak akan terjadi kecelakaan tersebut.”

4.Depression

Fase ini diumpamakan fase paling ‘tenang’ dari seluruh proses menerima kehilangan. Pada awal kejadian, mungkin sang istri akan menangis terus menerus, atau sebaliknya berupaya keras mengendalikan emosi yang muncul.

Pada fase ini, ia akan memilih mengisolasi diri dari orang lain untuk mulai menerima kenyataan. Sayangnya fase ini tak selalu berjalan mulus. Pada beberapa orang, keinginan ‘memisahkan’ diri dari dunia, menutup diri dari pergaulan bahkan mengakhiri hidup; terasa lebih baik,  

Bila kata-kata seperti“Bagaimana saya bisa hidup, tanpanya? Apa artinya hidup bila ia tak ada lagi di sisiku,” sudah diungkapkan, amatilah apakah sang istri sudah memerlukan bantuan professional

5.Acceptance

Fase ini bukan berarti seseorang telah melampaui kedukaannya, akan tetapi ia sudah menerima dan memahami apa makna peristiwa tersebut dalam hidupnya. Pandangan tentang kehidupan menjadi berbeda. Akan ada lebih banyak hari baik daripada yang buruk, dan meskipun ada hari-hari buruk hal itu adalah warna kehidupan.

Ungkapan fase acceptance, saya beruntung pernah hidup bersamanya, menikmati kebahagiaan berdua. Kenangan indah itu akan terus terpatri dalam benak dan hati saya.”

Perasaan kehilangan seseorang yang dicintai sangat personal bagi setiap manusia. Tidak semua orang melalui fase yang sama, tidak semua orang perlu bantuan terapi dari ahli, akan tetapi tidak semua orang juga bisa melewati dengan mudah. Beberapa orang bisa melalui proses ini hanya beberapa minggu, akan tetapi orang lain mungkin perlu bertahun-tahun lamanya.

Kehadiran kita sebagai sahabat, offline maupun online di masa pandemi ini akan menguatkannya melalui proses tersebut.

‘Hadirlah’ meski dalam bentuk sederhana, menyapa dan menanyakan kabarnya hari itu. Bahkan pada kejadian teman kemarin, status WhatsApp pun bisa menghiburnya saat ia merasa sendiri. Just do it!

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Ivy Sudjana

Ibu dua anak, blogger dan penulis, anggota Srikandi Lintas Iman dan tinggal di Yogyakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email