Cuma Bisa Berjualan: PRT Kehilangan Pekerjaan Di Masa Pandemi

Saya kehilangan pekerjaan sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di masa pandemi, ini hampir berbarengan dengan suami yang punya nasib yang sama. Saya memutuskan berjualan, dan suami bekerja jadi ojek online untuk menyelamatkan hidup kami.

Ada kejadian yang membuat saya trauma waktu kecil. Waktu itu Bapak belum mendapat pekerjaan sebagai seorang security, Bapak pernah beberapa kali mencoba berjualan. Bapak berusaha berjualan pisang di pasar Manggarai, Jakarta bersama temannya. Ada bermacam pisang yang dijual di kios Bapak waktu itu. Kadangkala kalau pulang dari pasar, Bapak membawa pisang untuk diolah di rumah. Namun itu tak berlangsung lama.

Bapak kemudian berjualan mie ayam keliling. Saya tidak tahu alasannya kenapa Bapak ganti berjualan mie ayam keliling.

Suatu malam ketika Bapak pulang dan saya belum tidur, saya mendengar percakapan Bapak dengan Mamak.

“Gimana Pak jualannya?” tanya Mamak.

“Sepi. Dagangan masih banyak ….”

Nada suara Bapak terdengar lesu. Mendengar itu mataku berembun dengan sendirinya, dan kemudian kuseka pipiku yang basah air mata. Waktu itu umurku sekitar 10 tahun, usia yang cukup untuk bisa merasakan kesusahan yang dialami orangtuaku dalam mencari nafkah.

Pernah juga Bapak berusaha jualan es cendol. Masih kuingat warna cendolnya yang hijau dan merah agak pink. Cendolnya dibuat sendiri, dengan cetakan yang dibuat dari kaleng biskuit Khong Guan besar yang dilubangi. Namun suatu suatu siang Bapak pulang dengan luka-luka pada tubuhnya. Gerobak cendolnya rusak lumayan parah dan ban gerobaknya penyok. Barang yang lain seperi toples dan gelas tak ada lagi. Ternyata Bapak mengalami kecelakaan, sewaktu berjalan medorong gerobak cendol ditabrak metromini. Kejadian ini sangat membuatku trauma.

Mamakku juga sudah pernah mencoba berjualan keliling menjajakan gorengan dan membuat makanan ketan yang dititipkan di warung-warung. Namun itu semua tidak berlangsung lama, karena dagangan Mamak tampaknya tidak laku, agak sulit mencari pembeli dan malah merugi.

Pengalaman buruk yang dialami kedua orangtuaku membuatku trauma, sehingga saya sama sekali tak pernah punya keinginan untuk berjualan atau berdagang. Tetapi pandemi Covid-19 telah menyembuhkan traumaku untuk berjualan.

Berjualan Makanan dan Ojek Online

Mencoba berjualan makanan sebenarnya bukan pilihan pekerjaanku saat ini. Tapi karena suamiku dan aku di PHK karena pandemi, akhirnya aku memilih berjualan.

Padahal sebelum pandemi Covid-19, saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk mencoba mencari uang dengan cara lain selain bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga/ PRT. Saya lebih menyukai pekerjaan yang memberikan kepastian upah, bukan yang sifatnya tidak pasti, misalnya seperti berjualan makanan. Sebenarnya bukan tidak tertarik, tapi takut beresiko karena tidak laku.

Saya merasa usaha mandiri seperti berjualan makanan terlalu besar risikonya. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa berjualan makanan seolah telah menjadi semacam trauma masa lalu. Ya, karena ada kenangan yang sangat tidak mengenakkan buatku dengan dunia wirausaha ini.

Kuputuskan untuk berjualan karena selama ini saya menjadi tulang punggung keluarga, yang harus membayar biaya kontrakan rumah untuk ibu dan kedua adikku termasuk menghidupi mereka. Sementara saya dan suami tidak tinggal bersama ibu saya, melainkan di kamar kos ukuran standar, yaitu 3×3 meter persegi.

Sampai pandemi Covid-19 menerjang, kami bisa bertahan hidup kendati harus menopang kebutuhan hidup Ibu dan adik-adik saya. Pandemi Covid-19 membuat suami saya kehilangan perkerjaan.

Saya masih beruntung tidak benar-benar kehilangan pekerjaan kendati situasi juga tidak menentu. Walaupun kadang menganggur, tapi kadang saya masih diminta datang oleh majikan untuk bekerja di rumahnya, biarpun sering juga tidak ada permintaan alias nganggur. Jelaslah beban hidup jadi terasa sangat berat.

Kami tak bisa hanya berpasrah tanpa berusaha apapun. Kami harus melakukan sesuatu untuk keluar dari kebuntuan ini. Karena hidup kami tetap berjalan, kami harus tetap membayar kontrakan rumah, kamar kos, listrik, makan sehari-hari, juga kebutuhan lainnya. Kami tidak punya keahlian khusus.

Setiap kali membuka Facebook, kuamati isinya, dan banyak tampilan orang jualan. Beberapa orang temanku juga sudah ada yang berjualan menggunakan media sosial. Ada yang jualan baju, sepatu, aksesori, kosmetik, juga makanan selama pandemi ini. Saya pernah memberikan komentar, kalau teman-temanku pada jualan semua, saya jadi bingung mau beli yang mana.

Bukan saatnya saya boleh merasa takut mencoba untuk berjualan. Bukan saatnya memanjakan perasaan trauma. Kebutuhan untuk bertahan hidup harus mengalahkan rasa khawatir berdagang. Gagal atau sukses adalah perkara belakangan, yang penting harus kucoba. Yang penting dalam berdagang ini kami bisa ikut makan.

Kami akhirnya memilih berjualan penganan dan minuman. Karena inilah yang paling masuk akal buat kami. Modalnya kecil dan tidak butuh keterampilan khusus dalam mengolahnya.

Kami memutuskan menjual cilok dan gabin tape singkong yang kami kemas dalam mika plastik serta minuman sehat seperti kunyit asem, beras kencur, dan wedang jahe yang kami kemas dalam botol-botol plastik. Saya belajar sendiri cara membuatnya. Bukan sesuatu yang sulit. Apalagi saya biasa membeli jamu keliling, sehingga saya tahu mana yang rasanya enak dan yang kurang pas di lidah saya. Dulu saya sudah sering membuat jamu untuk saya sendiri daripada beli tetapi dapat yang rasanya tidak pas.

Untuk pertama kali saya memperkenalkan dagangan saya melalui arisan. Sudah umum dipahami kalau zaman sekarang itu acara seperti arisan plus makan-makan itu bisa menjadi tempat promosi yang pas. Kadang saya ikut menawarkan jualan teman seperti biji ketapang atau lainnya.

Pandemi ini membuat kerja-sama diantara kami sekeluarga makin kuat. Kami saling saling bantu, suami membantu membuat dagangan dan mengantar pesanan, demikian juga adik-adik saya.

Jualan saya laku, tetapi pendapatan dari jualan cilok dan jamu ini tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan, karena hasilnya masih harus kupakai untuk belanja bahan mentah makanan dan minuman. Namun, toh cukup menolong untuk makan kami sehari-hari.

Belakangan, karena pekerjaan saya sebagai PRT sudah kembali rutin lagi karena saya banyak dipanggil ke rumah majikan, akhirnya saya hanya melayani pre-order bagi yang memesan saja. Sementara itu suami saya juga sudah jadi tukang ojek, kendati hasilnya juga masih minim.

Di tengah ketidak-pastian ekonomi dan kekhawatiran atas penularan virus Covid-19, harapan saya adalah semoga saya dan keluarga bisa bertahan dalam ketidakpastian ini. Tentu saja kami berharap semoga pandemi segera berlalu, dan keadaan menjadi baik kembali. Saya sungguh berharap semoga ekonomi segera pulih dan suamiku dapat pekerjaan lagi. Sekarang dia memang ngojek online tetapi pendapatannya masih belum mencukupi kebutuhan keluarga.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co dengan Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Ajeng Astuti

Aktif di Sekolah Pekerja Rumah Tangga/ SPRT Sapulidi, Terogong, Cilandak, Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email