Film ‘One Night Stand’: Cinta Butuh Safe Place 

Cinta itu butuh safe place. Jika memang tak cocok, maka ngapain dipaksain menikah. Film ‘One Night Stand’ adalah drama romantis yang berpusat pada kisah Ara dan Lea yang mempertanyakan cinta.

“Loe masih percaya cinta? Atau yang disebut Kek Ruth ‘safe place’… Loe masih percaya?” 

Tanya Lea (Putri Marino) kepada Ara atau Baskara (Jourdy Pranata) saat keduanya berbagi sebotol wine di pinggir pantai. 

Dalam kesempatan itu, Lea juga melontarkan sejumlah pertanyaan lain kepada Ara, termasuk soal safe place. Meskipun pernah dikhianati oleh seorang perempuan yang dicintainya, Ara mengangguk. Ia mengatakan masih mempercayai cinta, sebuah “tempat aman” untuk berbagi cerita.

Film ‘One Night Stand’ adalah drama romantis yang berpusat pada kisah Ara dan Lea. Keduanya terhubung saat Ara datang ke Yogyakarta untuk menghadiri pemakaman Mia, istri tetangga lamanya yang seorang pelukis, Rendra (Tegar Satrya). Lea ditugasi untuk menjemput Ara di bandara. 

Ketertarikan Ara terhadap Lea telah tampak sejak Lea bercerita pernah pergi seorang diri ke Bali dan Sumba selama dua tahun. Ara mengatakan ingin sekali melakukan hal yang sama. Pergi ke suatu tempat begitu saja tanpa banyak pertimbangan dan tidak ada apapun yang membebani pikiran. Pokoknya sekadar melakukan perjalanan.

Di jalan menuju rumah duka, Lea mengatakan bahwa ia mengenal Tante Mia karena bekerja membantunya melukis. Ia juga mengagumi pasangan Ridwan-Mia. Di matanya, keduanya tampak sudah saling mengerti kebutuhan masing-masing. 

Namun kemudian, dari Dimas (Elang El Gibran), anak Ridwan dan Lea, diketahui bahwa Mia sebetulnya mencintai laki-laki lain, Johan (Gilbert Pattihuru), yang hari itu datang pula ke prosesi pemakaman untuk berpamitan. Bahkan menjelang kematiannya, menurut Dimas, Mia masih meminta bertemu dengan Johan. 

Setelah pemakaman usai, Ara mengatakan sedih melihat Ridwan yang menangisi kepergian Mia, sekalipun perempuan itu mungkin tidak benar-benar membalas cintanya. Sebaliknya, Lea merasa tidak perlu mengasihani Ridwan. 

“Om Ridwan justru hebat karena bisa mempertahankan komitmen pernikahan mereka,” begitu kata Lea.

Setelahnya, Ara meminta Lea menemaninya ke resepsi pernikahan kawannya. Lea menyetujui permintaan itu dengan syarat Ara mau ikut dengannya ke sebuah desa. Sebelum keduanya duduk berbincang, kamera sempat menyorot sepasang simbah di desa itu yang duduk berdekatan. 

Kalau Tak Cocok, Tak Perlu Menikah

Lea mengaku hanya tinggal berdua dengan ibunya. Saat usia 12 tahun, ayahnya pergi meninggalkan keduanya. Lea ingat ia sempat diajak bermain di taman oleh sang ayah, sebelum laki-laki itu mengatakan tidak bisa ikut pulang dan berpesan padanya untuk menjadi perempuan kuat. 

Gue pernah nanya sama Ibu, kenapa Bapak pergi. Ibu jawab, karena Bapak nggak nyaman hidup berkeluarga,” katanya. 

Sejak saat itu, Lea tidak lagi bisa menangis. Ia juga berpendapat kalau sebaiknya orang yang merasa tidak cocok menikah, tidak perlu menikah. Tidak perlu punya anak. Kalau memaksakan, mereka berpotensi berakhir seperti ayahnya yang egois, yang memilih pergi begitu saja.

Lea lantas melakukan perjalanan ke Sumba dan Bali seorang diri selama dua tahun untuk mencari tahu seperti apa rasanya hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa teman yang dikenal. Lea ingin tahu, apa yang dicari oleh ayahnya sampai meninggalkan ia dan ibunya. Perjalanan itu dilakukan Lea untuk menenangkan isi kepala dan hatinya. 

Dalam beberapa artikel parenting dan kesehatan, dituliskan bahwa kehilangan ayah dapat berdampak buruk terhadap anak. Anak-anak perempuan pun bisa kehilangan rasa percaya diri karena merasa tak dicintai oleh ayahnya. Namun, sutradara One Night Stand, Adriyanto Dewo cukup berpihak pada anak-anak yang ia ia lakukan melalui tokoh Lea. 

Lea digambarkan sebagai anak perempuan yang telah pulih dari trauma ditinggalkan oleh ayahnya. Karena itu, di dalam film ini ia tampak begitu mandiri, tenang, banyak tersenyum, dan memiliki kesadaran bahwa tidak semua orang harus menikah. Soalnya, pernikahan tidak semudah mengucapkan janji-janji di depan altar. 

Hal menarik lainnya, saat kebanyakan film menghadirkan perempuan dengan make up cukup tebal dan berambut lurus, dalam One Night Stand, Putri Marino hadir sebagai Lea dengan wajah polos nyaris tanpa make up. Putri juga tetap manis dengan rambut pendeknya yang keriting dan mengembang. Meskipun demikian, darah campuran Italia-Bali, membuat kehadirannya belum sepenuhnya mengubah definisi “cantik” yang kerap ditemukan di kebanyakan layar kaca Indonesia: bertubuh langsing, berkulit putih bersih, dan berhidung mancung.

Cinta dan Quarter Life Crisis

Di desa, tempat Lea mengajak Ara berkunjung, keduanya banyak berbincang tentang desa. Setelah perbincangan itu, Ara dan Lea kemudian bertemu dengan teman Ara, Ruth (Ruth Malunu) dan Edo (Edwart Manulu) yang akan menikah. Edo pun bercerita, ia merasa diberi kesempatan kedua saat Ruth datang ke dalam hidupnya yang gelap. Edo menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan, usai perceraian pertama. Di situlah keduanya mendapat istilah bahwa cinta adalah “safe place”

“Seberat apapun masalah kita, kita bisa istirahat di sana,” kata Edo sambil memandang Ruth hangat. 

Malamnya, Ara dan Lea duduk di pinggir pantai berbagi sebotol wine. Lea yang penasaran bertanya kepada Ara mengapa dan kemana ia ingin pergi. Ara bercerita bahwa ia sempat ingin menikah dengan seorang perempuan, tetapi pasangannya berselingkuh saat mereka berada dalam hubungan jarak jauh. 

Ara merasa, selama ini menjadi laki-laki yang selalu menuruti kemauan orang-orang yang dikasihinya. Alih-alih menjalani kuliah seni yang diminatinya, ia mengambil jurusan ekonomi demi membuat orang tuanya senang. Meski berkali-kali dibohongi pasangannya, ia tetap tak bisa menolak saat perempuan itu meminta kembali bertemu. 

Ara pun berencana pulang ke Jakarta keesokan paginya. Namun malam itu, perbincangannya dengan Lea berlanjut ke sebuah bar dan berakhir ke kamar tempat Ara menginap.

One Night Stand sebetulnya menghadirkan isu-isu yang cukup menarik dan relate dengan generasi yang memasuki fase dewasa muda, terutama yang sedang menghadapi quarter life crisis. Film ini hadir saat traveling dan self healing sedang banyak dibicarakan orang. 

Hanya saja, One Night Stand memiliki terlalu banyak dialog panjang yang rawan membuat  penonton bosan. Segalanya diterangkan oleh penuturan tokoh-tokohnya, alih-alih ditunjukkan. 

Di samping itu, film ini mungkin akan terasa lebih dekat dengan kebanyakan orang dewasa muda Indonesia jika permasalahan Lea dan Ara tidak hanya berputar di cinta dan komitmen, tapi juga gaji yang pas-pasan, konflik keluarga, dan rekan kerja atau pasangan beracun. 

Ada juga hal kecil yang cukup mengganggu. Yakni bagaimana Lea dan Dimas berbicara lo-gue dengan lancar tanpa sedikitpun logat Jawa, padahal film ini berlatar tempat di Yogyakarta yang bisa dikatakan sebagai sentralnya orang Jawa. Penggunaan lo-gue ini tak ayal membuat One Night Stand terkesan Jakarta-sentris dan hanya meromantisasi daerah-daerah lain, baik Yogyakarta maupun Bali dan Sumba.

Tetapi sebagai tontonan One Night Stand tet ap menghibur, terutama buat kamu yang sedang mempertanyakan makna cinta.

(Foto: bioskoponline.id)

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email