Lumpuh, Dighosting, Dirugikan secara Materiil: Derita Laura Anna Sudah Berakhir

Laura Anna meninggal dengan sehormat-hormatnya, karena telah memilih untuk melawan ketidakadilan, dan berjuang melalui hari-hari berat dengan tegar.

“Ya saya mencoba jadi lebih baik aja, semua butuh proses, pasti Tuhan kasih kesembuhan,” ungkap mendiang selebgram, Laura Anna saat diwawancarai di podcast Deddy Corbuzier, pada 8 Desember 2021 lalu.

Siapa sangka itu akan menjadi kali terakhir kita melihat raut wajahnya dalam sebuah wawancara. Cara ia menerima proses dalam kehidupannya, kini semuanya hanya tinggal kenangan.

Laura Anna, kini meninggal dengan sehormat-hormatnya, karena telah memilih untuk melawan ketidakadilan, dan berjuang melalui hari-hari berat dengan tegar.

Meninggal di usia yang masih sangat belia, yakni 21 tahun, membuat kaget banyak followersnya di media sosial. Di medsos tidak sedikit publik yang ungkapkan kesedihannya, sebab keadilan belum berpihak pada Laura Anna, hingga kematian menjemputnya.

Laura Anna berpulang pada Rabu (15/12/2021) siang sekitar pukul 09.47 Waktu Indonesia Barat. Sebelum meninggal, Laura sempat dilarikan ke rumah sakit, setelah asam lambungnya naik hingga mengakibatkan gangguan jantung dan paru-paru.

Selama 2 tahun sejak tragedi kecelakaan yang dialaminya pada Desember 2019, ia harus berjuang mengatasi Cervical Vertebrae Dislocation atau dislokasi tulang leher yang cukup parah, hingga menyebabkan separuh badannya lumpuh. Di usianya yang waktu itu belum genap 20 tahun ia harus terbaring di kursi roda.

Perjuangannya mencari keadilan, dibicarakan di hampir seluruh media. Kasus kecelakaan yang dialami Laura Anna membuat ia harus terbaring di atas kursi roda. Meski pengadilan sudah menetapkan Gaga Muhammad (GM), mantan pacarnya sebagai terdakwa.

Laura Anna dikenal sebagai sosok humoris, sempat menceritakan bagaimana kondisinya pasca kecelakaan pada podcast Deddy Corbuzier. Dalam talkshow berdurasi 40 menit itu, Laura Anna bercerita, bahwa hal yang paling mempengaruhi kondisinya adalah mentalnya. Ia mengaku, hubungannya yang toxic sempat memperparah kondisinya.

Dalam kesempatan itu, ia berbagi cerita, bahwa hubungan toxic yang sempat ia jalani dengan mantan pacarnya, GM, kerap membuat ia kelelahan secara mental, padahal menurutnya di saat seperti itu harusnya pasangan bisa menjadi support system yang baik. 

“Pas mas Deddy sakit siapa yang paling dibutuhin? Gitu juga saya, kan ya saya juga mikir pada saat itu, ‘aduh ini kedepannya gimana? saya butuh dia, tapi gak ada,” ungkap Laura.

“Padahal saya sebisa mungkin saya support mental dia, tapi malah saya yang dihancurkan mentalnya,” imbuhnya. 

“Ini enggak, seminggu setelah kecelakaan dia ngilang,” lanjut Laura bercerita pada Deddy.

Cidera yang dialami Laura tak main-main, 3 bulan ia harus berbaring di atas tempat tidur, pasrah dengan keadaan, tak bisa bergerak sama sekali. Dokter yang menangani bahkan sempat menjelaskan bahwa 1000 banding satu kemungkinan ia bisa sembuh total. 

Keanehan hubungannya dengan GM makin terlihat kala Laura tengah menderita. “Sejak kecelakaan itu jadi sering berantem, tapi nanti kalau berantem aku lagi yang nyariin dia, yang bilang kayak ‘bi don’t leave me, i need you’ gitu,” terang Laura menirukan mimik dirinya sendiri ketika berhadapan dengan GM

Pacar Toxic Gak Guna

Hubungan toxic makin ia sadari sejak tragedi kecelakaan itu. Mulanya Laura berfikir bahwa itu hanya upaya GM untuk menyembuhkan diri sendiri, yakni dengan menghilangkan diri. Namun, Laura harus berhadapan dengan ghosting dan manipulasi ekonomi oleh pacarnya sendiri.

“Ini gak keliatan gitu itikad baiknya, malah ngilang, saya ditinggalin 2 minggu setelah kecelakaan, makin sering berantem juga,” terang perempuan bernama lengkap Edelenyi Laura Anna ini.

GM juga sempat dikabarkan berbohong tentang donasi yang pernah ia selenggarakan atas nama Laura.

“Kalau buat donasi emang iya, emang iya, uangnya ke saya itu dari temen-temen saya, tapi dia juga bilang ke temen-temen saya kalau dia juga transfer 10 juta ke saya, tapi gak ada, saya sampe tanya untuk mastiin apakah itu benar, ini saya bisa bilang begini karena saya punya bukti ya,” kata Laura.

Pada kesempatan wawancara itu Laura juga angkat bicara perihal saldo ATM yang sengaja digunakan mantan pacarnya bahkan saat Laura masih belum bisa bergerak.

“Awalnya emang buat konten aja, karena dia pingin jadi youtuber, yang saya support aja, awalnya cuman gimik, tapi waktu saya masih sakit itu (tidak bisa bergerak) ada yang bilang, kalau ATM saya dipakai sama mama dia juga, waktu ditanya dia bilangnya ‘ya nantikan bisa diganti’ gitu,” jelasnya.

Laura, baru menyadari hubungannya yang toxic itu tak baik bagi kesehatan fisik dan mentalnya. Ia mengambil langkah berani untuk menyudahi hubungan tersebut meski harus melalui 2 minggu dengan air mata.

Akan tetapi, dari Laura, kita bisa belajar, bahwa pasangan yang tidak supportif pada akhirnya hanya akan menjadi beban semata. Mengetahui red flag dengan segera, bisa menguntungkan bagi keselamatan jiwa. 

Pasangan yang tak bisa mengemban tanggung jawab, dan kabur dari masalah tak akan memberi kebahagiaan bagi diri sendiri. Oleh sebab itu memutus relasi adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh agar kita bisa berfikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Persis seperti yang dilakukan Laura hingga ujung usianya. 

Proses Hukum Berlanjut

Laura Anna meninggal, saat upayanya untuk menggapai keadilan atas kecelakaan yang mengakibatkan ia lumpuh masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim).

Sidang lanjutan yang menghadapkan GM sebagai terdakwa rencananya akan digelar hari ini, Kamis (16/12/2021). Agenda sidang adalah pemeriksaan saksi ahli (ahli fisioterapi) dan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa.

Pihak PN Jaktim mengatakan persidangan kasus ini akan tetap dilanjutkan meski Laura Anna sudah meninggal. Diketahui, Laura Anna mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang menimpanya pada 9 Desember 2019 silam. Kecelakaan terjadi saat Laura sedang menumpang mobil yang dikemudikan GM  

GM kini ditahan di rutan Satlantas Polres Metro Jakarta Timur.  Ia didakwa dengan Pasal 310 Ayat 3 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Persidangan kasus ini sudah berlangsung enam kali sidang. Bahkan, Laura dan ibunya sudah menjadi saksi di persidangan itu. Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati DKI Jakarta, Ashari Syam mengatakan, meninggalnya Laura Anna bisa menjadi salah satu penilaian majelis hakim dalam memutuskan hukuman untuk GM. Namun semua itu tergantung penilaian hakim atau penilaian Jaksa Penuntut Umum.

“Itu akan dinilai apakah meninggalnya akibat kecelakaan itu atau tidak ada hubungannya, nah itu akan dinilai,” kata Ashari dikutip Kompas.com.

Ashari mengatakan, apabila meninggalnya Laura Anna ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami pada 2019 lalu, maka ini berpotensi memberatkan hukuman GM. Masalahnya, surat tuntutan (Laura) dari awal, tidak ada pembunuhan, karena tidak ada yang meninggal dunia. Yang ada adalah kecelakaan yang mengakibatkan cacat (lumpuh).

Ashari mengatakan, meninggalnya Laura Anna bisa saja menjadi alat Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk meminta hakim menghukum GM dengan berat. Namun sekali lagi, penilaian tersebut sepenuhnya di tangan hakim. Hakimlah yang nantinya menentukan apakah meninggalnya Laura Anna menjadi penilaian sendiri terhadap vonis bagi GM.

(Foto: Pikiran Rakyat)

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email