Ancaman Metaverse bagi Perempuan: Perkosaan dan Pelecehan Verbal secara Digital

Peringatan bos Meta (Facebook) pada Maret 2021 soal kemungkinan metaverse yang dikembangkan Facebook bisa menjadi “lingkungan beracun” terutama bagi perempuan dan minoritas, menjadi kenyataan. Seorang pengguna Horizon Venues di Inggris menyatakan diperkosa secara virtual dalam metaverse

Simak pengakuan Nina Jane Patel dalam blognya pada pertengahan Desember 2021 ini. Perempuan umur 43 tahun yang berdomisili di Inggris itu menyatakan mengalami pelecehan secara verbal dan pelecehan seksual di metaverse Facebook, Horizon Venues.

Nina menceritakan, pelecehan itu dialaminya hanya 60 detik setelah dia berselancar di dunia maya melalui aplikasi Horizon Venues. Hanya satu menit setelah bergabung, segerombol avatar laki-laki menyerbunya, mereka melakukan kekerasan secara verbal, lalu beramai-ramai ‘memperkosa’ avatarnya secara virtual. Avatar-avatar itu juga mengambil foto Nina  tanpa terlebih dahulu meminta izin darinya.

“Dalam waktu 60 detik setelah bergabung — saya dilecehkan secara verbal dan seksual — 34 avatar laki-laki, dengan suara laki-laki, pada dasarnya, tetapi sebenarnya geng memperkosa avatar saya dan mengambil foto — saat saya mencoba untuk meloloskan diri mereka berteriak — ‘jangan berpura-pura tidak menyukainya’ dan ‘gosokkan dirimu pada foto itu’,” demikian Nina menggambarkan insiden itu dalam postingan di blognya.

Nina mengatakan, kejadian ini terasa begitu nyata dan baginya hal itu adalah mimpi buruk. Dia pun segera melepas headset realitas virtualnya dan kembali ke dunia nyata.

Dikutip dailymail.com, Nina mengatakan bahwa “realitas virtual” buatan Facebook itu dirancang sedemikian rupa sehingga pikiran dan tubuh tidak dapat membedakan pengalaman virtual dari dunia nyata. Karena itu pengguna merasakan ada ‘kenyataan’ untuk pengalaman di dunia virtual.

“Dalam beberapa kapasitas, respons fisiologis dan psikologis saya seolah-olah itu terjadi dalam kenyataan,” tulisnya.

Dia menambahkan, semakin banyak orang yang kita undang ke dalam realitas virtual, maka kita juga harus bersiap menyadari bahwa ini dirancang dengan ‘kenyataan’ sebagai aspek penting dari perangkat lunak ini.

Postingan Nina ini langsung menyebar luas ke seluruh pelosok planet Bumi. Sehingga banyak orang bertanya-tanya akan keamanan penggunaan metaverse, teknologi internet teranyar yang digadang akan menjadi gaya hidup masa depan.

Metaverse juga disebut menjadi solusi efektif ketika pergerakan fisik penduduk Bumi masih harus dibatasi mengingat penularan Covid-19 yang belum sepenuhnya teratasi. Tak hanya Meta Platform, sejumlah perusahaan juga berlomba mengembangkan teknologi virtual reality yang lumayan canggih ini.

Namun, pengakuan Nina ini memunculkan kekhawatiran tentang keselamatan penggunanya dari kemungkinan pelecehan seksual dan kekerasan lainnya.

Reaksi Facebook

Horizon Venues, metaverse yang dikembangkan Facebook memang disebut mampu mengantarkan teknologi hiper realistik yang mengesankan. Tetapi kondisi ini juga bisa mengancam privasi penggunanya. 

Lantas bagaimana Meta Platforms induk Facebook menanggapi kejadian ini? Dikutip oleh Business Insider, Juru bicara Meta dalam pernyataan resminya berjanji akan segera menyelidiki insiden ini dan menemukan cara pencegahan yang efektif.

“Kami menyesal mendengar ini terjadi. Kami ingin semua orang di Horizon Venues memiliki pengalaman positif, dan dengan mudah menemukan alat keselamatan yang dapat membantu jika terjebak dalam situasi seperti ini – dan membantu kami menyelidiki dan mengambil tindakan,” sebut pernyataan tersebut.

Tak lama setelah kejadian ini, tepatnya pada Jumat (4/2/2022), Meta mengumumkan akan meluncurkan fitur pengaman bagi para pengguna Horizon Venues dan Horizon World. Fitur ini diklaim akan menciptakan barrier yang melindungi ruang pribadi pengguna aplikasi metaverse yang dikembangkan Facebook ini.

Alat baru ini memungkinkan pengguna membatasi jarak hingga 1,2 meter dengan avatar pengguna lain ketika mereka mengakses aplikasi Horizon Worlds dan Horizon Venues yang imersif melalui headset VR.

Dalam penjelasan itu, Meta mengatakan bahwa pengaturan default baru ini akan memudahkan pengguna menghindari interaksi yang tidak diinginkan. Pengaturan ini akan berfungsi jika pengguna platform VR termasuk Horizon Venues telah mengaktifkan alarm untuk menghindari aksi meraba-raba secara virtual maupun perilaku kasar lainnya di alam maya.

Meta menyebut alat baru ini dibangun untuk menghindarkan kemungkinan pelecehan berupa rabaan yang tak diinginkan. Di mana tangan avatar akan hilang secara otomatis, jika sudah memasuki ruang pribadi pengguna lain.

Saat ini juga memiliki fitur “Zona Aman” di mana orang dapat mengaktifkan gelembung di sekitar avatarnya jika memang merasa tidak terancam. Wakil presiden Meta Horizon, Vivek Sharma mengatakan, pihaknya percaya ‘batas pribadi baru’ ini akan membantu menetapkan “norma perilaku” bagi pengguna Horizon Venues.

“Ini adalah langkah penting, dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami akan terus menguji dan mengeksplorasi cara-cara baru untuk membantu orang merasa nyaman di VR,” kata Sharma.

Dia menambahkan, Meta akan mengkaji kemungkinan menambahkan kontrol seperti membiarkan orang mengubah ukuran batas pribadi mereka. Tapi untuk saat ini Meta baru sebatas mencatat pengguna harus “mengulurkan tangannya” untuk mendapatkan izin saat ingin memasuki ruang pribadi pengguna lain.

Ancaman Metaverse

Kemungkinan terjadinya pelanggaran ruang privasi di jagad metaverse ini sebenarnya telah diingatkan bos Meta, Andrew Bosworth pada Maret 2021 lalu. Dilanasir euronews.com, dalam memo internal, ia mengingatkan kemungkinan virtual reality (metaverse) yang sedang dikembangkan Facebook bisa menjadi “lingkungan beracun” terutama bagi perempuan dan minoritas. Menurut Bosworth, memoderasi perilaku pengguna ‘pada skala yang berarti’ praktis sulit dilakukan.

“Peringatan besarnya adalah kita tidak tahu apa itu metaverse, jadi ini berdasarkan tebakan terbaik kita tentang seperti apa kelihatannya . . [tetapi] kita perlu memikirkan tentang apa mitigasi atau solusi yang di metaverse terlihat berbeda, terutama secara real time, dibandingkan dengan platform statis berbasis teks atau gambar,” kata Bosworth yang merupakan profesor hukum internet di Universitas Essex.

Lebih jauh, jejak rumit metaverse adalah mewujudkan harapan Meta untuk menggabungkan pembayaran digital berbasis blockchain, yang juga telah diperingatkan investor sangat mungkin akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan risiko teknis yang sangat rumit.

Metaverse diciptakan dengan memadukan berbagai unsur teknologi seperti konferensi video, media sosial, hiburan, game, pendidikan, pekerjaan, dan bahkan mata uang kripto. Teknologi ini dinilai dapat menjadi solusi ampuh untuk alternatif kehidupan di mana pelakunya bisa berinteraksi secara tiga dimensi tanpa harus bertemu secara fisik. Keunggulan ini membuat metaverse digadang akan menjadi pendorong revolusi internet.

Sejauh ini, metaverse mampu memberikan manfaat signifikan dalam kehidupan manusia seperti menyediakan ruang tanpa batas bagi sejumlah kegiatan, seperti kampanye Joe Biden di Pilpres AS 2020, wisuda mahasiswa UC Berkeley di Minecraft serta perpustakaan virtual yang dikembangkan Stanford University di Second Life, tapi hati-hati dengan penggunaan yang lainnya

Selain Meta (Facebook), raksasa teknologi yang juga sedang membangun metaverse-nya sendiri adalah Apple, Google dan Microsoft. 

Meta sendiri telah lama berada dalam pemantauan dari para pembuat undang-undang dan regulator global terkait penanganannya terhadap konten bermasalah dan pelanggaran pada platform media sosial yang berada di bawah benderanya, yakni Whatsapp, Facebook dan Instagram. 

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email