Film ‘Arini by Love.inc’: Perusahaan Cinta Futuristik Dan Cinta Sejati Yang Mungkin Saja Tak Ada

Seperti puzzle, kehidupan Arini terus berubah. Dalam Film Arini Love For Sale hingga Arini by Love. inc., Arini berhasil menyampaikan pesan bahwa cinta sejati mungkin saja tak pernah ada. Hampir setiap orang yang mencintai menginginkan imbalan, sebagaimana pacar bayaran. Film ini mengungkap pekerjaan cinta di perusahaan futuristik, Love by Love inc.

Masih ingatkah kamu pada sosok Arini (Della Dartyan) yang dua tahun lalu beradu akting dengan Adipati Dolken (berperan sebagai Ican) dalam Love for Sale 2

Pada saat itu, Arini memperkenalkan diri sebagai Arini Chaniago. Dua tahun sebelumnya, saat bertemu Richard (Gading Marten) dalam Love for Sale 1, ia memperkenalkan diri sebagai Arini Kusuma.

Penonton menilai kedua film Love for Sale berhasil menyampaikan pesan bahwa cinta sejati mungkin saja tak ada. Hampir setiap orang yang mencintai menginginkan imbalan, sebagaimana pacar bayaran macam Arini, yang selalu ingin dibayar untuk pekerjaannya. 

Namun, cinta bisa membuat orang-orang berubah menjadi lebih baik. Richard misalnya, yang menjadi lebih terbuka karena cinta. Sedangkan Rosmaida yang diperankan Ratna Riantiarno, ibu Ican, bisa menjadi ibu mertua yang lebih baik.

Namun, siapa sebenarnya Arini? Agen Love.inc yang bagaimanapun mampu membuat keduanya, Richard dan Rosmaida, menjadi lebih baik?

Arini by Love.inc mencoba menjawab pertanyaan yang menggantung di benak penonton film Love for Sale 1dan 2. Namun, film ini tak serta merta menjadi spin-off yang menunjukkan siapa 

Arini sebenarnya. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, penonton diajak memutar terlebih dahulu menelusuri apa itu Perusahaan futuristic Love.inc yang membuat Arini bisa menjalankan peran sebagai pacar bayaran dengan begitu baik.

Tak seperti kedua film sebelumnya, Arini by Love.inc kali ini disutradarai oleh Adrianto Sinaga.

Film dengan latar Teknologi 

Film dibuka dengan angle scene yang menarik. Kamera menyorot bagian atas sebuah kota, dengan gedung dan jalanan serta kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di dalamnya. Sementara itu, nama-nama kru film satu per satu muncul dengan ikon penanda lokasi sebagaimana yang terdapat dalam google map.

Kamera kemudian berhenti di atas seorang perempuan yang sedang berjalan sambil menarik kopernya. Perempuan itu adalah Arini. Pembukaan film ini sepertinya ingin menggambarkan keterkaitannya dengan teknologi bergaya futuristik.

Pertanyaan tentang apa itu Love.inc pun sebetulnya cukup terjawab dalam film ini. Love.inc, sebagaimana diketahui dari trailer, menggunakan teknologi penghapus ingatan untuk membuat agen seperti Arini dapat menjalani perannya dengan baik. Sayangnya, detail seperti bagaimana Arini bisa patuh pada perusahaan belum terjawab.

Terhapusnya ingatan seseorang mestinya tidak lantas membuatnya mau menuruti apa saja kata perusahaan tanpa mempertanyakannya. Namun di dalam film ini, dari sekian banyak agen, hanya Arini dan Tiara (Kelly Tandiono) yang tampak menyadari keganjilan dari operasional Love.inc. 

Saya sebetulnya sempat bertanya-tanya apakah agen Love.inc seperti Arini bukan manusia tapi robot atau alien, karena seolah tak punya emosi. Tapi pertanyaan itu juga tak terjawab hingga  film itu berakhir.

Sudah begitu, untuk perusahaan yang menerapkan teknologi penghapus ingatan, tapi pengamanan Love.inc tampak begitu longgar. Apakah di masa depan nanti, teknologi penghapus ingatan akan dianggap tidak melanggar hak asasi manusia (HAM) dan peraturan pemerintah? Jadi perusahaan penjual cinta macam Love.inc juga bisa menerapkannya dengan leluasa?

Kalau saya tidak salah hitung, penjaga perusahaan itu tidak sampai lima orang. Salah satunya satpam gemuk yang gampang ngos-ngosan. Saat ada agen yang berusaha kabur, bukannya menggunakan senjata canggih untuk menangkapnya, penjaga hanya mengandalkan kedua kakinya untuk mengejar.

Kehadiran Pemimpin Perempuan 

Sebagian penonton pasti menunggu Marissa Anita yang dalam film ini berperan sebagai Diana, petinggi Love.inc. Dengan suara kharismatiknya ia memberikan pengetahuan terkait kiat menjadi pasangan yang baik.

Sayangnya sebagai petinggi, maaf sedikit spoiler, Diana tampak kurang hati-hati sampai orang bisa masuk dan keluar dengan mudah dari kantornya. Sudah begitu, ia juga mudah dikelabui oleh Tiara.

Pada akhirnya, baik perusahaan Love.inc maupun pimpinannya tampak tidak memiliki cukup daya mengancam yang dapat mendorong lebih jauh Tiara dan Arini untuk kabur dari perusahaan itu.

Perempuan-Perempuan Ingin Pergi Dari Love Inc.

Meskipun banyak detail kecil yang mengganjal, film ini tetap patut diapresiasi dengan kehadiran dua tokoh perempuan yang mencoba mencari kebebasannya sendiri, yakni Arini dan Tiara. 

Keduanya saling berbagi tentang jati diri dan keinginan untuk kabur dari Love.inc pada tengah malam saat agen-agen lain sudah dibuat tidur. Pertanyaan-pertanyaan mereka sebetulnya berkaitan dengan kehidupan manusia yang selalu mendambakan kebebasan.

Meskipun demikian, Arini by Love.inc seperti kurang jelas dalam menyampaikan motivasi kedua tokoh utamanya untuk kabur. Apakah mereka tidak sepakat pada penggunaan teknologi penghapus ingatan ataukah mereka merindukan keadaan sebelum bergabung dengan perusahaan. 

Arini misalnya, setelah lagi-lagi dibuat lupa, hanya sekelumit ingatan kejadian pada masa lalu yang membuatnya bersedia bersolidaritas dengan Tiara untuk bersama-sama mencari jalan keluar.

Dengan merujuk serial tentang teknologi dan masa depan semacam Black Mirror dan Love, Death, and Robots, saya sebetulnya berekspektasi keduanya sudah sangat terdesak sehingga harus lari. Misalnya mereka melihat teman mereka ditembak mati di tempat atau dicuci otaknya berkali-kali sampai kehilangan kewarasan. Dengan kesemana-menaan yang lebih parah, akan lebih masuk akal bagi agen yang diperbudak Love.inc seperti Arini dan Tiara untuk tak bertahan lebih lama.

Namun demikian, film ini juga berusaha menghadirkan representasi orang dengan disabilitas melalui kehadiran anak Tiara, meskipun kehadirannya sangat sebentar hadir di ujung film. Untuk dapat mengingat jati dirinya sekaligus berkomunikasi dengan anaknya, selama di Love.inc 

Tiara mengukir huruf braille di tubuhnya. Meski menyakitkan, ia rela melakukan hal tersebut agar dapat terbebas dari perusahaan dan bertemu anaknya.

Setelah film selesai, pertanyaan baru tentang Arini justru bermunculan di benak saya. Begitu pula pertanyaan terkait Love.inc. Jika Arini dan Tiara menyadari bahwa Love.inc tidaklah ideal, bagaimana dengan agen yang lain? Apakah mereka semacam robot atau alien yang tidak memiliki keinginan untuk kabur?

Barangkali, para kru film sedang menyusun cerita tentang Love.inc dan latar belakang personal Arini yang lebih memuaskan. Sementara itu, Arini by Love.inc bisa menjadi teman di kala santai untuk melengkapi sedikit puzzle tentangnya. 

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email