Curhat PRT: Saya Merindukan Pertemuan Tatap Muka

Curhat PRT: Selama 2 tahun pandemi, kami tak bisa melakukan pertemuan tatap muka, tidak bisa merekrut anggota baru serikat pekerja rumah tangga (SPRT) secara door to door. Kami tak bisa menghadiri sekolah PRT yang menjadi salah satu media untuk melepaskan uneg-uneg kami.

Selama hampir dua tahun pandemi Covid-19 belum juga sepenuhnya berlalu. Selama itu juga berbagai kegiatan kita dibatasi. Banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kami –para pekerja rumah tangga (PRT) lakukan.

Kita tidak bisa melakukan pertemuan tatap muka, tidak bisa merekrut anggota baru serikat pekerja rumah tangga (SPRT) secara door to door. Kami tidak bisa berkumpul dengan teman-teman sesama PRT untuk menghadiri sekolah PRT yang menjadi salah satu media untuk melepaskan uneg-uneg dan perasaan kami.

Kampanye dan koordinasi sesama PRT hanya bisa dilakukan secara daring. Saya merasakan rindu yang sangat berat seolah tidak ada obat penawarnya. Apalagi jika mengingat, tidak sedikit kawan-kawan PRT yang terpapar Covid-19 ataupun kehilangan pekerjaan saat pandemi

Saya bertanya-tanya kapankah Corona dalam berbagai variannya seperti Delta ataupun Omicron lenyap dari muka dunia ini? Saya sangat merindukan berkumpul bersama teman – teman sesama PRT. Sudah lama kami tidak saling bertukar pikiran dan berbagai cerita soal pekerjaan kami.

Sudah lama kami tidak menghadiri sekolah PRT secara offline. Sudah lama juga kami tidak turun ke lapangan untuk mengkampanyekan tentang 20 syarat kerja layak. Kampanye ini untuk membuka mata para pemberi kerja, karena hingga kini masih banyak PRT yang belum mendapatkan tempat kerja layak.

Saya juga merindukan sesi-sesi berbagi kisah tentang masalah pribadi yang kami hadapi selama pandemic Covid-19, seperti di-PHK tanpa pesangon, dan ada juga yang gajinya dibayar cuma setengahnya saja.

Saya berharap semoga masa sulit saat pandemi ini segera berlalu, Sehingga PRT yang dipecat tanpa pesangon bisa kembali mendapatkan pekerjaan. Dan, jika ada PRT yang gajinya dibayar setengah bisa kembali mendapatkan upah secara utuh.

Semoga dengan meredanya pandemic maka ekonomi secara bertahap akan membaik. Dan, membaiknya roda perekonomian akan berimbas pada nasib PRT. Agar kawan-kawan PRT  yang diupah rendah bisa mendapatkan upah yang lebih layak. Karena, kami para PRT sangat membutuhkan uang dari hasil kerja keras kami untuk menopang perekonomian keluarga kami.

Kerja tidak layak

Harus diakui, masih banyak PRT yang bekerja dalam kondisi yang tidak layak. Mereka harus bekerja dengan beban yang berat dan jam kerja yang panjang, namun gaji yang diterimanya tidak seimbang.

Masih banyak anggota masyarakat yang memandang rendah profesi PRT. PRT belum dianggap sebagai pekerja. Kerja-kerja kami belum dihargai, padahal jika tidak ada yang mau bekerja sebagai PRT bagaimana para pekerja formal itu bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Kami para PRT dinilai hanya menjual tenaga dan tidak diperlukan keahlian untuk menjalankan pekerjaan ini. Saya sendiri juga mengalami hal itu. Meski saya memiliki keterampilan yang memadai, seperti bisa memasak aneka masakan baik masakan local maupun masakan asing lainnya termasuk masakan western, tidak ada penghargaan lebih yang saya terima.

Mungkin, untuk saat ini kami menerima ini sebagai takdir kami sebagai PRT. Untuk saat ini kami hanya bisa sabar dan nrimo. Namun jauh di dalam lubuk hati, saya berharap satu saat situasi ini akan berubah. Saya berharap pemerintah akan segera mengesahkan RUU Perlindungan PRT yang memberikan payung hukum dan memberi perlindungan hak-hak jutaan perempuan yang bekerja menjadi PRT seperti saya.

Saya juga berharap, satu saat saya bisa menemukan pemberi kerja yang bijak, yang tidak hanya mengeluh saat pekerjaan saya tidak beres, tetapi juga memberikan perlindungan dan menghargai kerja-kerja saya.

Sekian cerita saya dan sedikit keluh kesah saya sebagai PRT dalam menghadapi pandemic Covid-19. Saya mohon maaf, kalau ada salah kata atau kalimat yang kurang berkenan, semua cerita ini hanya ungkapan dari hati saya yang paling dalam dan sebenar – benarnya.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT).

Robyarni

Pekerja rumah tangga, aktif di SPRT Rumpun Tangerang Selatan.

Let's share!