Dear Mahasiswa: Demo Boleh, Tapi Jangan Sensasional

Poster-poster demo yang sensasional: tidak substantif dan bernuansa seksis itu sama sekali gak keren! Ingat, aksi bukan sekadar buat unjuk diri atau eksistensi. Tapi, harus mampu menciptakan ruang aman dan nyaman agar substansi aspirasi tercapai.

Pekan lalu, ada banyak demo mahasiswa mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat dan cenderung hanya untuk mempertahankan kekuasaan.

Demo-demo seperti ini harus didukung, karena sudah selayaknya mahasiswa menjadi pengawal kritis dan senantiasa menyuarakan aspirasi masyarakat dengan turun ke jalan. Dan, kali ini penolakan atas jabatan presiden 3 periode dan menolak meroketnya harga-harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng hingga bahan bakar minyak (BBM) yang kian menjerat rakyat harus didukung. 

Tapi sayangnya, di antara demo-demo ini ada banyak poster demo yang sensasional baik yang tidak substantif hingga seksis terhadap perempuan. Beberapa contoh kalimat-kalimat poster yang tidak substantif itu misalnya:

“Stop peras duit rakyat, sesekali peras Adek, Pak!”

“Turunkan harga BBM atau kuturunkan harga dirimu”

“Daripada BBM naik mending Ayang yang naik”

Dalam sebuah poster, terpampang pula kalimat seksis yang ditemukan merendahkan gender tertentu yaitu perempuan seperti “Cukup prawan yang langka minyak goreng jangan, Pak!.”

Poster itu dibentangkan oleh rombongan anak muda laki-laki yang memakai seragam mahasiswa berdampingan dengan poster-poster yang tidak substansif seperti yang digambarkan di atas.

(Sumber Foto: Twitter @txtdrmahasiswa)

Apresiasi, Asal Jangan Sensasional

Aksi yang digelar pada 11 April 2022 di berbagai wilayah di Indonesia ini tentu saja harus diapresiasi. Anak-anak muda yang biasanya dilabeli generasi ‘ cuma berisik’ di media sosial, bisa mematahkan stigma. Bahwa para anak muda itu juga peduli kondisi negara. Terlebih, permasalahan krusial seperti wacana yang melanggar konstitusi yaitu perpanjangan jabatan presiden hingga 3 periode.  

Namun satu hal yang juga jadi sorotan adalah segelintir poster yang tidak substantif. Jadi demo boleh, tapi jangan sensasional: tidak substantif dan seksis!

Poster-poster ini kemudian menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan yang tak kalah ramai di media sosial. Banyak warganet yang lantas adu komentar bahkan hujatan. Termasuk, tanggapan atas sensasionalisme dalam pemilihan kata-kata dalam poster yang mereka usung.

Sebagian mengomentari cara berekspresi dalam demonstrasi anak zaman now yang kontras dengan generasi tua (boomers).

Ikut mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang turun aksi ke jalan, Peneliti sekaligus Akademisi Universitas Diponegoro, Nurul Hasfi menilai, sebetulnya aspirasi dalam poster demonstrasi yang disampaikan mahasiswa ini mempunyai ciri begitu khas: mereka terpengaruh oleh budaya pesan meme di media sosial yang menjadi media mereka. 

Hal ini tentu berbeda dengan karakteristik generasi tua (boomers) yang terkesan lebih formal dan kaku. Pasalnya, di masa para boomers ini penggunaan media sosial belum semasif sekarang. Kaitannya dengan ini, tak ada masalah sama sekali, karena setiap generasi punya karakternya masing-masing.  

Terlepas dari itu, ada hal penting yang ditekankan yaitu keprihatinan jika ada poster-poster yang mengandung sensasionalisme. Tentu hal ini juga tak bisa dipukul rata untuk menafikkan seluruh perjuangan mahasiswa yang turun ke jalan dengan poster-poster kritis dan krusial.   

“Kali ini pesan yang dibuat justru mengandung unsur seksisme, isu yang banyak dikritik intelektual, jadinya ironis jika itu justru muncul dalam demo yang mengatasnamakan kelompok intelektual. Namun, bisa jadi ini hanya sebagian mahasiswa saja dari ribuan yang datang dan kebetulan diekspos oleh media,” ujar Nurul Hasfi kepada Konde.co, Kamis (14/4/2022). 

Nurul mengaku prihatin dengan adanya poster-poster yang tidak substantif dan bernada seksisme itu. Terlebih, jika poster-poster seksis yang melecehkan. Menurutnya, seksisme bisa terjadi tak lepas dari konteks masyarakat sekitar tempat mereka tinggal yang masih patriarki. 

“Masyarakat kita (seolah) sudah terbiasa dengan isu seksisme yang dibalut humor. Konstruksi humor seksualitas dengan objek perempuan juga menjadi konten sehari-hari dalam industri media di Indonesia mulai dari TV, radio, tentunya media sosial yang dikonsumsi,” terang Nurul Hasfi. 

Nurul lantas menyampaikan fenomena anak-anak muda menggunakan media poster untuk menyampaikan aspirasi secara nyentrik memang telah lama muncul. Salah satunya pada demonstrasi yang dihelat Gejayan Memanggil di Yogyakarta beberapa tahun silam yang juga menjadi tren yang sempat viral. 

Aksi yang dimotori anak muda itu memuat unsur kritis dan satir. Misalnya, frasa bahasa Jawa ‘Asline Mager pol, Tapi Piye Maneh DPR e Pekok’ (Sebenarnya malas gerak banget, tapi ya gimana DPR-nya gobl*k) atau ‘DPR, yang kamu lakukan ke Rakyat itu Jahat’. 

“Tentunya ini tidak seksis ya meski ada diksi kata yang agak kasar. Jadi menurut saya teks yang ada dalam demo sebelumnya menurut saya mencerminkan pesan anak milenial yang cerdas,” imbuhnya. 

Ketua Perempuan Mahardhika, Mutiara Ika Pratiwi juga tak memungkiri memang masih ada poster-poster yang tidak substantif dan seksis dalam aksi demonstrasi tersebut. Padahal, semestinya aksi tersebut bisa jadi momentum yang sepenuhnya bisa digunakan menuntut dan mempertahankan ruang demokrasi. Mengapa bisa terjadi? Tentu saja, ini bisa disebabkan karena belum terimplementasinya pendidikan-pendidikan politik berperspektif gender secara masif di organisasi-organisasi mahasiswa.

“Kalau dalam keseharian kita dalam berorganisasi masih sering menggunakan candaan seksis saya yakin itu akan tercermin dalam poster-poster ketika aksi,” ujar Ika kepada Konde, Kamis (14/4/2022).  

Mutiara Ika menambahkan, normalisasi seksisme dan tidak substantif termasuk dalam poster-poster pergerakan aksi demokrasi itu, bisa berdampak tak sepele. Ini dikarenakan hal itu dapat melemahkan pergerakan hingga berdampak mundurnya partisipasi seseorang untuk aktif dalam pergerakan. 

Ini tentu juga sebuah ironi, saat para aktivis lain tengah ‘mati-matian’ berjuang memperjuangkan pengesahan Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menjadi Undang-undang (UU TPKS), namun di sisi lain tindakan pelecehan terus dilanggengkan dalam aksi pergerakan demokrasi lain. 

Untuk menyikapinya, aktivis perempuan perempuan Mahardhika itu menilai upaya menghancurkan seksisme memang  harus dimulai dengan memasifkan pendidikan-pendidikan kesetaraan gender sebagai bagian dari pendidikan politik. 

“Dan dalam ruang pergerakan yang saat ini terjadi, saya pikir itu sangat mungkin. Karena pergerakan memberi landasan untuk perubahan. Jadi, mari hancurkan budaya seksis untuk memperkuat pergerakan kita,” tegasnya.

Stop Sensasionalisme

Gerakan politik generasi muda kini memang memiliki warnanya sendiri. Namun sikap kritis, juga harus dibarengi dengan sensitivitas gender yang tak mengabaikan interseksionalitas (segala bentuk penindasan). Termasuk dalam menyampaikan pesan aspirasi dalam memperjuangkan demokrasi. 

Ingat, aksi demonstrasi itu harusnya menciptakan ruang perjuangan gender dalam teks bagi semua kalangan. Bukan sekadar ajang untuk eksistensi atau unjuk diri di sosial media. Makanya, poster-poster yang seksis itu, gak keren!

Menurut Nurul, mahasiswa perlu dalam berkoordinasi dalam membawa pesan-pesan politik termasuk poster. Konten poster harus dibicarakan dan dikoordinasikan dengan matang. Dirinya yakin poster seksis dalam demo 11 April itu hanya sebagian kecil, dan banyak yang baik namun tidak diekspos media.

“Mahasiswa memiliki jaringan yang kuat, jaringan bisa digunakan untuk berkoordinasi dalam membagun pesan poltiik yang baik. Sangat memungkinkan adanya penunjukan tim yang bertanggung jawab dalam membuat aturan-aturan tentang konten poster. Misal tidak mengandung pelecehan SARA, seksisme, tidak kasar misal,” jelas Nurul. 

Nurul juga mengimbau media mainstream juga tidak turut melakukan sensasionalisme dalam pemberitaan yang dibuat. Semisal, sebatas mengejar klik dari ramainya pembaca soal pendemo, tapi mengabaikan perspektif perempuan dan minoritas yang terdiskriminasi. Sebab dampak ekspos media juga bisa semakin memperburuk citra demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa. 

“Media massa pada akhirnya juga bertanggung jawab dalam proses ini karena media massa yang seharusnya meneruskan suara mahasiswa membawa aspirasi publik.. (jangan) membelokkan gerakan politik mahasiswa ke  ranah yang tidak substantif bahkan destruktif pada kesetaraan gender,” pungkasnya. 

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email