Program KB Turunkan Angka Kematian Ibu dalam 50 Tahun terakhir di Indonesia, Apa Tantangan ke depan?

Data menunjukkan program Keluarga Berencana (KB) mampu menurunkan angka kematian ibu dalam lima dekade terakhir di Indonesia. Namun, keefektifan sistem kesehatan dalam menangani risiko kesehatan pada perempuan hamil dan melahirkan jadi tantangan yang tak bisa diabaikan.

Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Keluarga Berencana, 29 Juni.

Program Keluarga Berencana melalui alat kontrasepsi modern sebagai upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk mulai diperkenalkan secara besar-besaran kepada dunia pada 1960-an.

Badan-badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga donor dari negara maju, dan institusi pembangunan global mempromosikan kebijakan pengendalian penduduk ini kepada negara berkembang yang kala itu angka pertumbuhan penduduknya tinggi. Setelah tiga dekade, pada 1998, 92 persen pemerintah di dunia mendukung akses alat kontrasepsi untuk mengendalikan penduduk.

Di Indonesia, pada akhir 1960-an di bawah pemerintahan Presiden Suharto mulai intensif mempromosikan program KB di tengah naiknya kemajuan ekonomi Indonesia. Setelah Suharto runtuh pada 1998, program ini terus berjalan walau kurang terdengar kencang dibanding era sebelumnya. Walau demikian, program KB telah terbukti mencegah kelahiran dan menurunkan kematian ibu pada kehamilan berisiko.

Riset terbaru dari Budi Utomo, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dan koleganya menunjukkan program KB berhasil menekan angka kelahiran tahunan pada level yang relatif stabil antara 4,6 juta-5,2 juta baik pada masa Orde Baru maupun pada masa Reformasi. Padahal, jumlah perempuan usia subur meningkat signifikan dari 55 juta pada 1970 menjadi 71 juta pada 2017.

Walau jumlah usia perempuan subur meningkat hampir 40% dalam, jumlah kelahiran relatif stabil pada kisaran plus-minus lima juta per tahun.

Menurut Budi Utomo, salah satu penyebabnya adalah level kesuburan umum (GFR) perempuan menurun signifikan dari 177 pada 1970, lalu 83 pada 2000 dan menjadi 73 pada 2017. Artinya dari setiap 1000 perempuan berusia 15-49 tahun dalam setahun ada kelahiran 73 bayi. “Level kesuburan dipengaruhi oleh program KB, aborsi, dan usia perkawinan yang meningkat,” kata Budi, 29 Juni 2022.

Rata-rata usia perkawinan pertama perempuan telah naik dari sekitar 19 tahun pada 1970 ke 22 tahun pada 2017. Artinya jika masa subur perempuan usia 15-49 tahun, peningkatan usia perkawinan menurunkan masa kesuburan saat mereka menikah.

Level pemakaian kontrasepsi di kalangan perempuan menikah juga naik dari 8% pada awal 1970-an menjadi 60% (2002) dan 63% (2017). Sedangkan data aborsi sulit didapat. https://flo.uri.sh/visualisation/10469231/embed

Konsensus global telah menunjukkan bahwa kematian ibu terkait kehamilan bisa diturunkan melalui empat strategi: (1) program keluarga berencana dengan pelayanan kesehatan reproduksi, (2) perawatan yang profesional selama kehamilan dan persalinan, (3) perawatan kebidanan darurat yang tepat waktu, dan (4) perawatan segera setelah melahirkan.

Jika tiga intervensi lainnya terjadi pada ibu yang sedang hamil, program KB mengurangi kematian ibu dengan cara mencegah kehamilan dan mengurangi atau menurunkan kehamilan berisiko seperti pada perempuan yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan anak atau interval kelahiran yang dekat. “KB sangat bermanfaat untuk mencegah kehamilan, jika sudah hamil maka itu peran layanan kesehatan yang bisa menurunkan angka kematian ibu,” ujarnya. https://flo.uri.sh/visualisation/10469475/embed

Riset Budi Utomo menunjukkan dalam hampir 50 tahun terakhir, 1970-2017, diperkirakan sekitar 523.000 sampai 663.000 kematian ibu terkait melahirkan bisa dicegah berkat penggunaan alat kontrasepsi. “Angka ini setara dengan menurunan kematian ibu antara 37,5 sampai 43 persen,” kata Budi dalam riset tersebut. https://flo.uri.sh/visualisation/10470210/embed

Menurut studi ini, KB bisa membantu untuk menurunkan angkat kematian ibu pada 2030 jadi 70 kematian ibu per 100.000 hidup kelahiran, seperti target Sustainable Development Goals (SDGs), jika penggunaan konstrasepsi ditingkatkan dan angka enggan KB diturunkan.

Dalam simululasi riset ini, jika tingkat penggunaan kontrasepsi (CPR) naik dari 63% pada 2017 menjadi 70% pada 2030 dan perempuan nikah yang tak ingin punya anak lagi tapi tidak memakai alat kontrasepsi (unmet need) turun dari 10% menjadi 7% dalam dalam periode yang sama, maka akan ada tambahan sekitar 34.000 sampai 37.000 kematian ibu akan bisa dicegah.

Ini setara dengan tambahan menurunkan kematian ibu sebesar 18,9-20%. Jika bisa menaikkan lagi pemakaian kontrasepsi, misalnya sampai 90%, maka akan makin tinggi kematian ibu yang bisa dicegah. “Masalahnya, angka pemakaian alat kontrasepsi tidak merata karena ada masalah akses pada layanan alat kontrasepsi. Ada yang tinggi cakupannya, ada yang sangat rendah,” kata Budi. https://flo.uri.sh/visualisation/10493511/embed

Pada 2017 angka kematian ibu di Indonesia masih 177 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Karena cukupan alat kontrasepsi sudah relatif tinggi dan ada tantangan besar untuk menaikkannya, maka untuk menurunkan jadi 70 kematian pada 2030 akan tergantung pada keefektifan sistem kesehatan dalam menangani risiko kesehatan pada perempuan yang hamil dan begitu mereka melahirkan.

Ahmad Nurhasim, Editor Sains + Kesehatan, The Conversation

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Ahmad Nurhasim

Editor Sains + Kesehatan, The Conversation

Let's share!