‘Dear My Friends’, Drakor Yang Ajarkan Bagaimana Jadi Tua dan Bahagia

Buat saya, drakor lansia ini sungguh menjadi penyegar tema-tema drakor yang bertebaran bintang muda.

Drakor lansia yang tayang di tVN ini mengingatkan saya pada suatu hal.

Saat masih berusia 20an, saya berpikir bahwa menjadi 40-an itu keren, stabil, dan tak perlu lagi melakukan kesalahan-kesalahan tak perlu.

Saya membayangkannya seperti pemain catur yang sudah menjalankan berbagai langkah pion, menjadi tua berarti semakin mampu mensimulasikan sejumlah kejadian yang belum terjadi, lalu bisa mengambil keputusan tepat atas itu.

Saat sudah 40-an, tentu saja enggak sesimple itu.

Maklum ya, umur 20-an masih naif dan mikirnya linier banget. Hahaha.

Di usia 40-an, kesalahan-kesalahan baru tetap saja dilakukan. Namun hal baiknya, kita tak perlu lagi ambil pusing dengan apa pandangan orang. Prioritas perhatian kita makin mengecil di lingkaran keluarga dan barangkali teman dekat.

Atau …teman yang dianggap dekat.

Makin bertambah usia, jejaring makin luas, namun daftar teman yang bisa kita hubungi kapan saja tanpa sungkan, makin menciut.

Sebab merawat pertemanan memang bukan perkara gampang. Bukan sekadar saling kasi komentar dan jempol di media sosial.

Makanya, ide geng pertemanan sampai tua yang ditawarkan pada drakor Dear My Friends mengusik saya. Kalau nanti saya diberi umur panjang, seperti apa lingkaran pertemanan yang bakal dijalani.

Kisah Dear My Friends berpusat pada kehidupan 5 perempuan lansia yang masing-masing punya kehidupannya sendiri.

Anak-anak yang semakin dewasa dan punya banyak urusan, zaman yang terus bergerak sehingga melebarkan gap antar generasi, hingga tubuh yang tak lagi menopang utuh.

Kompleks, sesekali dramatis.

Sebab permasalahan orang tua, sama rumitnya dengan anak 20-an.

Inilah mungkin, manusia memang akan terus selalu belajar dalam fase hidupnya, bahkan mungkin saja selalu gelisah.

Karakter drakor lansia Dear My Friends

Drakor ini luar biasa karena menempatkan para lansia sebagai tokoh sentra. Aktornya beken semua. Ada sih tokoh muda, tapi cuma segelintir sebagai pelengkap cerita.

Para lansia sebagai tokoh utama cerita ialah teman-teman masa sekolah. Pada sebuah reuni, persabahatan mereka terjalin makin erat lagi. Dari titik itu, kisah bergulir.

Tentu saja, ada yang lebih dekat satu sama lain.

Jang Nan-hee

Diperankan Go Doo-shim, Nan-hee adalah ibu dari seorang putri. Meski putrinya sudah beruisa 40 tahunan, Nan-hui tak juga bisa melepas sakit hatinya kepada mantan suami yang selingkuh dan akhirnya meninggal.

Bermodal dendam dan marah, ia menjadi single parent yang kokoh dan perkasa, membesarkan anak dan mengurus keluarganya (ibu berusia 90an, ayah yang pikun, dan adik yang cacat). Nan hee sukses mengelola restoran.

Park Wan

Sementara si anak, Park Wan (Go Hyun-jung) berprofesi sebagai penulis, belum menikah karena enggak bisa move on dari pacarnya yang super ganteng (diperankan Jo In Sung gituhhh) tapi cacat. Sebab sejak ayahnya selingkuh, ia sudah menguatkan hati untuk jadi satu-satunya sandaran dan andalan sang ibu. Dan ibunya wanti-wanti, jangan pernah pacaran sama suami orang atau orang cacat.

Yeong won

Diperankan Park Won-sook adalah artis yang beken sejak muda, menjalani kehidupan glamor, dua kali kawin-cerai, dan gonta ganti pacar.

Namun cintanya cuma untuk sang cinta pertamanya -yang sempat ia pacari saat jadi suami orang, namun tak bisa ia nikahi mesti si cinta pertama sudah cerai selama 30 tahun.

Yeong won juga aktris yang masih produktif, penyintas kanker yang hangat dan supportif. Ia dimusuhi Nan-hee puluhan tahun karena dianggap tak setia, lantaran tak memberi tahu perselingkuhan suami Nan-hee.

Choong-nam, Hee-ja, dan Nan-hee

Choong-nam

Diperankan Youn Yuh-jung, perempuan lajang ini tak sempat mencari atau didatangi cinta saat muda karena ia sibuk menghidupi sembilan saudaranya saat mereka jadi yatim piatu, lalu mengurusi cucu dan para keponakan.

Ia kaya raya di usia tua, tanpa cinta yang ia damba. Ia takut mati sendirian, karenanya meminta dua ponakan tinggal bersama sekaligus mengurus cafe. Di usia tua, ia merasa kehilangan masa muda, dan berusaha mendapatkannya lagi dengan bergaul bersama teman-teman muda, para profesor – seniman yang memanfaatkan hartanya.

Jo Hee-ja

Diperankan aktris Kim Hye-ja, Hee-ja adalah ibu tiga putra yang tak pernah melepaskan rasa bersalah atas kematian sang sulung saat bayi, yang tak ia sadari masih membebani langkahnya sehingga ia menjadi sosok orang tua “yang sulit”.

Gesturnya pun seperti nenek-nenek yang “ngeselin” dan punya banyak hal dalam otaknya. Aku sempat merasa Hee-ja ini pasti Gemini. hahahah

Suaminya meninggal di dalam lemari karena rasa bersalah namun Hee-ja digosipkan telah mengunci suaminya di lemari hingga tewas, sementara ia berjuang melawan demensia.

Jeong-ah

Sosok istri nrimo ini diperankan Na Moon-hee. Ia sepenuhnya mengabdi kepada keluarga sejak muda, dan masih percaya janji sang suami saat bulan madu mereka -traveling keliling dunia. Ia membantu anak-anaknya, secara bergantian pergi ke rumah 3 tiga putrinya, memasakkan lauk dan membersihkan rumah mereka. Ia mendapat bayaran untuk itu.

Jeong-ah banyak menahan diri dengan suami yang terbiasa ia urus, hingga akhirnya ia lelah dan memutuskan berpisah dengan suami di usia 70-an.

Drakor lansia ini juga menghadirkan tokoh lelaki.

Seok-gyun

Suami Jeong ah (diperankan Shing Goo) adalah sosok pelit dan suka menggerutu hampir sepanjang usia dewasanya. Ia yang awalnya lelaki manis dan penyayang pada istri, berangsur menjadi kasar dan perundung ketika hidup makin sulit, dengan tiga anak yang harus dibesarkan. Sejak awal ia bukan ayah yang menunjukkan cinta dengan berkata-kata.

Seong-jae

Diperankan Joo Hyun, Seong-jae dinilai paling sukses oleh teman-temannya. Ia kuliah, berkarier menjadi jaksa dan hakim, lalu pensiun dan menjadi pengacara. Seong-jae pernah mencintai Hee-ja di masa muda, dan kembali CLBK di usia senja ketika sang istri sudah meninggal dan anak-anak dewasa.

Dari masing-masing karakter saja, drakor lansia ini sudah menawarkan kisah yang menarik ya. Meski drama ini tergolong slice of life, no drama-drama club, 16 episode serial yang tayang pertama kali 2016 ini bisa bikin saya sanggup nonton marathon.

Sesekali sesenggukan, dan banyak mikir.

Betapa saya kekurangan literasi mengenai lansia, -atau kurang mencari- sehingga kadang canggung bersikap kepada orang tua yang makin menua.

Mungkin betul kata Park Wan.

Meski kita sudah jadi orang tua, tetap saja kita adalah anak dari orang tua kita, dan merasa mereka selalu ada untuk selamanya, lebih tau dan lebih cakap.

Padahal, enggak.

Di masa tuanya, mereka butuh teman, bukan anak yang mengasihani.

Butuh sosialisasi, butuh hiburan.

Duh, seketika jadi ingat mama yang pengen kurma. Cepetan deh beliin dulu.

Bye for now. Maafkan pada akhirnya tulisan ini belum jadi review drakor lansia yang kumplit. But, please watch. Currently airing on Netflix.

Buat saya, drama lansia ini sungguh menjadi penyegar tema-tema drakor yang bertebaran bintang muda. Sekali lagi, drama tVN ini menambah panjang daftar drakor berkualitas.

dwisep

Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!