Farwiza Farhan Jadi Sosok Insipiratif TIME 2022: Rasanya Campur Aduk, Seneng, Kaget, Mau Pingsan

Kecintaan dan konsistensi Farwiza Farhan dalam menjaga ekosistem hutan di Aceh berbuah apresiasi oleh TIME Magazine. Farwiza dinobatkan sebagai salah satu figur dalam daftar TIME100 Next 2022.

Dalam laman Instagramnya, ketika dihubungi Konde.co, Farwiza Farhan menulis soal kesan mendalam tentang bagaimana perasaannya ketika tiba-tiba menjadi sampul majalah TIME.

“Hal pertama yang orang tanyakan kepada saya: bagaimana rasanya dinobatkan sebagai salah satu dari TIME 100 selanjutnya? Lalu bagaimana rasanya berada di sampul TIME?

Surealis kurasa. Sebagai seorang gadis yang tumbuh di lingkungan universitas, saya melihat diri saya sebagai seseorang yang akan memetakan jalur akademis dan menjadi seorang peneliti. Saya adalah seorang kutu buku yang penuh harapan, yang membayangkan kehidupan di laboratorium biologi kelautan, bukan di depan kamera. Saya introvert canggung yang merasa nyaman di rumah, di hutan, di bawah air, tetapi harus belajar untuk melihat kenyamanan di depan umum.

Aku bukan siapa-siapa. Saya gagal banyak kelas sepanjang tahun ajaran saya dan banyak lagi di universitas, sampai saat ini saya masih berjuang untuk menyelesaikan PhD saya. Jika ada, saya kebetulan sangat keras kepala, dan gigih, dan akan. hanya. menyimpan. mendorong. maju. Sampai keadaan mulai berubah. Entah bagaimana, saya diberi hadiah: orang-orang luar biasa yang mendukung saya dalam pertarungan ini.

Tetapi saya tidak pernah melupakan titik di mana saya memulai, dan itu membuat saya rendah hati untuk menyadari bahwa begitu banyak dari ini, tidak pernah menjadi milik saya sendiri. Saya ingat perjuangan saya dan itu membuat saya ingin mengatakan bahwa jika Anda berjuang hari ini, untuk alasan apa pun, ingat itu bukan akhir.”

Farwiza adalah pemimpin Forest, Nature & Environment Aceh (HAkA) . Yayasan HAkA adalah lembaga nirlaba yang berbasis di Aceh, dengan fokus di penguatan perlindungan, konservasi dan restorasi Kawasan Ekosistem Leuser. Yayasan HAkA berupaya untuk memperkuat peran masyarakat akar rumput dalam perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam.

Dalam rilis yang diterima Konde.co, Farwiza menyatakan, awalnya ia berangkat dari keingintahuan, ingin explore alam, senang bermain di laut. Senang snorkeling lalu senang menyelam.

“Awalnya ingin menjadi Marine Biologist yang tugasnya meneliti keanekaragaman hayati laut, sesudah menjadi Marine Biologist merasa tidak sanggup melindungi laut. Jadi banting setir berusaha melindungi hutan, saya kira lebih mudah – ternyata tidak. Tapi dari rasa ingin tahu, muncul rasa sayang, rasa ingin melindungi, rasa ingin ikut andil untuk memperbaiki keadaan. Dari situ pelan-pelan belajar, belajar mendengar, belajar berinteraksi dengan masyarakat, belajar bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Kita memerlukan welas asih dan kasih sayang dalam upaya untuk mengkonservasi hutan. Belajar untuk menghormati pengetahuan yang berakar di tingkat tapak, dari masyarakat yang sudah turun-temurun mengelola dan melindungi sumber daya alam.”

Adapun TIME100 Next 2022 yang dirilis bulan ini, disusun dan diterbitkan oleh TIME, majalah internasional berbasis di kota New York City, Amerika Serikat, yang memuat seratus tokoh berdampak di bidangnya masing-masing dari seluruh dunia.

Bagaimana perasaannya setelah masuk dalam TIME100 Next 2022? Farwiza mengatakan, sebenarnya perasaannya cukup campur aduk.

“Tentu ada rasa senang, kaget, terharu, antara mau nangis dan mau pingsan pas liat bisa masuk di cover, dengan cerita yang ditulis Jane Goodall. Sayangnya, penghargaan seperti ini sering kali misrepresent kenyataan kerja-kerja yang kami lakukan, seolah-olah saya melakukan segalanya sendiri. Padahal kenyataannya kita bekerja bersama, tidak hanya team di Yayasan HAkA (@haka_sumatra) tapi juga kelompok masyarakat yang menjadi mitra kami, LSM lain yang juga berjuang bersisian dengan kami, serta aktor-aktor lain yang aktif memperjuangkan perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser. Ini adalah apresiasi untuk semua yang sudah, terus dan akan menumpahkan cinta, waktu dan dedikasinya untuk Kawasan Ekosistem Leuser.”

Narasi tentang Farwiza Farhan dalam TIME100 Next 2022, ditulis oleh Jane Goodall, seorang ilmuwan dan tokoh pelestarian alam internasional yang juga merupakan United Nations (U.N.) Messenger of Peace atau Duta Perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Dalam rilis yang diterima Konde.co, awalnya Farwiza Farhan dihubungi oleh Cate Matthews, editor majalah TIME, untuk mengirimkan informasi tentang kerja-kerja Yayasan HAkA di Kawasan Ekosistem Leuser. Informasi tersebut melatarbelakangi nominasinya dalam TIME100 Next 2022. Prosesnya berlangsung paralel dengan pengambilan foto sampul yang dijadwalkan pada 2 September lalu.

Beberapa pekan kemudian, ia menerima kabar terpilih sebagai salah satu kandidat untuk TIME100 Next tahun 2022.

Secara ringkas, kisah tentang Farwiza Farhan yang disampaikan Jane Goodall dalam TIME100 Next 2022 menjelaskan bahwa upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup, serta peningkatan pendidikan bagi perempuan di kawasan yang berada dekat dengan hutan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Farwiza Farhan, yang berasal dari Aceh, dijadikan contoh nyata oleh Jane tentang sosok perempuan yang turut aktif menjaga alam dari penebangan pohon dan pembalakan liar, perburuan satwa-satwa penghuni ekosistem Leuser, hingga membentuk ikatan komunikasi dengan masyarakat.

Dalam kiprahnya Farwiza Farhan tentu tidak sendirian. Ia merupakan bagian dari Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) dengan berbagai program, baik yang dijalankan secara taktis di lapangan, maupun berupa kampanye dan edukasi kepada publik. Dari beberapa kesempatan tersebut, Farwiza Farhan pernah menjadi salah satu pembicara di Konferensi TEDxJakarta, WebSummit, WomenDeliver, One Young World, termasuk menjadi salah satu narasumber jarak jauh dalam TED Countdown 2021 yang fokus pada isu lingkungan dan krisis iklim Semua bentuk keterlibatannya tersebut menjadi rekam jejak yang mendukung nominasinya dalam daftar TIME100 Next 2022.

Tanggung Jawab Bersama Menjaga Alam

Dinominasikannya Farwiza Farhan dalam TIME100 Next 2022 menjadi refleksi untuk terus konsisten dalam upaya menjaga kelestarian alam. Disebutkannya, ada banyak tantangan yang mengadang, salah satunya adalah paradigma yang kerap kita miliki.

“Salah satu kendala adalah paradigma banyak orang, bahwa perlindungan lingkungan itu tugas aktivis lingkungan atau pemerintah saja, atau bahwa perlindungan hutan dan alam mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah perspektif yang perlu untuk diluruskan.

Ada banyak kesempatan pembangunan ekonomi tanpa mengorbankan alam, dan kita semua menikmati jasa lingkungan seperti air dan udara bersih. Menjadikannya tanggung jawab bersama untuk melindunginya,” kata Farwiza Farhan, Sabtu (30/9/2022).

Farwiza Farhan juga memberikan penekanan khusus bahwa penting bagi perempuan untuk turut mengambil peran dalam proses dan upaya pengelolaan lingkungan.

“Perempuan juga perlu mengklaim haknya untuk turut mengambil keputusan yang akan berpengaruh pada penghidupannya. Perempuan punya peran di semua sektor, dan banyak data yang menunjukkan bahwa ketika perempuan mengambil peran – usaha apa pun yang ingin dilakukan punya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Ketika perempuan terlibat dalam resolusi konflik, proses perdamaian punya kemungkinan untuk 35 kali lebih besar untuk bertahan sampai 15 tahun atau lebih. (Alaa Murabit, 2019).”

Farwiza mengatakan, keterlibatan perempuan dalam bisnis dan ekonomi mendorong pertumbuhan dan pembangunan yang lebih adil dan inklusif. Begitu juga dengan sektor lingkungan – perempuan menanggung beban terbesar ketika kerusakan lingkungan berujung pada bencana, maka penting bagi perempuan untuk turut mengambil peran dalam proses untuk memutuskan upaya pengelolaan lingkungan.

(Foto: https://www.oneearth.org/)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!