Feminisme Dalam Film ‘The Woman King’: Perlawanan Prajurit Perempuan Afrika

Jika kamu ingin lihat bagaimana praktik perbudakan yang terjadi di masa lalu yang mengorbankan para perempuan, tontonlah film “The Woman King.” Film ini juga menyajikan perlawanan para prajurit perempuan terkuat di Afrika dan bagaimana feminisme menjadi semangat dalam perjuangan melawan perbudakan dan patriarki.

Sebagai perempuan, Nanisca hidup penuh luka: diperkosa, dijual sebagai budak,  hamil sendirian dan melahirkan. Lalu harus memisahkan diri dari anak yang baru dilahirkannya.

Luka di masa lalu, wajah laki-laki pemerkosa yang tak pernah hilang dalam ingatannya,  membuat ia melakukan perlawanan. Gigih, berani, tak kenal menyerah.

Banyak tulisan yang menyebut bahwa film “The Woman King” adalah film feminis yang menunjukkan perlawanan dari perempuan kulit hitam di masanya.

Nanisca (Viola Davis), sebagai tokoh utama, mengalami sederet mimpi buruk yang juga dialami para perempuan di Afrika Barat pada abad ke- 17 hingga ke- 19. Jika laki-laki miskin dijual sebagai tenaga kerja yang tidak dibayar, nasib perempuan lebih keji, diperistri laki-laki kaya-hanya statusnya saja sebagai istri, tapi mereka diminta melayani secara seksual dan dipekerjakan tak dibayar.

Peristiwa inilah yang selalu menghantui Nanisca muda. Viola Davis memerankan Nanisca atau Jendral Agojie. Perkosaan dan anak hasil perkosaan yang dititipkannya pada misionaris ketika ia muda tak bisa membuatnya lupa. Setelah peristiwa kejam itu terjadi, Nanisca kemudian bergabung dengan prajurit perempuan sampai kemudian jadi puncak pimpinan sebagai jenderal perang di Hayomen, Afrika.

Film yang disutradarai oleh Gina Prince-Bythewood dan bisa ditonton sejak awal September 2022 ini berkisah tentang prajurit perempuan yang berperang untuk melindungi Kerajaan Dahomey di Afrika Barat pada abad ke-17 hingga ke-19 dari perbudakan yang dilakukan oleh kerajaan dan negara-negara lain yang datang di pelabuhan mereka dan memperbudak. Dengan memiliki budak, negara-negara lain ini bisa mendapatkan tenaga kerja murah dan kekayaan dengan cepat.

Dalam film, kamu bisa melihat bagaimana para kaisar atau negara-negara lain yang datang hilir mudik dengan kapal dan berhenti di pelabuhan. Mereka menawar budak dengan harga murah. Begitu juga yang terjadi di Dahomey. Para budak dijual oleh kekaisaran Oyo ke negara-negara lain.

Para budak diletakkan di dalam kerangkeng menunggu kapal-kapal perbudakan negara  berikutnya datang menjemput

Jika kamu ingin melihat praktik perbudakan, gambaran pendudukan negara-negara lain di masa lalu, kamu bisa tonton film ini.

Perbudakan yang bertubi-tubi ini membuat Hayomen bangkit untuk melawan. Nanisca memimpin prajurit Afrika yang dalam sejarahnya merupakan prajurit perempuan terkuat. Mereka sering dilecehkan. Hidup menjadi prajurit sama saja memilih untuk tidak menikah, karena tidak ada pilihan buat perempuan di masa itu, karena pilihan lain yaitu dijual pada laki-laki kaya yang menjadikan mereka istri sekaligus budak.

film action prajurit perempuan Afrika ini benar-benar menggetarkan. Film ini terinspirasi oleh kerajaan Dahomey (sekarang Benin) Afrika barat abad ke-19 dan Agojie-nya, sebuah brigade pejuang perempuan Amazon yang tangguh dan banyak ditakuti oleh laki-laki manapun.

Sejumlah resensi menyebut film ini sebagai pertunjukan feminis dan teatrikal dari para perempuan yang melawan perbudakan

film The Woman King mengikuti kisah Jenderal Nanisca (Viola Davis), pemimpin kelompok pejuang yang semuanya adalah perempuan, yang dijuluki Agojie yang membebaskan para perempuan Dahomey yang diculik oleh para penjual budak dari Kekaisaran Oyo. Hal ini juga membuat Raja Ghezo (John Boyega) dari Dahomey menjadi terinspirasi untuk melawan kekaisaran Oyo bersama Nanisca.

Nanisca kemudian bertemu dengan Agojie muda bernama Nawi (diperankan dengan sangat memukau oleh Thuso Mbedu), yang ambisius dan sama kokohnya seperti sang jenderal. Cerita luka-luka di masa lalu, kasih sayang yang terabaikan, kegigihan perempuan kemudian dengan sangat apik terlihat disini, dalam acting memukau antara Viola Davis dan Thuso Mbedu.

Nasib Nawi tak kalah buruknya. Ia yatim piatu, diadopsi menjadi anak dan kemudian dijual oleh bapak asuhnya pada laki-laki kaya. Karena melawan, bapak asuhnya kemudian memasukkan ke kamp Hayomen untuk berperang. Di masa itu, perlawanan seperti ini sulit sekali dilakukan karena masa itu dikenal sebagai masa perbudakan dimana manusia yang lemah, miskin, bisa diperbudak oleh siapa saja. Nasib perempuan sama saja, bisa diperkosa dan ditinggalkan sendiri di hutan.

Sebagai prajurit muda, Thuso Mbedu memainkan karakter Nawi dengan baik, natural, feminis, keberanian dan pemberontakannya sebagai perempuan muda. Nawi seperti menjadi pahlawan kedua, feminis muda yang kemudian menolak kartu truf dari laki-laki asing untuk ‘membebaskannya’ dari perbudakan- dengan asmaranya dengan salah satu tuan budak yang datang ke Dahomey. Nawi tidak memilih asmara ini dan memilih  ruang yang lain.

The Woman King merupakan adaptasi dari cerita yang ditulis oleh Stevens bersama Maria Bello pada tahun 2015 setelah ia mengunjungi Benin, tempat di mana Kerajaan Dahomey diduga berada beberapa abad lalu.

Sejumlah artikel menyebut ini sebagai film feminis yang sangat penting, bagaimana perempuan kulit hitam di abad ke-17 telah melakukan perlawanan pada laki-laki yang berkuasa, melawan laki-laki kulit putih, penjajahan, perbudakan dan perlawanan atas dunia yang patriarki.

Situasi sulit ini yang diketengahkan dalam film dan menjadi catatan penting tentang perjuangan para feminis kulit hitam di masa itu.

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!