Edisi Khusus Feminisme: Feminisme Sosialis, Kapitalisme dan Ketidaksetaraan Gender Adalah Titik Opresi Perempuan

Feminisme sosialis merupakan sinonim dari perjuangan feminisme Marxis. Feminisme Marxis menempatkan penindasan terhadap perempuan dalam kelas pekerja, maka feminisme sosialis memperjuangkan ketidaksetaraan gender di dunia kerja sampai reproduksi dan seksualitas di ranah domestik

Konde.co menyajikan Edisi Khusus Feminisme yang bisa kamu baca setiap Senin, selama bulan November 2022 sampai Januari 2023. Edisi khusus ini berisi teori sekaligus perjuangan feminisme. Edisi ini merupakan bagian dari Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2022

Sebagai seorang perempuan yang hidup dalam masyarakat kapitalis, kamu mungkin merasa gamang menyaksikan makin kompetitifnya peluang kerja, masih adanya kesenjangan upah berbasis gender atau makin tingginya biaya sekolah dan kuliah. Mungkin juga kamu menyaksikan perempuan-perempuan di sekitarmu yang bekerja di luar rumah tetapi masih harus berjibaku menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mengurus segala kebutuhan keluarga.

Atau ada juga yang mempekerjakan perempuan dari strata ekonomi yang lebih rendah untuk urusan rumah tangganya. Bisa juga ada yang mendapat dukungan dari keluarga besarnya, entah ibu, mertua, atau perempuan anggota keluarga yang lain untuk mengurus anaknya ketika ia sedang bekerja.

Belum lagi tuntutan untuk menjadi cantik, smart, dan menarik dengan menggunakan ukuran-ukuran yang menurutmu kadang tidak masuk akal. Bahkan mungkin juga kamu merasa marah saat mendengar atau membaca pemberitaan media tentang pelecehan seksual yang terjadi di tempat kerja. Atau kekerasan seksual yang dialami perempuan baik di ruang publik maupun di ranah privat. 

Jika kamu memikirkan persoalan-persoalan di atas dan terganggu dengan realitas ini, juga merasa ada yang perlu diubah dari kondisi tersebut, sebenarnya kamu sedang menggunakan kerangka berpikir feminisme sosialis.

Ya, feminisme sosialis meyakini bahwa penindasan dan ketidaksetaraan perempuan bersumber pada kapitalisme dan patriarki. Feminis sosialis berfokus pada bagaimana sistem ekonomi khususnya ekonomi kapitalisme menjadi sumber penindasan. Pemikiran ini memandang bahwa kapitalisme dirancang untuk melayani kepentingan laki-laki sambil mengeksploitasi perempuan. Pekerjaan perempuan dibayar rendah, tidak dihargai, dan sering kali tidak dibayar. Perempuan juga tidak banyak berada pada posisi pekerjaan yang terkait dengan pengambilan keputusan. Sebaliknya perempuan lebih mungkin menjadi prekariat, pekerja dengan jam kerja, kontrak kerja, jaminan kerja, dan lingkup kerja yang tak tentu. 

Lebih jauh feminisme sosialis sekaligus menekankan ketidaksetaraan gender sebagai kekuatan budaya yang berasal dari patriarki. Karena itu feminisme sosialis meyakini kapitalisme tidak dapat dihancurkan kecuali patriarki juga dihancurkan.

Singkatnya, perempuan harus menjalani dua perang untuk terbebas dari kekuatan opresi. Banyak yang berpendapat bahwa teori feminis sosialis secara inheren bersifat interseksional karena berfokus pada setidaknya dua bentuk penindasan: kelas dan gender. Namun kritik feminis sosialis sering meluas ke banyak bidang lain—ia menekankan efek buruk dari homofobia, islamofobia, dan bias berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender. 

Selain itu feminis sosialis juga menekankan pentingnya pemahaman tentang dampak berkelanjutan dari kolonialisme, imperialisme, dan rasisme terhadap perempuan di dunia. 

Perkembangan Feminisme Sosialis 

Dalam perkembangannya, terdapat sejumlah gagasan feminis sosialis yang punya kontribusi penting, diantaranya gagasan Juliet Mitchell, Iris Young dan Alison Jaggar.

Pembahasan gagasan ketiga feminis ini sebagian besar mengacu pada paparan Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought

Juliet Mitchell meninggalkan posisi feminis Marxis tradisional yang menempatkan kondisi perempuan sebatas suatu fungsi dari hubungannya dengan kapital. Tak bersepakat dengan penjelasan yang bersifat tunggal atas opresi terhadap perempuan, Mitchell berpendapat bahwa status dan fungsi perempuan ditentukan secara jamak oleh perannya pada produksi, reproduksi, serta sosialisasi anak-anak dan seksualitas. 

Menurut Mitchell, kesalahan dalam pemikiran Marxis lama adalah melihat ketiga elemen ini sebagai sesuatu yang dapat direduksi menjadi elemen ekonomi semata, padahal kenyataannya tak hanya dilihat dari perspektif ekonomi. Tuntutan ekonomi masih merupakan sesuatu yang primer, tetapi harus diikuti oleh kebijakan yang koheren bagi ketiga elemen yang lain sepertu reproduksi, seksualitas dan sosialisasi). 

Sementara itu Iris Young berpendapat bahwa kelas adalah kategori yang buta gender, ia tidak memadai untuk analisis opresi khusus terhadap perempuan. Karenanya Young menawarkan kategori yang melek gender seperti “pembagian kerja”.

Menurutnya kategori ini mempunyai kekuatan konseptual untuk mentransformasi teori feminis Marxis menjadi teori feminis sosialis yang mampu membahas seluruh kondisi perempuan. Mencakup posisinya di dalam keluarga dan di tempat kerja, juga peran reproduksi dan seksual perempuan serta peran produktifnya. 

Menurut Young, analisis pembagian kerja lebih spesifik daripada analisis kelas yang standar. Analisis kelas mendorong diskusi umum mengenai peran masing-masing dari kaum borjuis dan proletar. Sementara analisis pembagian kerja mensyaratkan diskusi yang terperinci terkait siapa yang memberi perintah dan siapa yang melaksanakan, siapa yang melakukan pekerjaan menstimuli dan siapa yang melakukan pekerjaan kotor, siapa yang mengambil jam kerja yang disukai dan siapa yang bekerja pada jam kerja yang tak disukai, serta siapa yang mendapat bayaran lebih besar dan siapa yang dibayar lebih rendah. 

Karena itu analisis pembagian kerja dapat menjelaskan dengan lebih baik mengapa perempuan biasanya menerima perintah, melakukan pekerjaan kasar, bekerja pada jam yang tidak disukai dan dibayar lebih kecil. Sementara laki-laki berada pada situasi yang sebaliknya. 

Young meyakini bahwa kapitalisme dan patriarki saling berkaitan. Karena itu menurutnya analisis pembagian kerja merupakan pengganti dari dan bukan sekadar tambahan atas analisis kelas.

Beralih ke Alison Jaggar, ia menolak doktrin Marxis tradisional bahwa seseorang harus berpartisipasi langsung di dalam hubungan produksi kapitalis untuk dianggap benar-benar teralienasi. Jaggar mengklaim, bukan saja perempuan yang tidak memperoleh upah (tidak bekerja di sektor publik) yang teralienasi, melainkan perempuan yang mempunyai upah juga mengalami alienasi, sebagaimana laki-laki yang bekerja untuk mendapatkan upah. Jaggar berargumen alienasi perempuan terkait dengan pengalaman seksualitas, motherhood dan intelektualitas.  

Menurut Jaggar, dengan cara yang sama seorang buruh dialienasi atau dipisahkan dari produk yang dikerjakannya, seorang perempuan dialienasi dari produk yang dihasilkannya—tubuhnya. Seorang perempuan dapat mengatakan ia melakukan diet, olahraga dan berpakaian untuk menyenangkan diri, tetapi pada kenyataannya ia membentuk dan menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki.  

Perempuan perlahan-lahan teralienasi dari tubuhnya sejalan dengan usaha yang dilakukan atas tubuhnya. Tubuhnya menjadi objek bagi laki-laki dan bagi dirinya sendiri. Akhirnya perempuan selalu dalam persaingan dengan perempuan lain untuk mendapatkan “male gaze”, untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan dari laki-laki.  

Seperti seksualitas, menurut Jaggar, motherhood juga merupakan pengalaman yang mengalienasi bagi perempuan. Seorang perempuan dialienasi dari produk pekerjaan reproduksinya ketika orang lain dan bukan dirinya yang memutuskan misalnya jumlah anak yang akan ia kandung. Begitu juga dalam proses kerja reproduksi, perempuan dialienasi ketika ahli kandungan mengatur dan menguasai keseluruhan proses melahirkan. 

Pengasuhan anak juga menjadi pengalaman yang mengalienasi ketika ahli ilmu pengetahuan (yang kebanyakan laki-laki) bukan perempuan mengambil kendali dari pengalaman itu. Standar yang menentukan cara menjadi ibu yang “seharusnya” menghambat tumbuhnya pertemanan antara perempuan dan ibu bersaing satu sama lain untuk menghasilkan dan memproses “anak yang sempurna.” 

Selain teralienasi dari seksualitasnya dan dari produk dan proses motherhood, perempuan juga teralienasi dari kapasitas intelektualnya. Seorang perempuan dibuat untuk merasa sangat tidak yakin akan dirinya sendiri, ragu mengungkapkan gagasannya di depan publik, karena takut pandangannya tidak cukup layak untuk diungkapkan.

Menurut Jaggar, selama laki-laki yang menetapkan kerangka pemikiran dan wacana, perempuan tidak akan pernah merasa nyaman.

Jaggar menekankan dalam struktur patriarki kapitalis abad ke-20, opresi terhadap perempuan mewujud dalam alienasi perempuan dari segala sesuatu dan dari setiap orang, terutama dirinya sendiri.

(Foto/ image: Freepik)

Anita Dhewy

Wakil pemimpin redaksi Konde.co dan lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI). Sebelumnya pernah menjadi pemimpin redaksi Jurnal Perempuan, menjadi jurnalis radio di Kantor Berita Radio (KBR) dan Pas FM, dan menjadi peneliti lepas untuk isu-isu perempuan

Let's share!