Mentalku Kena: Kupilih Atheis, Meskipun Berhijab

Stres berat akibat bully memaksa Devina untuk terus berkonsultasi ke psikolog klinis. Tak makin reda, hidupnya malah dipenuhi pergolakan dan tekanan batin. Kuliahnya drop out. Devina terkena kesehatan mental dan skizofrenia paranoid.

Devina, bukan nama sebenarnya. Dia tinggal di bilangan Jakarta Selatan. Usianya masih muda, 25 tahun. 

Devina berasal dari keluarga ekonomi mapan, bahkan keluarga besarnya cukup tersohor di Indonesia. Paman dan bibi-bibinya biasa menghiasi layar kaca TV nasional, begitu pun Ayah dan Ibunya memiliki pengaruh yang kuat di bidangnya.

Semua kisah berawal dari bully yang dialami Devina dan sangat menyakitkan perasaannya di kampus P, di kawasan Jakarta Selatan. Devina menyimpan emosi terpendam didada. Saat SMP dan SMA prestasinya luar biasa hebat— hingga menembus level nasional.

Stres berat akibat bully itu memaksanya rutin untuk terus berkonsultasi ke psikolog klinis. Tak makin reda, hidupnya malah dipenuhi pergolakan dan tekanan batin dari luar dan dalam, terutama pihak keluarganya. Kuliahnya terpaksa drop out.

Dia divonis kena skizofrenia paranoid— tapi tidak akut. “Selalu ada suara-suara di telingaku yang mengajakku bunuh diri, “kata Devina. Sekarang tiap minggu, dia harus mengunjungi psikiater dan mengonsumsi obat-obatan yang membosankan.

Bakatnya menari, melukis dan seni lainnya. Dunia artistik menjadi nafas hidup Devina sejak kecil. Tapi dia terperosok pada pilihan yang salah, meski itu keinginannya sendiri. Dia mengambil kuliah jurusan hukum yang membosankan.

“Saya sudah mengingatkan, jiwanya itu seni, bukan menghafal pasal-pasal dalam KUHP, “sergah Romy, Ayah Devina.

Pergulatan batin Devina dalam menemukan Tuhan dan keyakinan, sulit dibendung. Hal inilah yang membuat kedua orangtua Devina berang. Tak bisa menerima kenyataan bahwa anak perempuannya murtad. Bagi keluarganya, agama Islam adalah agama yang sempurna.

Saat duduk dibangku SMP, Devina diam-diam memuji nama Yesus. Ketika SMA, dia mencoba diam-diam meyakini dan mengikuti ajaran Kristiani. Pertentangan itu tidak cuma di keluarga intinya— namun juga keluarga besarnya yang tersohor.

Dipaksa Devina masuk pesantren khusus putri di Jakarta Selatan oleh si paman. Tapi yang terjadi, dia mengalami pelecehan seksual di dalam lingkungan pesantren. Kisah pedih itu diceritakan kepada Ayah dan Ibunya. Tapi kedua orangtuanya menganggap angin lalu, dan sekedar bualan anak muda yang mengidap kelainan “mental”. Ketidakpercayaan orang tua itu, melahirkan dendam, bara di dadanya hingga perasaan terluka. “Pengurus pesantren meraba pahaku, pantatku dan tubuhku lainnya, “katanya.

Selain tinggal di pesantren khusus putri beberapa bulan, Devina sempat residensi dengan maestro seniman lukis di Jawa Barat untuk memperdalam teknik melukisnya. Kemampuan artistik (visual) nya unik, dia pun telah banyak berkarya, termasuk ikut pameran lukisan. Dia juga mengajar workshop melukis bagi anak-anak disabilitas dan aktivitas seni lainnya. Devina tak cuma mengajar anak-anak disabilitas, tapi juga remaja dan dewasa. 

Hidupnya memang berliku dan penuh luka batin. Namun di suatu titik, dia tanpa berpikir panjang, memutuskan menikahi teman lelaki yang ditemuinya di pesantren. Lelaki dari keluarga Betawi yang fanatik beragama dan kolot.

Perkawinan itu tidak langgeng, cuma memperpanjang penderitaannya. Si suami tak menafkahi secara materi, dan Devina tak sanggup menjalankan Syariat Islam seperti yang dituntut keluarga suaminya. Hijab yang digunakan terpaksa, cuma untuk kamuflase dan menyenangkan kedua orangtuanya dan keluarga suaminya.

“Tekanan itu terus menerus kuterima. Tapi posisi sebagai anak harus berbakti kepada orangtua. Selagi mereka masih hidup, aku akan berhijab demi mereka, meski hatiku terluka, “ujarnya.

Berangsur Devina mulai kehilangan pegangan pada agama Islam dan Kristen, tapi dia masih meyakini Tuhan itu ada. “Aku cuma gak percaya agama, “katanya.

Retak perkawinan memicu perceraian. Meski baru seumur jagung, tapi Devina tetap teguh ingin bercerai dengan suaminya secara resmi. Pernikahannya dulu, digelar dengan ijab kabul agama Islam dan pesta meriah yang sangat unik, meski kesannya sederhana, dekorasi penuh bunga warna-warni dan sayur mayur yang dironce.

“Sekarang aku benar-benar tidak percaya Tuhan, apalagi agama. Bukan Agnostik lagi, tapi Atheis. Sampai kapan aku harus gunakan hijab ini, demi orangtua dan orang-orang sekelilingku? “ujar Devina.

Selama pandemi Covid-19, Devina bertahan hidup dari ekonomi Ayah dan Ibunya. Dia tidak bekerja, bahkan kehilangan suami yang diharapkan meringankan beban pikirannya.

“Aku tak peduli dengan cibiran orang karena pilihan Atheis. Aku tak peduli makian orang-orang. Aku menderita, terluka, dan berulang kali ingin bunuh diri. Tidak ada orang yang memahamiku, bahkan saat aku putus asa, karena mengalami bully dan pelecehan seksual di pesantren, “katanya, sambil kedua matanya berkaca-kaca.

Aku kena mental, dan beginilah hidupku sekarang!

(Ilustrasi/foto: Freepik)

Farida Indriastuti

Penggemar Tintin dan Detective Conan ini telah berkelana selama 25 tahun sebagai jurnalis, foto jurnalis dan video jurnalis ke berbagai pulau di Indonesia, menyaksikan kisah-kisah perempuan yang memilukan dan menyayat hati.

Let's share!