Menangkal hoaks terkait kesehatan reproduksi perempuan

Yuk, Berani Bersuara Menentang Hoaks Pembalut dan Seksisme Kesehatan Reproduksi

Aku baru sadar, ternyata di desa masih banyak perempuan yang dijadikan korban hoaks atau objek dagangan, dan kali ini mengenai kesehatan reproduksi perempuan.

Tiba-tiba aku mendengar pernyataan ini. Seketika aku diam seribu bahasa. Aku malu, rasanya ingin menangis, kesal, merasa bodoh, benci, geram. Perasaan itu campur aduk menjadi satu. Namun aku berusaha agar tetap tenang.

Pembalut ibu-ibu dari apa? Pembalut yang sekali pakai itu bisa bikin paha dan vagina gelap. Kalau sudah begitu, laki-laki akan mencari vagina lain,” ujar  seorang perempuan muda, sebut saja namanya Mbak Sirih. Dia mengatakan hal itu di depan ibu-ibu yang sedang memusatkan perhatian padanya. Ada peserta yang diam dan ada yang merespons dengan tertawa lantang.

Aku bingung harus bersikap seperti apa. Ini kenyataan pahit yang memang ada di masyarakat. Aku harus memutuskan, memilih diam menerima saja atau bertindak dengan segala konsekuensinya. Setidaknya itu yang aku rasakan kala itu. Batinku bergejolak ketika melihat dan merasakan kejanggalan di hari itu.

Fyi, di awal tahun 2023, aku mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu kecamatan di Jawa, bersama 11 kawan yang terdiri dari 7 laki-laki dan 4 perempuan dari beragam program studi. Nah ketika kami KKN, ada satu kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh suatu merek pembalut kain, sebut saja mereknya ‘Sirih’. Semua perempuan di desa diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut, termasuk aku dan kawan perempuanku.

Sore itu, aku dan kawanku duduk di kursi plastik yang ditata rapi di ruang aula. Kami duduk di bagian tengah bersama ibu-ibu. Hampir semuanya perempuan di ruangan ini, dan beberapa anak yang diajak ibunya. Awalnya, aku berpikir kegiatan ini akan lebih banyak membahas mengenai kebersihan organ reproduksi perempuan dan upaya untuk mencintai lingkungan. Aku berpikir sangat positif, tetapi ternyata ekspektasiku terlalu tinggi.

Narasumber kegiatan, sebut saja Mbak Sirih awalnya memaparkan mengenai perempuan yang mengalami menstruasi dilanjut dengan  sosialisasi mengenai bahaya pembalut sekali pakai. Namun, sosialisasi tersebut disampaikan dengan narasi yang penuh ketakutan dan merendahkan perempuan.

Baca Juga: Hak Aborsi Di Amerika Dicabut, Bagaimana Nasib Kesehatan Reproduksi Perempuan?

Mbak Sirih bahkan mengatakan, “Laki-laki meminang perempuan karena keturunan dan vagina. Kalau vagina perempuan diangkat, ia tidak berharga, seperti artis-artis.”

Aku yang mendengarnya merasa risih karena setahuku perempuan punya banyak hal yang membuat dirinya berharga, seperti keterampilan, sifat baik kepada semua makhluk, merawat alam dan manusia, mencintai lingkungan, dan selalu ingin belajar. tidak hanya dilihat dari fungsi seksualnya saja.

Aku melihat ke sekeliling. dan mirisnya, ibu-ibu masih mendengarkan dengan serius. Lebih lanjut Mbak Sirih mengatakan,“Pembalut biasa itu nggak bersih. Kotoran menempel di pembalut. Sedangkan produk saya ini bisa menggantikan tes IVA (untuk mendeteksi kanker leher rahim).” 

Makin ngawur saja apa yang diucapkan oleh Mbak Sirih. Risih dengan semua ucapannya yang menurutku hoaks belaka, akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara agar ibu-ibu tidak makin terpengaruh oleh apa yang ia katakan.

“Maaf, Mbak, saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan. Pembalut kain tidak bisa menggantikan tes kanker rahim dan maaf sebaiknya Mbak juga tidak menyertakan video-video operasi di sini. Itu kurang pantas dilihat oleh orang umum.”

Akhirnya keluarlah perkataan itu dari mulutku. Aku gugup, bibir dan anggota tubuhku bergetar  jantung berdebar hebat, namun aku bisa mengatasi itu.

 Lalu, bagaimana respon mbak Sirih? Sesuai dugaanku, dia menyangkal pernyataanku itu dengan raut sombong menutupi panik, dia malah mempertanyakan umurku berapa dan menyuruhku dan anak-anak seharusnya tidak di sini. Menurutnya, surat undangan hanya untuk yang berumur 20 tahun ke atas. 

Baca Juga: Toilet Bisa Jadi Tempat Curhat Perempuan dan Bicara Kesehatan Reproduksi

Melihat reaksinya yang terkesan menyindir aku justru tambah pede karena aku sudah memenuhi umur itu. Aku hanya menatapnya dengan tatapan penuh ketegasan. Aku hanya ingin dia menangkap maksudku bahwa terlepas dari berapapun umurnya, video sensitif operasi tersebut tetap tak seharusnya ditonton oleh warga secara bebas, karena bisa memicu trauma dan ketakutan.

Mengapa aku bersuara? Aku hanya ingin memberikan pertimbangan kepada ibu-ibu yang hadir bahwa yang diucapkan Mbak Sirih jangan langsung dipercaya karena tidak jelas sumbernya. Sayangnya, hoaks-hoaks yang dilontarkan sepanjang presentasi mengenai perempuan yang direndahkan dan produk bisa mengganti tes pun terlanjur diinternalisasi dan dianggap benar oleh ibu-ibu yang ada di dalam ruangan.

“Siapa yang mau pesan, Bu?,” aku mengelus dada ketika mbak Sirih menawarkan dagangan pembalut Sirih itu. Banyak sekali ibu-ibu yang berminat dengan produk Mbak Sirih karena teknik promosi dia yang penuh ketakutan itu. Sebagian ibu-ibu pesan karena ikut-ikutan yang lain. Aku lebih menyayangkan lagi ketika ibu kader Posyandu yang sama sekali tidak melakukan edukasi atas materi yang dilontarkan Mbak Sirih. Mereka malah ikut bertanya siapa yang mau pesan lagi. Aku merinding saat itu juga.

Aku baru sadar, ternyata di desa masih banyak perempuan yang dijadikan korban hoaks atau objek dagangan, dan kali ini mengenai kesehatan reproduksi perempuan. Selain itu, kedudukan perempuan juga direndahkan, hanya sebatas mengenai vagina ia bisa ditinggalkan. Sedih sekali ketika ibu-ibu terpengaruh ucapan Mbak Sirih.

Baca Juga: HR Soeharto Pahlawan Nasional: Dokter Pelopor Isu Gender dan Kesehatan Reproduksi

Namun, ibu-ibu di sebelahku jadi berpikir, “Iya juga ya Mbak, masak gitu,” katanya setelah mencoba menimbang-nimbang dan tidak berniat membeli produk Mbak Sirih tanpa kesadaran.

Dari pengalaman ini, aku makin sadar kalau kita perlu menjelaskan tentang pentingnya tidak mudah percaya, berpikir kritis, berani bertanya, memberanikan diri, dan melontarkan pendapat.

Seharusnya, tokoh desa dan masyarakat bisa lebih menyaring sosialisasi atau kegiatan yang disasarkan kepada warga. Itu dulu, ceritaku yang tidak pernah menyesal bersuara, semoga pelan-pelan bisa membantu orang lebih kritis. Kalian ada cerita yang mirip begini juga, kah? Yuk, berani bersuara!

Lena Sutanti

Pegiat isu keberagaman
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!