Cek fakta HIV dan ODHIV

Stop Stigma, Cek Fakta tentang HIV dan ODHIV

Informasi seputar HIV masih simpang siur dan kerapkali keliru. Akibatnya, orang dengan HIV (ODHIV) dilekatkan pada stigma dan penghakiman yang tidak pantas mereka dapatkan. Apa saja fakta HIV dan ODHIV yang seharusnya dipahami semua orang?

Apa yang pertama kali muncul di benakmu saat mendengar istilah HIV dan ODHIV?

Saat ini, kesadaran tentang HIV membuat masyarakat lebih terbuka mengenai kondisi kesehatan mereka. Tak jarang orang dengan HIV (ODHIV) berbagi cerita dan pengalaman, agar orang lain bisa mengantisipasi HIV sekaligus memutus rantai stigma yang selama ini dilekatkan pada ODHIV. Di sisi lain, meski simpati dan dukungan terhadap ODHIV kini mulai bermunculan, misinformasi dan disinformasi mengenai HIV masih tersebar. Hal itu berdampak pada penolakan dan persepsi keliru masyarakat terhadap ODHIV.

Mitos HIV yang masih berseliweran membuat ODHIV kerap dibayangi oleh stigma. Penyebaran mitos HIV juga membuat masyarakat kurang memahami kondisi ini secara menyeluruh. Padahal, pengetahuan yang benar tentang HIV dan ODHIV dapat membantu melawan persepsi keliru serta memberikan dukungan yang lebih baik kepada individu yang terkena dampaknya.

Yang Harus Diketahui

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini secara bertahap menghancurkan sel-sel dalam tubuh yang biasanya berfungsi untuk melawan infeksi. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit pun melemah.

Sementara itu, ODHIV berarti orang yang hidup dengan HIV. Serangan HIV membuat ODHIV yang tidak segera mendapatkan perawatan akan mengalami infeksi serius, yang disebut sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Bukan hanya berjuang menghadapi penyakit, ODHIV juga sering menghadapi stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Stigma ini didasari oleh kesalahpahaman dan ketakutan yang tidak berdasar.

Benarkah HIV dapat menular lewat sentuhan, jabat tangan, atau menggunakan alat makan bersama?

Selama ini, masih banyak orang salah memahami cara penularan HIV. Faktanya, HIV tidak begitu saja menular lewat percikan lendir dari penderita. Virus ini hanya menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu seperti ASI, darah, air mani, dan cairan vagina.

Maka dari itu, selain dari hubungan seksual, penularan HIV juga rentan terjadi saat proses transfusi darah dan penggunaan jarum suntik lainnya. Selain itu, bayi dengan ibu yang positif HIV pun tinggi risiko terpapar HIV.

Sebaliknya, sentuhan fisik yang memungkinkan percikan keringat, seperti berjabat tangan, tidak menularkan HIV. Begitu pula dengan percikan lendir dari bersin, serta penggunaan kolam renang, toilet umum, atau alat makan bersama. Penularan juga tidak terjadi lewat gigitan nyamuk dan luka terbuka.

Namun, risiko kecil penularan HIV bisa muncul apabila terjadi kontak dengan penderita yang mengalami luka. Misalnya saat seks oral dan ejakulasi pada mulut yang terdapat sariawan dan luka, atau jika terdapat luka pada alat kelamin penderita. Penularan melalui ciuman juga tidak terjadi akibat kontak langsung dengan air liur. HIV menular lewat ciuman dengan penderita HIV yang mengalami gusi berdarah atau sariawan pada mulutnya.

Benarkah hanya kelompok LGBTQ+ yang rentan terkena HIV?

HIV dan AIDS sering diidentikkan dengan kelompok LGBTQ+. Banyak orang masih mengira bahwa risiko tinggi HIV hanya terjadi pada hubungan homoseksual. Hal ini pula yang membuat HIV dinilai sebagai ‘hukuman’ dari Tuhan dan ODHIV mengalami stigma.

Padahal, HIV tidak hanya terjadi pada orang yang menjalani hubungan seksual sesama jenis. Faktanya, kasus HIV juga ditemukan pada hubungan heteroseksual, kontak non-seksual melalui penggunaan jarum suntik, dan lain-lain.

Bahkan, data Kementerian Kesehatan menyebut, jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV mencapai 35%. “Aktivitas ini telah menyumbang sekitar 30% penularan dari suami ke istri. Dampaknya, kasus HIV baru pada kelompok ibu rumah tangga bertambah sebesar 5.100 kasus setiap tahunnya,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan dr. Muhammad Syahril pada 8 Mei 2023. Angka tersebut lebih tinggi dari kasus HIV pada kelompok lelaki dengan hubungan sesama jenis (man sex with man / MSM).

Benarkah HIV hanya dapat ditularkan lewat hubungan seksual?

Penularan HIV selama ini hanya diketahui lewat hubungan seksual. Padahal sebetulnya, ada empat jalur utama penularan HIV. Antara lain hubungan seksual penetrasi / anal tanpa proteksi, transfusi darah, atau penggunaan jarum suntik / peralatan medis yang tidak steril.

Penularan juga dapat terjadi lewat kontak orang tua ke anaknya (transmisi vertikal) di kandungan, dalam proses melahirkan, atau saat menyusui. Di sisi lain, penggunaan kondom dengan sesuai dapat secara efektif mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual hingga 85%.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa angka kasus HIV pada ibu rumah tangga termasuk tinggi per tahun 2023. Kasus HIV pada ibu rumah tangga juga membuatnya berisiko tinggi menularkan virus pada anak. Penularan dapat terjadi sejak dalam kandungan hingga pada saat proses melahirkan dan menyusui. Infeksi HIV pada anak dari ibu menyumbang persentase 20-45% dari seluruh sumber penularan HIV lainnya. Seperti melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah yang tidak aman.

Masalahnya, terhitung 2023, baru sekitar 55% ibu hamil yang menjalani tes HIV. Sebagian besar tidak mendapatkan izin dari suami untuk melakukan tes. Alhasil, dari angka tersebut, sebanyak 7.153 orang dinyatakan positif HIV dan 76% dari mereka belum mendapatkan pengobatan ARV. Padahal tes HIV sangat penting agar ODHIV bisa segera mendapatkan pengobatan. Selain itu, risiko penularan HIV pada bayi juga bisa diminimalisir dengan deteksi dini pada perempuan dan ibu hamil.

Apakah anak atau pasangan ODHIV/ODHA pasti tertular HIV?

Memang, sampai saat ini, belum ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan orang dengan HIV. Tapi penularannya ke orang lain dapat dicegah, termasuk kepada pasangan seksual atau anak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui status diri dengan mengecek secara berkala. Untuk transmisi vertikal, contohnya, obat Antiretrovital (ARV) dapat menurunkan risiko penularan virus ke janin hingga 0%. Ini harus dilakukan sesegera mungkin setelah terkonfirmasi status positif HIV. Jika tidak, anak dapat berisiko 15%-30% lebih tinggi tertular virus.

Di tahun 2023, Kemenkes menyatakan bahwa kasus penularan HIV tertinggi terjadi lewat transmisi vertikal, yaitu mengambil porsi 20–45% dari total keseluruhan kasus yang ada. Kasus HIV pada anak berusia 1–14 tahun mencapai 14.150 kasus, dengan pertambahan sebesar 700–1.000 anak setiap tahunnya. 

Artinya, program penanganan pada orang tua (PPTCT) untuk mencegah penularan dari orang tua ke anak masih belum berjalan dengan efektif. Pernyataan tersebut didukung oleh data Kemenkes per Desember lalu bahwa hanya 81% orang dari total estimasi ODHIV 526.841 yang mengetahui statusnya. Secara spesifik, 76% dari ibu hamil yang berstatus positif belum mendapatkan pengobatan ARV hingga kini.

Konten ini diproduksi sebagai bentuk kolaborasi dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dalam rangka melawan misinformasi soal perempuan dan kelompok marginal.

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!