Masih ingat Gerakan 4B di Korea Selatan? Gerakan 4B merupakan singkatan dari empat kata Korea yang semuanya dimulai dengan bi- yang berarti “tidak”. “Bihon” penolakan pernikahan heteroseksual, “bichulsan” adalah penolakan melahirkan, “biyeonaeis” mengatakan tidak untuk berkencan, dan “bisekseu” adalah penolakan hubungan seksual heteroseksual.
Kini Gerakan 4B bertambah menjadi 6B. Gerakan ini menandai ditambahnya “bisobi” yaitu tidak membeli produk seksis seperti pink tax. Dan “bidopbi” yang merupakan singkatan dari mendukung sesama perempuan lajang untuk mempraktikkan gerakan tersebut.
Perempuan Korea Selatan pelaku 4B/6B percaya bahwa itu adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh saat ini untuk hidup mandiri.
Dalam sejarahnya, gerakan 6B mencakup tidak hanya kritik terhadap perubahan pronatalis dalam kebijakan negara. Akan tetapi juga karena kapitalisme dan negara patriarki bersama-sama menempatkan perempuan muda yang belum menikah ke dalam posisi yang rentan secara ekonomi.
Gerakan 4B ini dulu menyebar secara internasional, dan kini Gerakan 6B kembali menarik perhatian di platform media sosial seperti Twitter dan TikTok. TikTok sendiri memiliki lebih dari 10.000 video yang diberi tagar “ #4bmovement“. Video itu mulai dari konten penjelasan hingga pengalaman kencan pribadi yang mengerikan.
Baca juga: Feminisme Sulit Diperjuangkan di Korea, Namun Idola K-Pop Tetap Kampanye Lewat Karya Mereka
Saat Gerakan 6B muncul beberapa hari belakangan ini di media sosial, beberapa TikTokers yang tinggal di Korea Selatan mengatakan bahwa gerakan ini justru dipopulerkan oleh para perempuan internasional khususnya dari Barat. Sementara di Korea Selatan sendiri gerakan ini hanya populer di komunitas online. Mereka takut karena para feminis sering mendapat serangan digital jika menyuarakan diri.
Seperti yang terjadi pada Kim Ji-yeon, seorang aktivis berusia 27 tahun dan mahasiswa pascasarjana studi media di Universitas Korea. Ia mengalami perundungan siber pada tahun 2022 karena keterlibatannya dalam gerakan tersebut.
Dikenal sebagai “Ratu Gerakan 4B,” Kim terlibat dalam perdebatan panjang dengan para kritikus selama dua tahun. Hingga akhirnya ia menghentikan advokasi media sosialnya karena pelecehan daring.
Mereka bukan hanya berhadapan dengan anggapan masyarakat, namun juga pemerintahan yang secara terang-terangan menentang feminisme.
Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol menyalahkan feminisme atas rendahnya angka kelahiran di Korea. Saat menjabat, ia juga mengusulkan penghapusan Kementerian Kesetaraan Gender yang mendukung perempuan dan korban kekerasan seksual, dengan alasan bahwa sudah tidak ada lagi diskriminasi terhadap perempuan disana.
Perlawanan dalam Bentuk Solidaritas
Gerakan 4B mulai dikenal luas pada tahun 2019, tetapi akarnya telah terbentuk jauh sebelumnya yang dipicu oleh berbagai peristiwa tragis. Seperti pembunuhan di Stasiun Gangnam pada tahun 2016, dan kasus penyebaran video kamera tersembunyi di toilet serta kamar ganti perempuan.
Sentimen yang mendasari 4B berakar dalam konsep “Neraka Joseon”, kritik terhadap ketimpangan ekonomi dan tekanan sosial di Korea Selatan. Dari sinilah istilah seperti “Generasi Sampo” muncul, menggambarkan kaum muda yang memilih untuk meninggalkan pacaran, pernikahan, dan pengasuhan anak.
Namun, Gerakan 4B bukan sekadar gerakan individual. Melansir wawancara Korea Pro dengan Lee Hyo-min, kandidat PhD di Universitas Yonsei, menjelaskan bahwa 4B adalah respon paling efektif dari para feminis muda untuk menantang patriarki.
Gerakan bihon sendiri sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Sejak tahun 2005, sebuah kelompok aktivis feminis, UnniNetwork, telah mempromosikan bihon sebagai agenda politik untuk menantang sentralitas model keluarga heteronormatif di Korea. Akan tetapi, saat itu hidup melajang tanpa menikah masih digambarkan sebagai pilihan bagi perempuan muda yang sukses dan kosmopolitan.
Budaya Patriarki yang Sudah Lama Mengakar
Biaya perumahan di Korea Selatan yang terus meningkat dan persaingan yang ketat untuk mendapatkan tempat di universitas dan pekerjaan, membuat hubungan perempuan dan laki-laki memiliki sentimen buruk.
Sekarang, laki-laki muda melihat rekan perempuan mereka sebagai pesaing untuk mendapatkan pekerjaan yang semakin langka.
Hawon Jung penulis sekaligus jurnalis dalam bukunya Flowers of Fire: The Inside Story of South Korea’s Feminist Movement and What It Means for Women’ s Rights Worldwide menjelaskan apa penyebab gerakan ini muncul. Karena muak dan frustrasi, beberapa perempuan pemberani kemudian muncul. Terinspirasi dan bersemangat, perempuan Korea telah mengorganisasi diri bersaksi di depan umum, berbagi cerita, saling mendukung. Mencela rasa malu dan stigma, mereka menyanyikan “Bukan salahmu”.
Dalam ajaran Konfusianisme, laki-laki dianggap lebih unggul. Hal ini tercermin dalam ungkapan “namjon yeobi” (laki-laki lebih tinggi, perempuan lebih rendah). Perempuan Korea seharusnya patuh, suci, dan rela berkorban. Hawon Jung juga menjelaskan bahwa hoesik (minum setelah bekerja) masih menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya perusahaan Korea. Para manajer sering kali menekan perempuan untuk minum, alasannya untuk melepas stres kerja dan bonding dengan sesama karyawan. Beberapa karyawan perempuan dipaksa minum berlebihan sampai mabuk lalu mendapatkan kekerasan seksual dari manajer atau sesama rekan kerja.
Tidak hanya itu, perempuan di Korea Selatan juga semakin muak karena daftar sebutan misogini yang dibuat laki-laki untuk perempuan di Korea Selatan:
Orc: perempuan yang penampilannya sangat biasa
Chewing gum: perempuan dengan payudara kecil
Mrs. Kim: perempuan yang mudah panik dan tidak layak mengemudi
Kimchi girl: perempuan yang egois, rendah, malas dan tidak masuk akal
Kimchi bitches: perempuan yang memanfaatkan laki-laki
Dan banyak lagi istilah lainnya.
Baca juga: Trend Kecantikan Bergeser dari Barat ke Korea? Girls, Bebaskan Kamu Dari Standar Kecantikan!
“Bagi saya, ‘tidak menikah’ bukan sekadar gaya hidup. Ini adalah cara untuk mencoba menghancurkan patriarki,” ujar salah satu narasumber Hawon Jung, menggemakan perasaan banyak pendukung 4B di media sosial.
Meskipun ajarannya tentang menolak kencan dan seks mungkin tampak ekstrem bagi banyak orang, hal ini juga mencerminkan betapa ekstremnya tekanan yang dihadapi perempuan, kata Lee Na-Young, profesor sosiologi di Universitas Chung-Ang di Seoul.
Tentu saja, cinta, pernikahan, dan melahirkan anak tidak bisa dipaksakan pada individu, namun jika hanya melihat sebab dan akibat saja, hal ini akan berdampak pada Korea Selatan, negara dengan angka kelahiran yang sangat rendah dan diperkirakan akan menghilang. Sebagian besar kebijakan pro-natalis berupaya menekan perempuan dan membuat mereka bertanggung jawab untuk memiliki anak. Kebijakan ini tidak bertujuan untuk menyelesaikan asal muasal masalah ini.
Selama tahun 1960-an, Korea Selatan menghadapi masalah kelebihan populasi dan merilis banyak iklan yang membahas tanggung jawab keluarga yang sebagian besar ditujukan kepada perempuan. Akan tetapi, pada tahun 2000-an, penurunan populasi menjadi masalah yang lebih besar bagi negara tersebut. Alasan mengapa banyak orang memilih untuk tidak memiliki anak adalah karena tanggung jawab yang sangat besar untuk memiliki anak yang sebagian besar dibebankan kepada perempuan.
Negara terus mendorong perempuan untuk memiliki anak dan mengharapkan kaum perempuan untuk bertanggung jawab terhadap masalah-masalah nasional, tapi negara tidak memperhitungkan mengapa kaum perempuan memilih untuk tidak memiliki anak.
Baca juga: Suka Nonton Drakor? 5 Film ini Bisa Bantu Kamu Pelajari Budaya Korea
Sama halnya dengan yang terjadi di Indonesia. Angka perkawinan di Indonesia turun tajam dari semula rata-rata 2 juta pernikahan, menjadi hanya 1,5 hingga 1,7 juta dalam setahun. Hal ini juga berdampak pada angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) yang secara nasional kini berada di 2,1. Penurunan ini seiring dengan pergeseran pandangan generasi muda terhadap pernikahan dan membangun keluarga. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo malah mengatakan “Saya berharap adik-adik perempuan nanti punya anak rata-rata 1 perempuan. Kalau di desa ada 1.000 perempuan maka harus ada 1.000 bayi perempuan lahir”.
Pernyataan ini menggambarkan bagaimana tekanan untuk meningkatkan angka kelahiran sering kali hanya berfokus pada perempuan, tanpa memperhitungkan alasan mendasar di balik keputusan mereka untuk menunda atau menolak pernikahan dan memiliki anak. Kebijakan semacam ini mengabaikan kenyataan bahwa tuntutan ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, serta ekspektasi yang tinggi terhadap peran perempuan dalam keluarga turut memengaruhi keputusan hidup generasi muda.
Meski ada yang menganggap Gerakan 6B sebagai isolasionis karena menolak hubungan tradisional dengan laki-laki, penting untuk memahami bahwa gerakan ini bukan menentang laki-laki, tetapi patriarki itu sendiri. Gerakan ini bertujuan agar perempuan dapat mengejar otonomi dan kebahagiaan sesuai dengan keinginan mereka, bukan keinginan yang ditentukan oleh masyarakat.
Perempuan pelaku gerakan 6B ini lebih fokus kepada diri sendiri, seperti bekerja keras menata masa depan dan menabung uangnya karena berhenti membeli produk seksis (bisobi).
Gerakan 6B berhasil menarik perhatian internasional bahwa dalam masyarakat Korea yang sarat patriarki, perempuan pun berhak atas pilihan hidupnya sendiri. Gerakan ini adalah pengingat bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan—dan setiap perempuan berhak memilih jalan tersebut.






