100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Mengingat Tulisannya Tentang Perempuan Revolusioner Sampai Pelarangan Buku

Larasati, Gadis Pantai, Ibunda, Nyai Ontosoroh dan Kartini, merupakan sejumlah perempuan revolusioner yang muncul dalam buku-buku yang ditulis dan diterjemahkan sastrawan dan aktivis, Pramoedya Ananta Toer. 6 Februari hari ini, tepat seratus tahun kelahiran sastrawan yang feminis ini.

Betapa “bahayanya” Pramoedya Ananta Toer, sampai-sampai pemerintahan orde baru ketakutan dengan tulisannya.

Aktivis yang dianggap sebagai aktor intelektual penyebar buku-buku Pramoedya, dipenjara saking bahayanya buku ini. Mereka adalah Bonar Tigor Naipospos (dibui 8,5 tahun), Bambang Isti Nugroho (divonis 8 tahun) dan Bambang Subono (divonis 7 tahun) karena dituduh “mengkampanyekan ideologi komunis atau Marxis Leninis” akibat buku-buku Pramoedya. Tulisannya dianggap meracuni anak-anak muda agar berpikir kritis dan melawan otoritarianisme.

Tak cuma itu, Pramoedya juga merupakan penulis feminis. Ia melahirkan banyak perempuan revolusioner dalam karya dan terjemahannya. Tulisannya tentang perempuan selalu digambarkan sebagai sosok kuat, punya prinsip, pembelajar dan pendobrak sistem yang tidak adil. Mereka cerdas, revolusioner, tidak tunduk pada ideologi sang tuan dan pasangan.

Dalam Buku Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai gundik Belanda yang berani untuk melawan-sesuatu yang tak banyak dilihat orang di zaman dulu, tapi Pramoedya menuliskannya.

Pramoedya juga menulis Kartini sebagai perempuan yang tak mau dipanggil sebagai Raden Ajeng Kartini (RA Kartini), Panggil Aku Kartini saja- seperti dalam judul buku yang ia tulis. Pramoedya membela Kartini atas tuduhan-tuduhan bahwa Kartini dianggap bukan penulis feminis ketika ia dipoligami. 

Baca Juga: 5 Hal Yang Harus Kamu Ingat Dari Kartini: Surat-Surat dan Pemikirannya

“Coba lihat konteksnya perlawanan Kartini di masa itu, bagaimana Kartini berani menuliskan pemikiran-pemikiran besar di masanya. Jika ia tidak berhasil menolak poligami, itu karena ia punya keterbatasan yang sangat mencengkram hidupnya. Tak semua perlawanan orang-orang bisa berhasil, karena sulitnya untuk melawan di masa itu,” kata  Pramoedya Ananta Toer pada Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti. 

Di akhir tahun 2000, Luviana (baju biru) mewawancarai Pram di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Ketika itu Luviana bekerja sebagai redaktur di Jurnal Perempuan.

Di rumahnya, ia selalu mendisiplinkan diri untuk menulis, masuk ke kamar jam 9 pagi dan keluar hanya untuk makan siang, kemudian menulis lagi sampai jam 5 sore. Hari-harinya selalu dipadati dengan pekerjaan membaca dan menulis. Ia tak mau duduk berlama-lama di cafe hanya untuk mencari inspirasi tulisan, karena baginya, menulis adalah pekerjaan yang harus dituntaskan.

“Jika tidak mendisiplinkan diri, maka kita tidak akan punya karya yang bisa kita selesaikan. Karena itu saya bekerja seperti orang lain, kerja jam 9 pagi sampai jam 5 sore, bedanya saya di rumah dan mereka di kantor,” kata Pramoedya Ananta Toer. 

Baca Juga: Sosok Perempuan dalam Novel Pramoedya Ananta Toer: Kuat, Pendobrak, Revolusioner

Ruangan kerjanya sederhana, dipadati dengan banyak buku. Ia mengenakan kaos dan sarung ketika menerima wawancara. Ceritanya banyak, ia bisa bolak-balik menerangkan sejarah dan dimana posisinya di masa itu. Saat itulah Pramoedya banyak cerita tentang para perempuan dalam tulisannya.

“Saya ingin menulis bagaimana kondisi perempuan di masa itu, sisi paling gelap hidupnya, apa yang mereka pikirkan, lalu apa yang mereka lakukan. Disitulah kekuatan mereka, tak pernah menyerah.”

Tahun ini tepat jadi momen penting perayaan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Pada #SeAbadPram ini, para aktivis merayakannya di kota kelahiran Pramoedya di Blora, Jawa Tengah. Melalui gerakan #SeAbadPram, perayaan 100 tahun Pramoedya digagas oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation bersama Komunitas Beranda Rakyat Garuda di Blora pada 6-8 Februari 2025. Mereka menggelar festival yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti, pemancangan nama jalan Pramoedya Ananta Toer, memorial lecture, pameran cetak ulang buku, diskusi hingga pementasan teater dan konser musik bertajuk ‘Anak Semua Bangsa’.

Perempuan dalam Karya Pramoedya

Sosok perempuan yang digambarkan dalam novel-novel Pram adalah sosok perempuan berkarakter kuat dan revolusioner. 

“Tokoh perempuan dihadirkan dalam buku Pramoedya untuk menyoal relasi kuasa yang lebih luas, misalnya kolonialisme dan feodalisme. Bukan secara khusus atau terbatas bicara tentang identitas perempuan dan relasi gender,” tulis Munthaha mengutip Katrin Bandel, kritikus sastra asal Jerman yang telah lama menetap di Indonesia.

Berikut tokoh-tokoh perempuan dalam karya-karya Pram, yang Konde.co baca dari buku-buku Pram dan rangkum dari beberapa sumber lain:

1.      Nyai Ontosoroh di tetralogi Bumi Manusia

Salah satu tokoh perempuan dalam tulisan Pram adalah Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang dipaksa menjadi gundik pengusaha Belanda tapi kemudian bangkit melawan nasibnya.

Nyai Ontosoroh adalah mertua Minke (tokoh utama di tetralogy Pulau Buru: Bumi Manusia-Jejak Langkah- Rumah Kaca-Anak Semua Bangsa). Perempuan itu dulunya bernama Sanikem. Ia ‘dijual’ ayahnya kepada Herman Mellema dengan tujuan mendapatkan kekayaan.

Sanikem yang lugu, kemudian bertransformasi menjadi Nyai Ontosoroh, perempuan pembelajar dengan pendirian yang sangat kuat. Ia tak limbung di tengah mata sinis kolonialisme, tapi juga tak menanggalkan identitasnya sebagai perempuan lokal. Pram menuangkan pemikirannya tentang perempuan lewat kekaguman Minke pada perempuan yang mengaku tidak pernah bersekolah itu

“Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan,” (Bumi Manusia hal. 105).

2.      Gadis Pantai

Dalam novel Gadis Pantai ini, Pram juga menampilkan sosok perempuan yang tidak biasa. Hal ini dimulai dari penamaan tokoh dengan nama Gadis Pantai tanpa menyebut nama sebenarnya. Si Gadis Pantai merupakan putri dari seorang nelayan yang dinikahi oleh seorang bangsawan. 

Ia rakyat jelata yang hanya bergeser status sebagai istri bangsawan. Lambat laun ia menyadari, bahwa ia tak lebih dari perabot rumah tangga. Justru di gubuk reyot milik orang tuanya, Si Gadis Pantai dapat merasakan dirinya sebagai manusia. Sampai akhirnya, feodalisme memaksanya menelan kegetiran. Ia diceraikan dan dikembalikan oleh suaminya. Bahkan, ia dipaksa berpisah dengan bayi yang baru ia lahirkan. 

Bagi kalangan bangsawan, menikah dengan perempuan jelata adalah sarana latihan sebelum pernikahan yang sesungguhnya: pernikahan sesama bangsawan. Di sini, Pramoedya menggambarkan keteguhan Gadis Pantai untuk tak tergoda pun bangga karena dirinya ‘naik kelas’. Gadis Pantai justru merindukan dan membela nelayan, kalangan dari mana dia berasal. 

3.      Panggil Aku Kartini Saja

Di novel ini, Pramoedya menggugat penilaian terhadap Kartini. Sebagaimana ditulis Savitri Scharer, menurut Pramoedya, Kartini justru merupakan korban kebijakan “etis” pemerintah kolonial. Ide-ide progresif Kartini, menurut Pram, lebih disebabkan oleh tanggapan Kartini sendiri, yaitu tanggapan terhadap hierarki dan adat diskriminatif lingkungan feodalnya, bukan oleh pertukaran ide dengan teman-teman progresif Eropanya.

Berdasarkan observasi sistematis terhadap surat, nota, artikel dan seluruh berkas otentik yang berkaitan dengan Kartini yang dapat dikumpulkannya, Pramoedya mengungkap peran sesungguhnya Kartini untuk perempuan Indonesia. Pembelaan Pramoedya pada Kartini yang dianggap menyerah pada poligami, Pramoedya menyatakan Kartini sudah melakukan perlawanan, meski tak semua yang dilawan itu dimenangkan oleh Kartini.

“Pramoedya dengan tegas menekankan kemuliaan pikiran dan jiwa Kartini, dan ‘menyepelekan’ asal kebangsawanan Kartini. Evaluasi Pramoedya mengenai peran Kartini dalam masyarakat Indonesia sangat maju,” tulis Savitri sebagaimana dikutip Terakota.id.

4.      Terjemahan Ibunda karya Maxim Gorki

Karya monumental sastrawan Rusia, Maxim Gorki yang berbicara ihwal keterlibatan perempuan dalam revolusi memikat Pramoedya muda. Baginya, karya Gorki ibarat orang mengguncang tiang-tiang sebuah rumah sampai goyah.

Pramoedya pun menerjemahkan novel Ibunda dari versi Belandanya. Sebagaimana dinarasikan ulang oleh Melani Budianta, penerjemahan dan penerbitan ulang novel Ibunda punya arti tersendiri bagi diri Pramoedya, yaitu memberikan penghargaan pada seorang Ibu yang selama ini tidak pernah dihargai.

“Novel ini tidak saja bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk menolak bersikap pasrah terhadap kemandegan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan,” terang Melani Budianta dalam pengantar novel Ibunda (2002) sebagaimana dikutip Terakota.id.

5.    Cerita Calon Arang 

Dalam novel ini, Pramoedya seolah menggugat dominasi patriarki dalam kehidupan perempuan. Dalam tulisannya berjudul “Perempuan dalam Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer Perspektif Feminis Sastra” Vallentina Edelwiz Edwar dkk. mengungkap bagaimana Pramoedya memotret sikap perempuan terkait dominasi yang dialaminya. Status sosial, kondisi inferior, dan relasi masing-masing perempuan dengan tokoh perempuan dalam Cerita Calon Arang membentuk sikap berbeda.

“Calon Arang sebagai tokoh utama dalam Cerita Calon Arang telah menjadi ikon yang menggugat masyarakat dan pihak kerajaan atas kondisi inferior yang dialaminya. Lain halnya dengan Ratna Manggali yang mewakili perempuan dengan penerimaannya atas status dan kondisinya di dalam masyarakat,” tulisnya.

Gugatan lain ditunjukkan oleh Wedawati yang memilih untuk tidak menikah dan menjadi pertapa perempuan. Sikap berbeda ditunjukkan tokoh ibu tiri Wedawati yang turut melanggengkan kondisi inferior perempuan dengan mengamankan posisinya dalam keluarga.

6. Larasati

Novel ini mengangkat kisah percintaan di masa revolusi kemerdekaan. Larasati adalah salah satu tokoh perempuan pejuang revolusi yang tangguh berhati lapang. Sosok Larasati ditampilkan sebagai perempuan yang sangat bersemangat untuk mendukung revolusi walaupun tidak secara langsung terjun ke medan perang tetapi dengan menggunakan apapun yang bisa dia pergunakan.

Dia adalah seorang seniwati, seorang artis yang memakai status pekerjaannya untuk menyebarkan semangat revolusi kepada orang-orang yang dia temui. Di novel ini, Pramoedya memberikan gambaran dan pengertian kepada para pembacanya akan apa sebenarnya arti cinta di masa-masa Revolusi.

7.      Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer

Di bukunya Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Pramoedya menyuguhkan kekejaman fasisme Jepang yang menjadikan perempuan-perempuan Indonesia sebagai budak seks. Perempuan-perempuan Indonesia layaknya barang. Mereka dikirim sebagai jugun ianfu kepada para tentara Jepang di garis peperangan sebagai alat pemuas.

Lahir 6 Februari 1925, Pramoedya Ananta Toer adalah anak sulung dari pasangan M Toer dan Siti Saidah lahir di Blora, Jawa Tengah. Semasa hidup, Pramoedya dikenal sebagai sastrawan legendaris Indonesia di era 1940-an. Dilansir ensiklopedia.kemdikbud.go.id disebutkan, ayah Pramoedya adalah seorang guru di HIS Rembang, yang kemudian jadi guru sekolah swasta Boedi Oetomo. Sementara ibunya adalah anak penghulu di Rembang. 

Sastrawan yang akrab disapa Pram ini, menempuh sekolah dasar di Institut Boedi Oetomo di Blora. Dia lantas melanjutkan ke sekolah teknik radio di Surabaya (Radio Vakschool Surabaya) pada 1940-1941. Hingga akhirnya, Pram merantau ke Jakarta dan bekerja di kantor berita Domei. 

Pram bekerja sambil mengikuti pendidikan di Taman Siswa (1942-1943), kursus Sekolah Stenografi (1944-1945), dan berkuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945). Mata kuliah yang Ia ambil, filsafat, sosiologi dan sejarah. 

Pada 1958, Pram bergabung sebagai anggota Pusat Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Itu adalah lembaga kesenian di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang nantinya jadi awal polemiknya di pemerintahan Orde Baru. Sebab pada 13 Oktober 1965, Pram ditangkap akibat peristiwa 30 September. Dia dipenjara dari Salemba, Cilacap, hingga pulau Buru. Tak kurang dari 10 tahun Ia hidup dalam pengasingan. 

Baca Juga: Aku Ingin Merdeka, Bahasa Aksi dan Perjuangan Queer Lepas dari Kolonialisme

Tak cuma sebagai sastrawan, sosok yang pernah jadi tahanan politik Orde Baru ini, juga dikenal sebagai pemikir, jurnalis, dan pejuang bangsa. Ia diketahui sudah menuliskan tidak kurang dari 50 karya buku. Tak sedikit darinya yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pram juga telah menghasilkan tak kurang lebih 267 tulisan, baik itu esai, cerpen, buku ataupun novel. Salah satu maha karya-nya yaitu “Tetralogi Bumi Manusia’ yang lahir saat ia ‘dibuang’ ke Pulau Buru.

Dalam tulisannya, Pram hampir selalu menekankan pentingnya aspek manusia. Sastrawan H.B Jassin menilai Pram tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada manusia. Di banyak tulisannya Pramoedya mengisahkan proses dan perjalanannya para tokohnya menjadi ‘manusia’ yang sebenar-benarnya. 

Bagi laki-laki kelahiran Blora ini, manusia adalah akar dan sumber dari segala perubahan baik itu perubahan baik ataupun sebaliknya yang terjadi pada sebuah bangsa. Manusia adalah sumber kejahatan, sekaligus sumber kebaikan. 

Renungan tentang hakekat manusia mengantar Pram sebagai sosok yang selalu menekankan sikap penghormatan pada kebebasan dan keberagaman, keadilan sosial, peri kemanusian dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Sebagai penulis, Pramoedya yang pernah dicalonkan sebagai pemenang Nobel Sastra ini, dikenal sangat detil mendokumentasikan kejadian di sekitarnya. Namun, tak sekadar mendokumentasikan kejadian yang disaksikan, ia mengamatinya dengan pandangan yang sangat kritis memotret ketidakberesan yang terjadi di sana. Dalam ketidakberesan itu, Pramoedya yang pernah aktif di Lekra ini lantas menghadirkan tokoh yang berjuang mendobrak ketidakadilan itu.

Dibui Gara-gara Buku Pramoedya 

Pada masa orde baru, orang tak bisa bebas menulis, membaca, menjual, atau mempromosikan buku seperti hari-hari ini. Upaya pelarangan buku secara terang-terangan dilakukan oleh pemerintah. Tidak cuma dilarang terbit, para penulis, bahkan penjualnya mesti mendekam di penjara. 

Peristiwa 1965 jadi titik balik adanya penumpasan dan penghancuran lembaga ataupun apapun yang terafiliasi dengan PKI serta anggotanya. Tak terkecuali, Pramoedya dan karyanya. Orangnya dipenjara dan diasingkan, bukunya diharamkan. Melalui Tap MPR XXV/MPRS 1966 yang membubarkan PKI dan melarang ajaran Marxisme-Leninisme-Komunisme, masyarakat dikontrol dan dikekang kebebasan berekspresinya termasuk membaca buku. 

Persekongkolan antara lembaga negara yang bergaya militer memungkinkan Jaksa Agung membentuk “Clearing House” yang meneliti isi buku dan memberi rekomendasi langsung kepada Jaksa Agung. Selain Kejagung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga menjadi alat pemerintah untuk melarang buku-buku. Selain juga Departemen Perdagangan dan Koperasi yang melarang impor, perdagangan, dan pengedaran segala bentuk barang cetakan dalam huruf berbahasa Cina. Pada masa itu, pemerintah Cina berideologi Komunisme yang dianggap “berbahaya”. 

Baca Juga: ‘Orde Baru Itu Masih Ada, Hanya Berganti Jas’: Film ‘Eksil’ Ceritakan Nasib Diaspora Penyintas 1965

Tindakan represif aparat mewarnai pelarangan buku di masa orde baru. Itu dilakukan dengan penyitaan buku secara paksa bahkan penangkapan dan pengadilan bagi mereka yang terlibat dengan buku itu. Pada tahun 1989, ada tiga aktivis ditangkap dan dibui gara-gara buku Pramoedya. Mereka adalah Bonar Tigor Naipospos, Bambang Isti Nugroho, dan Bambang Subono. 

Pada suatu pagi buta di Agustus 1989, Bonar terjaga dari tidur saat lima orang berbadan tegap dengan seragam ABRI berdiri di depannya. Mereka mendobrak keras pintu kamar kosnya di Pondok Pinang. Dia diangkut kendaraan militer di Kremlin, Jakarta Pusat. Selama seminggu dia diinterogasi dan mengalami represi orde baru. 

“Saya sedang melakukan penelitian di Jakarta. Makanya saya anggap ‘ah sepele’. Tapi kemudian isu itu berkembang luas, saya baru menyadari ini bentuk represifitas orde baru,” kata Bonar dikutip Liputan6.com pada Jumat (23/9/2019). 

Bonar dituding menjadi aktor intelektual penyebar Bumi Manusia. Tuduhannya serius: dianggap sebagai ‘penyebar ideologi komunisme’. Dia dipenjara selama 8,5 tahun, hanya karena ada salah seorang kawannya yang kedapatan menjual Buku Manusia. Bonar dianggap memiliki afiliasi dengannya karena pernah mengisi acara diskusi di komunitas kawannya itu. Gara-gara jadi pembicara, dia dianggap aktor intelektual penyebar buku Bumi Manusia.  

Selain Bonar, dua aktivis lainnya yang kena hukuman berat yaitu Bambang Isti Nugroho (8 tahun) dan Bambang Subono (7 tahun). 

Baca Juga: Diskusi Diintimidasi, Aksi Direpresi: Apakah Kita Kembali ke Era Orde Baru?

Bonar tak sampai mendapatkan kekerasan dan siksaan atas kasus buku Bumi Manusia karena terlanjur kasusnya mendapat perhatian luas dan disorot dunia. Amnesty Internasional pun sempat menggelar kampanye pembebasan ketiga tersangka itu. Mereka mendapatkan banyak surat dukungan dari berbagai negara selama di penjara. 

Dukungan pun mengalir di ruang sidang. Bangku-bangku hadiri sidang selalu sesak oleh para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Disebutkan pula, saat itu sampai ada insiden ‘Jogja Berdarah’ karena mahasiswa dari berbagai daerah melakukan aksi demo berkaitan dengan pelarangan buku Pramoedya yang dihadang tentara dan polisi. 

“Padahal, bagi mereka yang berpikir waras (dalam) buku Bumi Manusia tak ada sedikit pun mengkampanyekan ideologi komunis atau Marxis-Leninis,” pungkas Bonar. 

Buku-buku yang dilahirkan Pramoedya Ananta Toer selalu menjadi pengingat, bahwa rasa kritis itu bisa lahir dari bacaan-bacaan, dari tulisan, yang kemudian menyebar sampai jauh.

(Editor: Luviana Ariyanti)

(Artikel ini sebagian diperbaharui dari tulisan yang pernah ditayangkan di Konde.co berjudul ‘Sosok Perempuan dalam Novel Pramoedya Ananta Toer: Kuat, Pendobrak dan Revolusioner’ pada 9 Februari 2022) 

(Sumber Gambar: Nawacita.co)

Nurul Nur Azizah

Redaktur Pelaksana Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!