“Superwomen” Saat Penyelam Perempuan Melawan Stereotipe Gender Pulihkan Terumbu Karang

“Superwomen” adalah sebutan bagi para perempuan penyelam yang melawan stereotip gender dan bersolidaritas untuk memulihkan terumbu karang dan menjaga lingkungan. Mereka merupakan para perempuan yang tergabung di program beasiswa Coral Catch.

Avicenna Wijayanto menjadi sosok yang berperan dalam pemberdayaan perempuan lokal di bidang restorasi terumbu karang.

Cenna, panggilan akrabnya, turut menggerakkan program beasiswa Coral Catch di Yayasan Gili Matra Bersama. Program itu, bukan saja mendorong kelestarian alam tapi juga menepis stereotipe gender bagi para penyelam perempuan. 

Bukan suatu hal yang mudah mengonservasi sembari menepis cibiran masyarakat patriarki, yang selalu membuat perempuan menjadi anggapan kelompok lemah dan inferior. Ketidaksetaraan gender membuat ia sering kali diremehkan. Tetapi ia tidak peduli dan bahkan mencoba membersamai perempuan lain untuk menjadi berdaya di konservasi.

Pengalaman Cenna di bangku kuliah menyadarkan tentang kurangnya penyelam perempuan dilibatkan dalam riset-riset kelautan. Seiring berjalannya waktu pikirannya mulai terbuka bahwa, ketika ketidaksetaraan untuk mendapatkan hak yang sama, membuat banyak perempuan menjadi enggan untuk bersuara ataupun bertindak lebih.

“Aku merasa pentingnya space (ruang) untuk perempuan, karena selama ini kita sebagai perempuan banyak memendam perasaan. Menurut aku kesetaraan gender itu kesetaraan dalam kesempatan apa pun, memang dari fisik itu berbeda dan perasaan juga berbeda, tapi bukan berarti perempuan itu tidak boleh bertindak lebih atas haknya” ucap Cenna menjelaskan.

Embed link: https://www.instagram.com/p/C_AbMsasz0h/?igsh=YndoYnYweGtubGZm

Gili Matra setidaknya menjadi rumah kedua baginya untuk pulang. Berjuang bersama dengan ‘ibu’ sekaligus rekannya dalam bekerja, Rose Huizenga, pendiri Coral Catch meyakini bahwa melibatkan dan memberdayakan perempuan, dengan prinsip mengedepankan kesetaraan gender. Membuat pembangunan berkelanjutan akan lebih berdampak.

Baca juga: Susan Herawati: Pulau Kecil Akan Tenggelam dan Kita Melihat Oligarki Berkuasa

“Untuk benar-benar belajar hidup selaras dengan lingkungan, perempuan perlu menjadi bagian yang sama pentingnya dalam membentuk kolektif kita seperti halnya laki-laki. Bagi saya, pemberdayaan perempuan bukan tentang mengecualikan laki-laki, tapi tentang menyuarakan suara perempuan” tulis Rose dalam laman Coralcatch.org.

Sebagai perancang program beasiswa untuk penyelam perempuan, membuat Cenna tidak gentar terhadap segala hal yang berbau ketidaksetaraan. Baginya fokus untuk mengubah pola pikir patriarki harus ditanamkan dalam programnya. Terlebih dengan memperbanyak aksi langsung untuk memberikan dampak.

“Jadi, di Coral Catch ini kita memberdayakan perempuan dengan mindset perempuan bisa loh kerja di lapangan, kotor-kotor, ngangkat-ngangkat, memotong- motong besi, nge-las, mengaduk semen segala macam. Cuma dipandang aneh saja waktu itu, karena banyak anggapan bahwa perempuan tidak mungkin bisa. Termasuk menyelam gitu, karena kita bawa tabung selam (berat kurang lebih 20 kg) itu sendiri,” ujarnya.

“Disini kita tuh ingin menepis stereotipe itu semua dan meyakinkan bahwa perempuan-perempuan itu bisa, walaupun entah mereka mungkin kayak merasa ‘ih aku belum pernah mengangkat tabung’ jadi ‘eh ternyata aku bisa ya’ dan perkataan ini yang ingin aku dengar dari teman perempuan” lanjutnya.

Cara Cenna tentunya adalah cara terbaik membuktikan bahwa perempuan memiliki kebebasan. Stereotipe perempuan harus ditentang. Langkah terbaiknya adalah membuktikan bahwa perempuan adalah kelompok yang kompleks dan setiap individu perempuan adalah entitas yang punya kebebasan atas dirinya sendiri.

Perjalanan Cenna  membuka cakrawala baru. Keterlibatan perempuan untuk merawat makhluk hidup lainnya tentu bisa dan sejatinya mereka punya hak lebih untuk itu. Memberdayakan perempuan juga akan menguatkan keyakinan perempuan lainnya untuk bergerak, terlebih dalam menjaga ekosistem dan makhluk hidup di dalamnya.

“Superwomen” Merawat Bunga dan Satwa Lautan
Ilustrasi: Frendy Marselino

Teman perempuan yang tergabung di program beasiswa Coral Catch sering kali mendapat julukan para ‘Superwomen’. Istilah Superwomen ini juga sebagai bentuk kampanye dan solidaritas mereka di Coral Catch, agar menciptakan peluang bagi perempuan Indonesia di bidang konservasi laut, sambil memulihkan terumbu karang. Tentu Cenna adalah salah satu Superwomen itu karena ia terlibat langsung di dalamnya.

Walaupun ia adalah perancang setiap program beasiswanya. Tetapi sering kali hubungan seperti sisterhood antar teman perempuan selalu terasa baginya. Saling belajar dan membagi pengetahuan bersama membuat Cenna ikut berdaya untuk menjaga terumbu karang.

Cenna menyadari merawat terumbu karang adalah perihal yang tidak mudah, karena sangat rentan akan pemutihan yang sering kali berakibat kematian pada hewan karang. Laporan Yayasan LINI di Januari 2024 menyebutkan, pemutihan karang akan masif terjadi, terutama di Desember 2023 hingga Februari 2024. Perihal ini terjadi karena adanya kenaikan suhu dan cuaca ekstrem (El Nino, ENSO, dan fenomena lainnya).

Alih-alih hanya menatap pemutihan karang, Cenna memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat program Coral Catch lebih bermakna. Program ini memberikan pelajaran bagi Superwomen, terutama tentang meneliti kesehatan karang, jenis karang yang bertahan di suhu yang meninggi, hingga bagaimana memberdayakan masyarakat.

“Kita Coral Catch mengajarkan teman-teman untuk memonitor kesehatan ekosistem karang dan mempelajari jenis-jenis karang mana saja yang bisa bertahan, dikala iklim yang berubah ini. Dari situ kita juga merekam perubahannya setiap bulan, dan itu juga bisa jadi data BKKPN dan desa sini untuk membantu mereka,” ujarnya.

Tidak cukup dengan masalah perubahan iklim, masalah lain juga mencuat di atas laut Indonesia, yakni sampah laut. Cerita juga datang dari kekuatan perempuan di konservasi, ia bernama Ryannyka Dwi atau disapa Nyka seorang Research and Education Manager di Yayasan LINI. Nyka setidaknya menjadi salah satu saksi mata satwa endemik Indonesia yang berhabitat di sampah laut.

Baca juga: Catcalling, Baju dan Budaya Patriarki: 3 Penghambat Karier Perempuan Pegiat Konservasi Alam

Menggeluti dunia konservasi selama 6 tahun membuat Nyka menemukan banyak petualangan yang menyedihkan bagi satwa lautan. Cerita ini tentang Banggai Cardinal Fish (Pterapogon kauderni) atau disebut ikan BCF, yang juga menjadi logo Yayasan LINI.

Baggai Cardinalfish dan Ikan Badut. Sumber: Yayasan LINI

Memantau perkembangan suatu spesies tentu hal yang harus ia lakukan. Memantau ikan ikonik Kepulauan Banggai, Sulawesi Selatan ini salah satunya. Sejauh mata memandang memang Nyka masih melihat spesies ini. Tetapi yang membuat Nyka murung dan iba adalah ketika tempat mencari makan ikan BCF ini sudah berganti ke area rongsokan plastik sampah di bawah rumah laut warga.

“Suatu ketika dilakukan monitor secara berkala di habitat alaminya (Banggai), tapi ternyata di habitat alaminya sendiri, ia (ikan BCF) hidup di bawah-bawah rumah. Padahal harusnya ia hidup di bawah mikrohabitat seperti bulu babi dan anemon. Akan tetapi karena banyak sampah, ia hidupnya itu di atas plastik di ember dan gumpalan sarung. Iba banget melihat ini, padahal ia spesial tapi hidupnya terganggu dengan adanya sampah di laut” ucap Nyka.

Nyka menyadari untuk sekarang memang masih bisa melihat ikan ini, tapi tidak untuk kedepannya karena populasinya makin sedikit. Meningkatnya permintaan pasar untuk ikan hias ini mengakibatkan banyak overfishing yang terjadi. Bahkan pada tahun 2000 – 2001 jumlah ikan ini diperdagangkan mencapai 700.000 – 1,4 juta ekor per tahun.

Berdasarkan Fishbase, ikan BCF sendiri adalah satu-satunya spesies dari genusnya, sehingga ketika kepunahan terjadi maka hilang pula spesies ini dari muka bumi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) akhirnya mengetok palu menetapkan bahwa ikan BCF termasuk spesies terancam punah di Appendiks II CITES.

Baca juga: Edisi Khusus Feminisme: Ekofeminisme Perjuangkan Lingkungan Ramah Perempuan

Permasalahan di ruang lingkup Cenna dan Nyka ternyata memiliki keterkaitan satu sama lain. Prof. Satyawan Pudyatmoko, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Forum Bumi yang diselenggarakan Yayasan KEHATI dan National Geographic Indonesia menyampaikan setidaknya terdapat tiga krisis lingkungan global yang saling terkait, dan berdampak besar di kehidupan bumi, yakni polusi, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Proses ini tentunya terjadi secara berkala, ketika polusi mengubah iklim yang ada di bumi, dan berakhir di hilangnya keanekaragaman hayati. Siklus itu akan terus berjalan jika tidak adanya langkah konkret yang dilakukan.

“Yayasan LINI memilih ikan BCF sebagai logonya juga sebagai bentuk kampanye terhadap spesies ini, karena banyak masyarakat Indonesia bahkan belum mengetahui ikan ini” ucap Nyka.

Melihat lagi perjuangan Cenna untuk memberdayakan perempuan dan merawat satwa. Bahkan Nyka yang berusaha untuk membantu mengenalkan ikan endemik Indonesia. Mengingatkan kembali bahwa keterlibatan perempuan di alam dan konservasi nyatanya sangat besar perannya.

Menyambung Ikatan Perempuan dan Alam
Cenna sedang menunjukkan Karang yang akan diletakkan di Hexadome. Foto: Avicenna, Edit foto: Frendy

Langkah demi langkah tidak semulus ekspektasi Cenna. Mencari kandidat perempuan lokal amat susah. Sebenarnya ia sadar bahwa banyak perempuan yang ingin menjadi bagian dari Superwomen ini. Halangan seperti stereotipe keluarga dan finansial selalu menjadi hambatan mereka bergerak, terutama bagi keluarganya yang menggeluti dunia perikanan.

Anggapan keluarga sering kali terbangun dari pengalaman pahit dan tidak aman ketika mendengar kata ‘menyelam’. Keluarga mereka menilai menyelam sangat tidak sehat karena hanya menggunakan kompresor untuk bernafas di bawah air.

“Kalau aku telusuri lebih jauh, yang membuat keluarga mereka melarang anak perempuannya untuk menyelam itu karena, dulu bertahun-tahun di Gili ini, bapak-bapak nelayannya itu menangkap ikan pakai kompresor. Nah sebenarnya itu tidak sehat ya, banyak yang meninggal, banyak yang lumpuh, maka dari itu hal ini sudah tertanam di kepala keluarganya, bahwa anak mereka tidak boleh melakukan itu” jawab Cenna.

Hal ini akhirnya menjadi tantangan Cenna bersama Coral Catch. Terlebih untuk membuat masyarakat paham bahwa terdapat penyelaman yang lebih aman dan minim bahaya.

“Aku merasa masih banyak perempuan-perempuan yang punya masalah kayak aku, seperti kita tidak punya kondisi finansial yang ‘oke’ untuk diving kemana-mana, terus kita tidak dapat kesempatan dan lain-lainnya. Jadi aku juga ingin di kehidupan mereka, Coral Catch juga berkesan dan meng-improve diri mereka” ujarnya.

Baca juga: Krisis Iklim di Depan Mata, Semaikan Cinta ke Alam dan Satwa

Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Herlina Hartanto dalam Conservation Talk: Perempuan Untuk Alam, 22 Desember 2022, juga mengamini peran perempuan untuk alam. “Perempuan harus sadar bahwa mereka punya peranan, punya perspektif, dan solusi positif untuk alam. Perempuan juga harus yakin dan percaya bahwa mereka adalah agen perubahan yang luar biasa, bukan hanya di keluarga dan di lingkungan, tetapi di tingkat negara, bahkan tingkat global” ujarnya.

Ekofeminisme menjadi gagasan yang konkret ketika membahas perempuan dan alam. Gagasan ini sendiri merupakan cabang feminisme yang mengkaji relasi perempuan dan alam. Selain mengangkat kritik budaya maskulin yang menjadi landasan eksploitasi terhadap lingkungan dan perempuan. Ekofeminisme juga membawa pemikiran pemberdayaan perempuan untuk mendapatkan haknya atas lingkungan yang baik dan melibatkan perempuan dengan alam itu sendiri.

Benaya Simeon dalam Podcast Laut Untuk Semua. Sumber: Kanal Youtube Laut Untuk Semua

Praktik lapangannya juga terasa melalui Benaya Simeon, seorang peneliti di Konservasi Kelautan IUCN Species Survival Commission yang berfokus pada hiu dan pari. Meneliti tentang hiu dan pari menuntut interaksi dengan nelayan dan masyarakat. Budaya maskulinitas di pesisir membuatnya sering kali mendapat kata-kata yang merendahkan perempuan.

Terlepas dari hal itu semua, ia menyadari bahwa kekuatan perempuan itu sangat besar dampaknya. Maka dari itu perempuan juga harus mulai berani bersuara dan menunjukkan aksinya. 

“Padahal ketika kita ketemu sama masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pesisir. Perempuan itu powerful banget, bahkan lebih banyak dipercaya ketika kita ngomong daripada laki-laki” ucapnya dalam Voice of Indonesia.

Baca juga: Delima Silalahi: Aktivis Lingkungan Peraih The Goldman Environmental Prize

Menurut Made Diah Negara, seorang peneliti yang mengkaji budaya, gender, interseksionalitas, dan pembangunan, bahwa prinsip ekofeminisme sangat penting untuk kehidupan. Prinsip ini seperti mengedepankan kedamaian, keselamatan, kasih, dan kebersamaan. Termasuk aktivisme perempuan lokal untuk melindungi dan merawat kekayaan alam. Hingga akhirnya meruntuhkan mitos bahwa pergerakan hanya milik perempuan yang terpelajar, kelas menengah, dan tinggal di perkotaan.

Sikap dan aksi yang dilakukan Cenna dan perempuan lainnya menemui kesimpulan menarik. Perempuan sejatinya mempunyai kekuatan untuk menggerakkan massa. Sifat rawat kasih ke alam adalah senjata untuk keberlangsungan bumi. Menjadi berbeda tentunya mendapatkan rintangan yang lebih, tetapi membentuk diri menjadi lebih baik, terutama untuk lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya.

Melimpahkan kasih kepada alam dan makhluk hidup di dalamnya juga akan memberikan dampak positif untuk kita. Merawat dan menjaga keseimbangan alam adalah cara agar kita bisa berinteraksi dengan lingkungan kita.

“Menurutku, jangan sampai stereotipe tentang perempuan tidak bisa ini itu, membatasi kamu untuk mengejar impianmu. Kalau sekarang kamu merasa impianmu tidak mungkin tercapai karena belum ada role model-nya, maka berusahalah untuk menjadi role model itu. Jadikan ini tantangan, bukan batasan. Karena dengan langkahmu, kamu bisa menginspirasi perempuan-perempuan lainnya. Hingga akhirnya, kamulah Superwomen itu, untuk dirimu, untuk alam, dan untuk orang lain” ucap Cenna dengan senyumnya mengakhiri cerita ini.

Editor: Nurul Nur Azizah

Frendy Marselino

Seorang ilustrator dan web content writer dari Bangka Belitung. Menyajikan artikel-artikel dan ilustrasi tentang Wildlife dan isu kemanusiaan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!