Matahari tengah menampakkan hawa panasnya di belantara daratan Hutan Hujan Tropis Sumatera. Saat itu pukul 11.44 WIB, ketika sepuluh orang berpacu untuk menyelamatkan nyawa seekor badak yang sedang melahirkan. Ada dokter, keeper, tim pembantu, dan dokumentasi termasuk Linda. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya seekor anak badak, Sedah Mirah, yang baru lahir dari induk badak bernama Rosa.
Ini adalah waktu paling kritis bagi Linda melihat kelahiran badak yang diluar perkiraan buku-buku yang ia baca. Terutama tentang kelahiran badak yang seringkali terjadi di malam hari. Bermodalkan kamera dan bantuan timnya, ia merekam seluruh kejadian usai Sedah Mirah lahir dalam keadaan tidak bernafas. Perjuangan orang-orang untuk menyelamatkan satu ekor satwa ini direkam Linda dalam kamera dan memori kepalanya.
Tiga puluh menit waktu berjalan, tabung oksigen, pertolongan dan nafas buatan terus dihantarkan untuk Sedah Mirah. Usai proses yang panjang, kelopak mata Sedah Mirah pun akhirnya mengerjap-ngerjap dengan nafas yang mengalir. Riuh haru, syukur, senang, kesepuluh orang itu pun saling berpelukan.
“Itu adalah momen paling kritis dan berkesan selama aku bekerja di konservasi dan sampai saat ini, aku selalu sayang banget sama Mirah dan selalu nyempetin ke kandangnya kalau di SRS (Suaka Rhino Sumatra)”, ujar Linda Fitria, Communication Specialist dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) yang sekaligus Public Relation di Tambora Muda Indonesia.
Baca Juga: Kebakaran di Los Angeles: Alarm Bagi Amerika Serikat Untuk Penuhi Komitmen Atas Perjanjian Paris
Berbeda dengan pengalaman Linda yang melihat perjuangan hidup mati satwa hingga timbul rasa kasih, Ryannyka Dwi atau yang akrab disapa Nyka, hampir diambang kematian hanya untuk memastikan kesehatan populasi spesies dilautan. Nyka adalah seorang Research and Education Manager di Yayasan LINI yang bergerak di konservasi laut.
Terpaan arus yang kencang diantara Pulau Masoni dan Pulau Kasuari di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Membuat Nyka menggantungkan diri di seutas tali speedboat. Tabung selam yang kurang lebih beratnya 20 kg menjadi saksi betapa kuatnya ia untuk menyelesaikan ekspedisi Finding Dory ini.
Faktanya Indonesia memang menjadi eksportir ikan hias terbesar kedua di dunia dengan pangsa pasar global sebesar 11,1 persen di 2022. Ikan Dory atau Blue Tang fish adalah salah satu spesies yang paling banyak diekspor. Pengalaman ini sangat menarik bagi Nyka karena ia menemukan perilaku unik dari ikan dori. Seperti saling menari bersama, untuk menunjukkan cinta kasih kepada pasangannya. Tapi mirisnya habitat terumbu karang mereka rusak karena sejarah penggunaan bom dan racun oleh manusia.
“Cuma aku baru tau bahwa ikan dori itu ada nari-narinya ketika mau kawin, berputar-putar gitu lucu banget” ungkap Nyka.
Sebagaimana Linda dan Nyka, mereka menunjukkan bagaimana cara berhubungan positif dengan alam dan satwa. Setidaknya menurut American Veterinary Medical Association, hubungan hewan dan manusia dapat membentuk ikatan yang saling menguntungkan dan dinamis. Sehingga berpengaruh ke kesehatan dan kesejahteraan bagi keduanya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penanda kesejahteraan bagi manusia adalah energi positif, rasa memiliki, cinta, dan hubungan yang bermakna. Lantas bagaimana cara untuk memupuk diri agar saling memahami antara alam, satwa, dan manusia?
Bahasa Cinta Makhluk Hidup
Ilustrasi Makhluk Hidup Saling Menyayangi. Ilustrasi Pribadi
Manusia tentu mengenal love language (bahasa cinta). Ia adalah sebuah cara pengungkapan kasih sayang untuk pasangannya. Love language ini tidak serta merta hanya untuk pasangan, tetapi dapat diterapkan pada alam, tumbuhan dan hewan. Bahkan ketika bentuk kasih sayang ini diterapkan akan menimbulkan perasaan keterikatan dengan alam dan satwa tersebut.
Menurut riset dari llawarra Health and Medical Research Institute, University of Wollongong, Australia, perilaku seperti ini umumnya disebut Human and Animal Interactions (HAI). Riset ini menunjukkan bahwa Interaksi dengan satwa liar dapat bermanfaat bagi kesejahteraan manusia terutama meningkatkan emosi positif, keterlibatan, hubungan dan koneksi, makna, pencapaian, dan juga perspektif ekosentris yang lebih baik.
Bagi Linda dan Nyka, mereka dapat merasakan energi positif menyelimuti mereka ketika berinteraksi langsung dengan alam dan satwa. “Tiga tahun aku bekerja dengan YABI khususnya di badak sumatera. Seringkali aku berpikir bahwa mungkin badak itu ngerasain apa yang kita rasa, hingga akhirnya mereka juga meringankan pekerjaan kita sebetulnya. Dan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka akhirnya juga mereka akan membantu kita” ucap Linda.
Baca Juga: COP 29 Mengecewakan, Tapi Dibutuhkan: Bagaimana Konferensi Iklim yang Tepat?
Lebih lanjut dalam riset tersebut mengatakan, hubungan positif ini memungkinkan orang untuk melihat peran mereka dalam ekosistem yang lebih besar. Sehingga meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang hewan untuk mendorong upaya konservasi dan perlindungan ekosistem.
Terumbu Karang adalah Koloni Hewan Karang yang Bersatu. Foto oleh Giustiliano Calgaro/Pixabay
Selama enam tahun di konservasi Nyka menyadari banyak pelajaran tentang merawat makhluk hidup. Sehingga banyak bentuk kasih sayang dari alam maupun hewan yang sering tidak disadari oleh dirinya sendiri.
“Atasan ku pernah bilang, ketika kita memelihara ikan dan makhluk hidup seperti karang, kita harus punya “Wet Hand” gitu. Wet Hand ternyata adalah kasih sayang. Ketika kita merawat ikan dengan tulus, baik dan tidak terpaksa maka hal ini juga akan direspon oleh lingkungan tersebut dengan ikan-ikannya sehat, kelahirannya tinggi, kualitas anakannya bagus, tidak banyak penyakit dan sebagainya” ungkap Nyka sembari mengingat kejadiannya.
Keterikatan dengan alam dan makhluk hidup sebenarnya sudah ada sejak lama. Banyak masyarakat adat dan suku-suku di Indonesia juga masih memegang prinsip ini. Seperti Suku Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan yang selalu melestarikan hutan dengan prinsip hidup Kamase-masae, yaitu cara hidup tradisional dan bersahaja.
Di lain sisi Suku Baineo di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tradisi Lilifuk yang membatasi aktivitas melaut. Cara ini digunakan untuk memberikan waktu pada ekosistem agar dapat memulihkan diri sebelum dimanfaatkan kembali. Serta memberikan waktu pada satwa di laut untuk berkembang biak.
Rachel M Yerbury sebagai penulis dalam riset ini juga menuliskan, untuk memperoleh manfaat maksimal tentunya manusia perlu melakukan timbal balik untuk melakukan hubungan tersebut. Cara yang sama seperti hubungan antar manusia ke manusia yang membutuhkan timbal balik untuk mendapat manfaat yang saling menguntungkan. Jika hal ini tidak dilakukan maka kemungkinan besar konflik akan terjadi.
Menyemai Kasih Untuk Iklim
Ilustrasi Contoh Bentuk Kasih Sayang Antara Manusia, Hewan dan Alam. Ilustrasi Pribadi
Menurut jurnal Nature Climate Change terbitan Februari 2023 lalu, konflik satwa dan manusia meningkat empat kali lipat selama 10 tahun terakhir. Kondisi ini diperparah adanya krisis iklim.
Berdasarkan penelitian tersebut, konflik satwa dengan manusia sangat dipicu dan memicu krisis iklim. Maksudnya dari 49 kasus konflik satwa liar dan manusia di dunia. Konflik ini dipicu oleh krisis iklim dan jika terus berlanjut maka akan memicu krisis iklim yang lebih besar.
Penelitian tersebut menyebutkan, kenaikan suhu bumi dan curah hujan yang tidak menentu menjadi penyebab umum konflik satwa dan manusia. Penyebab ini sangat dirasakan bagi Linda dan Nyka dalam konservasi yang mereka lakukan. Itu bisa dilihat dari semakin naiknya permukaan air laut yang menjadi tempat habitatnya Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Hingga, pemanasan laut yang mengakibatkan waktu coral bleaching yang sangat lama.
Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan di Isu Lingkungan Masih Minim, Termasuk dalam Gerakan Green Islam
“Untuk perubahan iklim sendiri memang tidak langsung ke satwanya tetapi justru ke habitatnya. Contoh seperti Badak Jawa di Ujung Kulon yang kita sering ketemu mereka di pesisir dan salah satu dampak perubahan iklim adalah air laut yang semakin naik. Hingga membuat habitat Badak Jawa semakin menyempit,” ucap Linda.
Nyka juga merasakan hal yang sama ketika ia sedang memonitoring terumbu karang. Itu terjadi saat dirinya berada di Les, Bali Utara suhunya tinggi di angka 31°C di kedalaman 11 meter dan itu suhu air.
“Bayangkan saja kita di air itu aja merasa tidak nyaman dengan suhu seperti itu apalagi hewan dan terumbu. Itu menjadi pengalaman yang khawatir bagi aku karena suhu yang setinggi itu” tutur Nyka.
Bunga Lilly Melambangkan Feminisme. Foto oleh Foto oleh Cimi/PxHere
Mengutip dalam ekorantt.com, pada seminar perubahan iklim di Unika Santu Paulus Ruteng, 25 November 2023. Direktur Program Yayasan KEHATI, Dr. Rony Megawanto, mengatakan terdapat tiga solusi yang bisa dilakukan untuk menangani perubahan iklim. Salah satunya adalah menerapkan konsep nature-base solution (NBS). Singkatnya NBS merupakan aksi untuk mengatasi perubahan iklim sebagai tantangan sosial, dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berdampak positif bagi alam.
United Nations atau PBB juga menyadari bahwa keanekaragaman hayati adalah pertahanan alami dan terkuat yang manusia miliki untuk mengatasi perubahan iklim. Melestarikan dan memulihkan ruang alami, baik di darat maupun di air, sangat penting untuk membatasi emisi karbon dan beradaptasi dengan iklim yang berubah. Setidaknya sepertiga pengurangan emisi gas rumah kaca dibutuhkan dalam dekade berikutnya dan meningkatkan kemampuan alam adalah solusinya.
Linda dan Nyka tentunya paham betul bagaimana solusi berbasis alam ini dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Mereka juga menyadari banyak hal-hal sederhana yang bisa dilakukan sebagai masyarakat umum untuk lebih peduli dan menyayangi alam dan satwa. Semakin banyak terikat dengan alam maka energi positif untuk saling melindungi tentunya akan menyelimuti kita.
Baca Juga: Dampak Panjang Krisis Iklim, Korban Kekerasan Berbasis Gender Sulit Akses Keadilan
“Dimanapun kita berada, sebenarnya kita bisa menunjukkan kasih sayang atau love kita ke mereka. Sesederhana berbagi informasi terkait kondisi alam dan satwa dan mencoba menggunakan produk-produk yang mendukung konservasi, karena tidak banyak orang tau seberapa banyak kekayaan biodiversity kita (Indonesia)” jawab Linda.
Secara tidak langsung juga Linda dan Nyka mengisyaratkan bahwa ketika ingin mengenal makhluk hidup lebih luas. Maka perlu memperdalam diri dan memposisikan sikap untuk mengenal lebih detail tentang alam dan makhluk hidup. Memperbanyak pertanyaan dan membaca juga diperlukan untuk kita lebih peduli dengan keberlangsungan tempat kita hidup dan tulisan ini juga bentuk kasih sayang terhadap semua makhluk hidup.
“Kita bisa melakukan hal-hal sederhana, melihat banyak hal secara luas tapi lebih mendalam dan menyadari bahwa semua makhluk hidup punya hak hidup yang sama dan kita yang paling bisa berpikir rasional dibanding makhluk hidup lainnya, hingga kita sendiri yang paling bisa bertindak seperti apa” ucap Nyka sambil tersenyum mengakhiri kalimatnya.
Editor: Nurul Nur Azizah






