Cerita tentang orang-orang berpengaruh entah itu aktivis, intelektual, maupun agamawan yang menjadi pelaku kejahatan dan mendapat perlindungan dari orang-orang sekitarnya kerap kita dengar. Bahkan tak jarang argumentasi psikologis dipakai sebagai pembenar. Dengan begitu, pelaku yang seharusnya bertanggung jawab justru diposisikan sebagai korban. Sebaliknya korban kembali menjadi korban untuk kesekian kali.
Pada kasus femisida dan kekerasan berbasis gender, para feminis berargumen penting memakai analisis feminis untuk memahami kasus tersebut secara komprehensif. Hal ini pula yang dilakukan Francis Dupuis-Déri pada pembunuhan yang dilakukan Louis Althusser, filsuf Marxis Prancis terhadap istrinya, Hélène Rytmann, seorang sosiolog.
Dupuis-Déri menempatkan pembunuhan tersebut dalam kontinum femisida, alih-alih sebagai kejahatan karena nafsu atau pembunuhan oleh pasangan. Artinya Dupuis-Déri menantang narasi publik yang berkembang seputar tindakan Althusser membunuh Hélène Rytmann. Dengan begitu ia menyingkap depolitisasi atas pembunuhan tersebut dan upaya pembebasan sang pembunuh oleh orang-orang di lingkaran terdekat Althusser.
Francis Dupuis-Déri adalah profesor anarkis yang mengajar ilmu politik dan kajian feminis di Université du Québec à Montréal (UQAM). Ia bersama kelompok riset Réseau québécois en études féministes meneliti soal gerakan sosial dan maraknya wacana antifeminisme. Ia juga aktif dalam beberapa kolektif di Prancis, Québec, dan AS. Buku-buku yang pernah diterbitkannya, yakni L’ Archipel identitaire (1997) dan Who’s Afraid of the Black Blocs?: Anarchy in Action around the World (2014).
Pada 2023 Dupuis-Déri kembali menerbitkan buku berjudul Althusser assassin: La banalité du mâle. Versi bahasa Indonesianya diterbitkan Marjin Kiri pada 2025 dengan judul Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan. Terjemahannya dikerjakan Rio Johan, penulis yang mendalami perfilman di Paris dan pernah menerjemahkan karya-karya Marcel Schwob dan Jean-Jacques Rousseau.

Buku Althusser Pembunuh terdiri dari 82 halaman yang dibagi dalam 7 pembahasan. Diantaranya “Pencerahan Feminis”, “Perlindungan dan Solidaritas Maskulin”, serta “Bisakah Kita Pisahkan Penulis dari Karyanya?”
Althusser Pembunuh: Dibunuhnya Hélène Rytmann
Hélène Rytmann merupakan anggota Partai Komunis Prancis dan bergabung dalam Kelompok Perlawanan di wilayah Lyon selama Perang Dunia II. Ia memakai nama pena Hélène Legotien semasa aktif dalam kelompok perlawanan. Ia juga terlibat dalam berbagai penelitian sosiologi mengenai kerja dan aktif menulis kritik film di jurnal Esprit.
Hélène bertemu Louis Althusser seorang pengajar di École Normale Supérieure yang bergengsi di rue d’Ulm, Paris. Mereka berpasangan selama 30 tahun dan menikah setahun setelah Héléne pensiun, tepatnya pada tahun 1976. Orang-orang terdekat Althusser sering menanyakan kondisinya kepada Hélène, tetapi ironisnya tidak ada yang pernah peduli ataupun sekadar bertanya keadaan Hélène.
Pada 16 November 1980 pukul 9 pagi Althusser memijat, mencekik, dan membunuh Hélène Legotien. Setelah pembunuhan tersebut, para petinggi École Normale Supérieure langsung membawa Althusser ke rumah sakit bukan ke penjara. Tindakan yang diambil para petinggi itu adalah hal bejat dan keliru karena melindungi seorang pembunuh, lebih tepatnya pelaku femisida.
Perilaku Melindungi Pelaku KS
Dalam bukunya Dupuis-Déri menjelaskan ketika Althusser membunuh Hélène dalam hitungan menit ia langsung mendapat dukungan dan bantuan dari orang-orang terdekatnya. Seperti manajemen École Normale Supérieure, para dokter, teman-teman, dan murid-muridnya. Bahkan, lebih bejatnya adalah Althusser tidak ditahan satu jam pun oleh polisi, artinya ada cacat prosedural dalam penanganannya.
Pembunuh Hélène tersebut memiliki modal sosial yang kuat sehingga banyak teman maupun kelompoknya yang memberikan perlindungan untuk membela kehormatannya. Di sini kita bisa melihat adanya relasi kuasa.
Baca juga: Kamus Feminis: Apa Itu Misogini Atau Kebencian terhadap Perempuan
Hal serupa juga terjadi saat Direktur Dana Moneter Internasional (IMF), Dominique Strauss-Kahn terbukti melakukan kekerasan seksual (KS) terhadap pelayan kamar di sebuah hotel di New York. Teman dan sekutu pelaku justru memberikan perlindungan. Bahkan, seorang yang mendaulat diri sebagai pembela hak asasi manusia dan negara-negara tertindas, Bernard-Henri Lévy juga membela pembunuh dan pelaku KS.
Sialnya, hal-hal yang terjadi pada era tersebut juga masih berlangsung hingga saat ini. Maraknya kasus-kasus KS di lingkup akademik, literasi, hingga gerakan ‘sok revolusioner’ yang membiarkan bahkan melindungi pelaku masih terjadi. Alasannya demi menjaga nama baik dan eksistensi kelompok semata.
Narasi Media yang Misogini dan Seksis
Sering kali kita membaca kasus-kasus kekerasan seksual di media cetak maupun online yang masih bersifat misogini dan menggunakan narasi seksis. Bahkan pemberitaan tersebut kerap menyalahkan korban dan berpihak kepada pelaku.
Sayangnya hal ini terus terjadi, dari era Louis Althusser hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah pemberitaan mengenai femisida. Acap kali media masih menyajikan kasus femisida sebagai kejahatan individu alih-alih melihatnya sebagai kekerasan sistemis.
Ini bisa kita lihat misalnya dari penggunaan judul artikel yang masih memberikan label buruk pada perempuan korban dan bermaksud melecehkan. Sialnya hal ini dilakukan media semata demi rating tinggi.
Selain itu media masih menggunakan foto ataupun ilustrasi berupa wajah korban walaupun telah disamarkan. Padahal ini tidak sesuai kode etik jurnalistik dan tidak ramah bagi penyintas KS. Ironisnya, kejadian-kejadian tersebut diproduksi secara terus-menerus dan melanggengkan budaya patriarki yang telah melekat.
Dengan demikian, dalam pemberitaan tersebut korban yang seharusnya mendapatkan ruang aman dan nyaman, justru tidak terlindungi. Karena, mulai dari judul, ilustrasi, dan narasi tidak berperspektif korban, akibatnya korban menjadi takut untuk kembali bersuara.
Sebaliknya, pelaku KS yang seharusnya menjadi sorotan dan bertanggung jawab justru diabaikan bahkan sering kali mendapat perlindungan. Perilaku melindungi pelaku KS untuk menjaga nama baik kelompok di buku ini dipaparkan dalam bahasan berjudul “Perlindungan dan Solidaritas Maskulin”.
Bagi saya buku ini sangat menarik karena relevan dengan situasi saat ini. Ia mendedah hal-hal busuk dan bejat terkait pelaku KS yang menggunakan dalih kejiwaan dan solidaritas orang-orang di lingkaran terdekatnya yang melindungi pelaku.
Ternyata kebiasaan dan pola-pola kejahatan itu sudah terjadi dari zaman dahulu dan nahasnya masih terjadi hingga saat ini.
Foto: versobooks.com
(Editor: Anita Dhewy)






