Di balik gemerlap dunia kerja yang menjanjikan kebebasan ekonomi, ada paradoks yang jarang disadari: tidak semua kerja diakui sebagai kerja. Kita sering kali memahami pekerjaan sebagai sesuatu yang diberi upah, dinilai berdasarkan produktivitas, dan diatur dalam sistem ekonomi formal. Namun, di luar ruang-ruang yang terlihat, ada tenaga yang terus bekerja tanpa henti—tanpa pengakuan, tanpa gaji, dan tanpa perlindungan hukum.
Isu mengenai kerja yang tidak terlihat telah lama menjadi fokus perhatian gerakan feminis. Dalam Revolusi di Titik Nol: Kerja Rumah Tangga, Reproduksi dan Perjuangan Feminis, Silvia Federici membahas bahwasanya relasi kekuasaan dan politik membentuk struktur kerja reproduksi. Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis Silvia Federici antara 1974 hingga 2016.
Di buku ini Silvia membahas sejumlah isu krusial. Seperti restrukturisasi global dalam kerja domestik serta dampaknya terhadap pembagian kerja berbasis gender, migrasi tenaga kerja perawatan, dan perkembangan kerja emosional.

Melalui penelitian dan analisisnya selama empat dekade, Federici menyoroti bahwa kerja rumah tangga dan reproduksi sosial bukan sekadar beban yang harus ditanggung perempuan. Ia sekaligus medan perjuangan untuk membebaskan diri, memperbaiki kondisi kerja, membangun relasi sosial yang lebih adil di luar eksploitasi kapitalis.
Eksploitasi yang Tak Terlihat: Perempuan dan Kerja Tak Berbayar
Kita diajarkan bahwa dunia kerja itu adil: bekerja, dibayar, dan mendapatkan hak yang pantas. Namun, realitasnya lebih kompleks. Kapitalisme menciptakan ilusi bahwa hubungan pekerja dan modal adalah transaksi jujur. Padahal di balik slip gaji ada tenaga yang tak dihitung dan nilai yang direnggut tanpa kompensasi. Upah bukan hanya alat tukar, tetapi juga tirai yang menyembunyikan eksploitasi.
Setidaknya, upah memberi pengakuan bahwa kita adalah pekerja yang bisa menuntut hak. Namun, bagaimana dengan mereka yang bekerja tanpa upah? Perempuan yang setiap hari menyapu, mencuci, memasak, dan mengurus anak tidak dianggap sebagai pekerja. Kapitalisme memastikan kerja mereka tetap tak terlihat dan dinaturalisasi sebagai bagian dari kodrat perempuan. Merawat rumah dan keluarga dianggap sebagai panggilan alami, bukan pekerjaan yang layak dihargai.
Inilah siasatnya: kerja domestik dijadikan bagian dari identitas perempuan, bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Perempuan diajarkan bahwa membersihkan rumah adalah kebahagiaan, mengasuh anak adalah kepuasan, dan merawat suami adalah bukti cinta. Sistem ini bukan hanya mengontrol cara perempuan diperlakukan, tetapi juga bagaimana mereka melihat diri sendiri. Mereka sulit menyadari bahwa kerja mereka menopang seluruh sistem dan seharusnya bernilai.
Kapitalisme menciptakan sosok ibu rumah tangga sebagai pendukung utama pekerja laki-laki. Dialah yang memastikan laki-laki tetap produktif dengan menyediakan makanan, perawatan, dan kenyamanan. Namun, siapa yang menopang ibu rumah tangga? Tak ada. Pekerjaan mereka yang tak terlihat justru makin membelenggu mereka dalam beban tanpa akhir.
Baca juga: Edisi Khusus Feminisme: Feminisme Marxis, Melucuti Sistem Kapitalisme Untuk Pembebasan Perempuan
Jebakan ini tidak hanya menimpa perempuan yang menikah. Begitu kerja domestik dinaturalisasi dan diseksualisasi, semua perempuan, tanpa kecuali, dikaitkan dengannya. Lajang atau menikah, muda atau tua, perempuan selalu diasosiasikan dengan pelayanan. Kita mungkin tidak langsung melayani laki-laki, tetapi dalam sistem yang dikendalikan mereka, kita tetap diposisikan sebagai pelayan.
Bahkan dalam hal sekecil ekspresi wajah, perempuan diharapkan untuk selalu menyenangkan. “Senyum dong, sayang. Kenapa cemberut?” Permintaan ini bukan sekadar imbauan, tetapi simbol dari ekspektasi yang lebih besar: perempuan harus selalu ramah, hangat, dan siap melayani. Bahkan tubuh dan ekspresi wajah pun dikontrol oleh sistem yang memastikan perempuan tetap berada dalam peran yang telah ditentukan.
Kapitalisme dan Kontrol atas Tubuh Perempuan
Perempuan sering bertanya-tanya, mengapa setelah malam-malam penuh gairah, laki-laki dapat bangun dan kembali ke dunia mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Sementara itu, yang tertinggal bagi perempuan hanyalah sisa-sisa keintiman yang telah berlalu, bersama dengan tumpukan pekerjaan rumah tangga dan kekhawatiran yang masih melekat di pundak.
Bagi banyak perempuan, seks bukan hanya soal hasrat, tetapi juga tuntutan sosial dan ekonomi. Kita diajarkan untuk menemukan kenikmatan dalam memberi, dalam memastikan kepuasan pasangan, dalam melihat laki-laki terangsang dan bergairah.
Namun, di balik ilusi keintiman itu, ada sistem yang bekerja. Kendali atas seksualitas perempuan tidak sekadar terjadi dalam ruang privat, tetapi diatur dengan disiplin ketat oleh keluarga, masyarakat, dan negara. Ayah, saudara laki-laki, suami, hingga mucikari, semuanya berperan sebagai pengawas, memastikan tubuh perempuan hanya tersedia dalam batas-batas yang telah disepakati.
Ketergantungan ekonomi menjadi alat utama dari kontrol ini. Sebab itulah, pekerjaan seksual masih menjadi salah satu jalan utama bagi perempuan, dan prostitusi, secara halus atau terang-terangan, menjadi bayangan yang melekat dalam setiap hubungan seksual. Dalam kondisi seperti ini, spontanitas sulit ditemukan, dan kesenangan dalam seksualitas sering kali terasa fana.
Seks hampir selalu disertai kecemasan. Kita telah terlalu terbiasa melihat tubuh sendiri dengan mata orang lain—dievaluasi, dibandingkan, dikomodifikasi. Standar kecantikan yang terpampang di dinding kota dan layar televisi mengajarkan bahwa tubuh bukan sekadar tubuh, melainkan aset yang nilainya ditentukan oleh seberapa diinginkan ia bagi orang lain.
Baca juga: Bagaimana Buruh dan Petani Melawan Kapitalisme?
Tidak heran jika banyak perempuan merasa tak pernah benar-benar nyaman dengan tubuh mereka sendiri, apapun bentuknya. Kesadaran bahwa tubuh selalu menjadi objek penilaian menghancurkan kepercayaan diri dan menjadikan hubungan dengan tubuh sendiri begitu rumit.
Karena itu, entah kurus atau gemuk, tinggi atau pendek, kita semua pernah merasa asing dengan tubuh kita sendiri. Kita membencinya bukan karena bentuknya, melainkan karena ia telah lama menjadi sesuatu yang dijual, sesuatu yang terasing dari diri kita.
Rasa takut terhadap perubahan—keriput, kegemukan, penuaan—menghantui, seolah-olah daya tarik yang memudar berarti dunia tak lagi peduli. Ketakutan ini bukan sekadar kekhawatiran personal, tetapi ancaman nyata: kehilangan hak atas keintiman, kehilangan kesempatan untuk disentuh dan dipeluk.
Dalam dunia yang telah terbentuk demikian rupa, eksistensi perempuan terus-menerus diukur dari bagaimana tubuh mereka dilihat oleh orang lain. Bukan dari bagaimana mereka mengalaminya sendiri.
Dari Kesadaran ke Perlawanan: Melawan Eksploitasi
Eksploitasi terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam ruang domestik atau dunia kerja, tetapi juga dalam perebutan sumber daya alam. Perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh perampasan tanah, penggundulan hutan, dan komersialisasi lingkungan.
Meski menghadapi tekanan terus-menerus, mereka tetap memiliki kekuatan untuk melawan dan mempertahankan hak-haknya. Sejarah mencatat berbagai perlawanan perempuan terhadap eksploitasi, baik dalam perjuangan atas tanah, lingkungan, maupun hak ekonomi.
Aili Mari Tripp (2000) menunjukkan bahwa perlawanan perempuan terhadap perampasan tanah bukanlah fenomena baru. Dari Kawaala di Uganda hingga berbagai wilayah di Afrika dan Asia, perempuan tani terus berjuang melawan pembangunan industri yang mengancam ruang hidup mereka.
Tanah bagi perempuan bukan sekadar tempat bercocok tanam. Ia juga ruang bertahan hidup, bagian dari sejarah, dan identitas yang tidak bisa dikomersialisasi begitu saja. Perlawanan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap kolonisasi baru yang mengulang pola lama: merampas sumber daya dengan mengorbankan kelompok paling rentan. Seperti di masa kolonial, perempuan kembali berada di garis depan perjuangan.
Namun, mereka tidak hanya bertahan. Di Kawaala, perjuangan perempuan tidak sekadar mempertahankan tanah, tetapi juga membangun proyek berbasis komunitas yang berlandaskan solidaritas.
Baca juga: Edisi Khusus Feminisme: Ekofeminisme Perjuangkan Lingkungan Ramah Perempuan
Dalam model ini, kepentingan perempuan, janda, anak-anak, dan lansia menjadi prioritas, dengan kesadaran bahwa tanah adalah sumber utama keberlanjutan mereka. Gagasan ekonomi berbasis solidaritas kembali dihidupkan, menolak eksploitasi dan menegaskan pentingnya kedaulatan pangan.
Di berbagai belahan dunia, perempuan telah mempertaruhkan tubuh mereka untuk melindungi lingkungan. Vandana Shiva (1989) menulis bahwa hutan adalah simbol kesuburan bumi, tetapi justru karena itu, ia menjadi sasaran eksploitasi brutal. Kehancuran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam masyarakat adat. Terutama perempuan yang bergantung pada hutan untuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Sejarah mencatat berbagai gerakan perempuan yang menolak perusakan lingkungan. Di Garhwal, Uttar Pradesh, perempuan dalam Gerakan Chipko memeluk batang pohon untuk mencegah penebangan, menjadikan tubuh mereka sebagai perisai. Sementara itu, di Thailand Utara, perempuan desa melawan perkebunan kayu putih yang merampas tanah mereka demi kepentingan perusahaan kertas Jepang.
Di tengah eksploitasi yang makin agresif, perempuan terus merawat harapan. Perlawanan mereka bukan sekadar nostalgia atas masa lalu yang lestari, tetapi juga perjuangan mempertahankan masa depan yang berkelanjutan. Dengan keteguhan dan solidaritas, mereka menegaskan bahwa tanah, kehidupan, dan kebebasan mereka bukan untuk dijual.
(Editor: Anita Dhewy)






