“Anda mungkin pikir Anda tahu cerita saya. Percayalah pada saya, Anda tidak.”
Kalimat pembuka itu datang dari Maria di film Mary, dan seketika saya merasa dipanggil untuk menonton film ini. Ada sesuatu yang menggelitik di sana, dalam cara ia berkata, seolah mengingatkan kita bahwa cerita yang kita tahu, yang sudah kita dengar, mungkin hanyalah potongan-potongan dari sebuah kisah yang lebih besar dan lebih kompleks.
Film ini mencoba menyelami bagian-bagian yang tak banyak diceritakan dalam Alkitab. Misalnya, kisah awal Maria. Diceritakan bahwa orangtua Maria, Joachim dan Anne, yang sudah berusia lanjut, merasa seolah dihukum Tuhan karena tak kunjung diberi anak. Setelah berpuasa dan berdoa, malaikat Gabriel pun memberi tahu bahwa mereka akan memiliki seorang anak perempuan untuk menggenapi nubuatan nabi Yesaya. Kisah tentang awal kelahiran bayi Maria ini menjadi informasi baru bagi saya.
Sutradara DJ Caruso dalam wawancaranya mengatakan bahwa selain Injil kanonik dan sejarawan Yahudi kuno Josephus, ia juga menggunakan teks yang disebut Proto-Injil Yakobus untuk sebagian besar kisah latar belakang Maria. Ia juga ingin membuat sosok Maria “menjadi manusia” dan mudah dipahami sehingga orang-orang akan menerimanya dan bahkan mencintainya lebih dari yang mereka lakukan.
Baca juga: Natal Bukan Hanya Cerita Tentang Yesus, Tapi Juga Tentang Maria Yang Feminis
Sesuai dengan janji yang diucapkan Joachim kepada Gabriel, Maria remaja pun diantar ke bait suci untuk mengabdi kepada Tuhan. Orang-orang di bait suci menyambut Maria dengan sukacita dan memperlakukannya dengan istimewa karena tahu bahwa Maria adalah utusan Tuhan. Seperti saat Maria terlambat masuk kelas, gurunya hanya menegurnya lembut sambil berbisik. Namun ketika akhirnya Maria ketahuan hamil, ia diusir dengan tidak hormat dari bait suci.
Padahal di film, bait suci yang dalam pandangan masyarakat pada masa itu adalah tempat yang paling suci, tak terganggu oleh kekuasaan Herodes tiba-tiba kehilangan karakter itu begitu Maria berhadapan dengan kenyataan yang tak bisa diterima masyarakat. Bait suci menolak menjadi tempat aman bagi Maria.
Anna, ibu Maria dengan tenang menerima Maria yang pulang ke rumah mengadu bahwa ia hamil, dan meminta Maria merahasiakan hal itu. Namun, Joachim, yang seharusnya tahu lebih banyak, bahkan diberitahu oleh Gabriel sendiri, malah keras kepala, menolak menerima kenyataan tersebut. Ada semacam ironi yang terbangun, di mana bahkan orang-orang yang menerima mujizat Tuhan sekalipun sulit menerima kondisi ini.
Pertanyaan Tentang Representasi Aktris dan Identitas Kultural
Sejak film ini tayang, langsung memancing beragam reaksi. Sorotan utama jatuh pada Noa Cohen, aktris asal Israel yang memerankan Maria. Banyak pihak menilai bahwa pemilihan Cohen tidak hanya problematis secara historis, tetapi juga sensitif secara geopolitik, mengingat konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Palestina.
Melansir Times Of Israel, salah satu kritik menyebut bahwa film ini adalah “penghinaan,” mengingat latar belakang Maria yang dianggap sebagai perempuan Palestina. Beberapa suara di media sosial menyoroti ironi seorang aktris dari negara yang dianggap sebagai penjajah memainkan tokoh yang mereka klaim mewakili Palestina. “Film tentang perempuan Palestina diperankan oleh aktor dari negara pemukim yang saat ini membantai perempuan Palestina secara massal,” tulis salah satu kritikus.
Sutradara film ini, Caruso, mengatakan kepada Entertainment Weekly bahwa Maria adalah orang Yahudi, seraya menambahkan, “Penting bagi kami agar Maria, bersama sebagian besar pemeran utama kami, dipilih dari Israel untuk memastikan keaslian.”
Dari sudut pandang agama, ketiga agama Abrahamik sepakat bahwa Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang tinggal di wilayah Yudea, bagian dari Kekaisaran Romawi. Hal ini membuat perdebatan tentang apakah Maria dapat disebut sebagai orang Palestina. Ada sebuah wilayah dalam Alkitab yang disebut Filistia, namun wilayah ini kemungkinan terletak di tempat yang sekarang dikenal sebagai Gaza, dan tidak mencakup daerah pedalaman tempat Betlehem, Nazaret, dan Yerusalem berada. Meskipun demikian, beberapa ahli berpendapat bahwa istilah Palestina sudah digunakan sebagai cara umum untuk merujuk pada wilayah Levant yang lebih luas sejak Zaman Perunggu.
Menciptakan Drama yang Tidak Perlu
Dan sama seperti film kisah Alkitab yang kurang bagus lainnya, film ini pun demikian bagi saya. Harapan untuk mengenal sosok Maria lebih dalam pupus sudah. Maria memang digambarkan sebagai sosok yang berani berpendapat dan baik hati. Tapi sutradara tampaknya terlalu ingin ‘memanusiakan’ Maria dengan banyak akting mata berkaca-kaca dan menangis sehingga membuat Maria tampak labil. Malah sosok Joseph (Yusuf) lebih terkesan heroik dan berbesar hati di sini, dan konsisten dari awal sampai akhir.
Sepanjang film, kesan gelap dan muram menghasilkan perasaan yang jauh dari sukacita saat menontonnya. Ditambah lagi adegan kekerasan brutal dan kekerasan yang ditonjolkan sepanjang film membuat rasa tidak nyaman. Banyak adegan yang berbeda dari yang kita tahu. Seperti Maria yang tidak naik keledai tapi kuda, lalu melahirkan Yesus bukan di kandang domba, tapi bangunan tanpa atap. Dan adegan yang paling parah adalah saat Maria menunggang kuda melewati api untuk melarikan diri dari tentara Herodes. Kenapa sampai mendramatisir sosok Maria sebagai itu?
Memang kondisi pada masa itu penuh dengan kekejaman dan kegelapan. Tapi akan sangat kontras jika saya hubungkan dengan suasana sukacita Natal. Film ini sendiri ditayangkan di Netflix pada tanggal Desember 2024 dan diasumsikan memang untuk ditonton sambil menyambut hari Natal.
Saya mengimani Maria sebagai sosok yang feminis. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria dan mengumumkan bahwa ia telah dipilih untuk melahirkan Yesus, Maria tidak langsung setuju. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan kepadanya (Lukas 1:26-38). ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Kemudian Maria menjalankan kehendak bebasnya. Dan memberikan jawaban “ya” sepenuh hati kepada Tuhan. Walau dengan jawaban itu, ia akan menghidupi konsekuensinya.
Baca juga: Jika Relasi dengan Ibumu Tak Baik-Baik Saja, Kamu Bisa Belajar Dari Film “Bila Esok Ibu Tiada”
Dari sekelumit cerita Alkitab tentang kisah Maria melahirkan bayi Yesus dan kidung pujian Maria, bisa ditemukan pemikiran dan agensi Maria memandang dunia sekelilingnya tanpa meninggalkan spiritualitasnya. Maria berpihak pada kaum marjinal yang lapar. Terlihat dari nyanyian pujiannya di Lukas 1: 46-55.
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
(Dan) Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Maria menyadari perannya yang unik dan kuat dalam sejarah keselamatan. Tetapi juga menjalaninya dengan kerendahan hati. Ia memuji Tuhan atas cara-Nya bekerja tidak seperti cara-cara dunia, yang menghargai kekuatan dan dominasi. Tuhan bekerja paling kuat melalui kerentanan manusia. Melalui itu Tuhan menjungkirbalikkan dinamika dominasi dan penindasan duniawi.
Editor: Anita Dhewy






