Setelah melahirkan, hidup seorang perempuan berubah drastis, tapi perubahan itu jarang dibicarakan secara gamblang.
Perempuan lalu dipuji karena pengorbanannya, namun pada saat yang sama, sebenarnya ia kehilangan ruang untuk diakui sebagai individu yang utuh.
Istilah Flamingo Era kerap digunakan untuk menggambarkan fase kehidupan seorang ibu yang dianggap telah kehilangan “warna”. Pink yang dahulu melekat pada flamingo, berupa simbol keceriaan, daya tarik, dan kehadiran yang menonjol, perlahan telah memudar. Metafora ini sering dipakai untuk menamai perubahan emosional perempuan setelah menjadi ibu, yakni lebih lelah, lebih hening, dan lebih jarang menempatkan diri di pusat perhatian. Namun, di balik ungkapan itu, tersembunyi persoalan sosial yang jauh lebih kompleks yang dialami ibu.
Flamingo Era sendiri adalah istilah ketika seorang ibu dianggap mulai kehilangan “warna” atau jati dirinya karena terlalu fokus pada peran sebagai ibu & istri. Setiap hari sibuk mengurus anak dan suami, sampai lupa mengurus dirinya sendiri.
Namun, laki-laki tak mendapatkan sebutan ini. Perubahan hidup yang terjadi pada laki-laki, tak membuat laki-laki distigmakan sebagai seseorang yang kehilangan warna.
Flamingo Era bukan semata kondisi psikologis individual. Ia merupakan konstruksi pengalaman struktural, yang lahir dari cara masyarakat memandang dan memperlakukan ibu. Ia menandai fase ketika identitas sosial seorang perempuan berangsur menyempit, digantikan oleh satu peran dominan yang menyerap hampir seluruh eksistensinya.
Galibnya, perempuan memasuki peran keibuan dengan membawa beragam identitas, seperti profesional, intelektual, aktivis, pekerja seni, atau sekadar individu dengan minat dan aspirasi personal. Namun, setelah menjadi ibu, identitas-identitas tersebut seringkali tereduksi. Lingkungan sosial, sadar atau tidak, mulai memperlakukan ibu hanya melalui satu lensa: pengasuhan.
Nama personal memudar, digantikan oleh sebutan relasional. Prestasi masa lalu dianggap hilang, sementara pengalaman keibuan diposisikan sebagai satu-satunya legitimasi bicara. Ketika seorang ibu berbicara tentang ambisi di luar rumah, respons yang muncul kerap berupa pertanyaan normatif: apakah itu nanti tidak mengganggu anak? Apakah itu tidak egois? Apakah itu masih pantas? Seolah-olah keibuan adalah kontrak total yang meniadakan hak atas diri sendiri.
Proses ini berlangsung perlahan dan sistemik. Walaupun tidak ada larangan eksplisit bagi ibu untuk tetap menjadi dirinya sendiri, tapi ada ekspektasi sosial yang kuat yang secara halus membentuk batas-batas “kepantasan”. Di situlah Flamingo Era berpijak. Salah satu pilar flamingo era adalah glorifikasi pengorbanan. Ibu yang baik digambarkan sebagai sosok yang mendahulukan anak di atas segalanya, bahkan di atas kesejahteraan dirinya sendiri. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi legitimasi moral yang diberikan.
Narasi ini bermasalah karena menempatkan kelelahan sebagai konsekuensi yang harus diterima, bukan sebagai sinyal bahwa ada sistem yang timpang. Kerja pengasuhan diperlakukan sebagai kodrat alami, bukan sebagai kerja sosial yang menuntut energi, waktu, dan kesehatan mental. Ketika ibu mengalami kelelahan emosional atau kebingungan identitas, respons yang diterima seringkali berupa normalisasi. Toh, semua ibu juga begitu, semua dianggap normal.
Ilusi Ibu Ideal
Ruang digital membuat makin ruwet pengalaman Flamingo Era.
Media sosial menyuguhkan citra ibu ideal yang serba bisa. Penuh kasih, sabar tanpa batas, produktif, tetap rapi, dan selalu bersyukur. Representasi ini menciptakan standar yang nyaris mustahil dipenuhi, tetapi terus direproduksi dan dinormalisasi.
Alih-alih menjadi ruang ekspresi, media sosial kerap berubah menjadi arena pembandingan. Ibu merasa terdorong untuk menampilkan versi terbaik dari pengasuhan, sembari menyembunyikan kelelahan, amarah, dan kebingungan. Ketika realitas tidak seindah representasi, rasa bersalah pun muncul, disertai perasaan tidak cukup baik.
Kesepian kemudian menjadi asupan sehari-hari seorang ibu. Bukan kesepian karena ketiadaan relasi, tapi kesepian eksistensial, perasaan tidak sepenuhnya dilihat sebagai individu yang utuh. Ibu hadir di tengah keluarga, tetapi sering tidak memiliki ruang aman untuk mengungkapkan kegamangan tanpa takut dihakimi.
Keluhan dianggap kurang bersyukur, refleksi dianggap berlebihan, dan kebutuhan personal dipandang sebagai tuntutan yang tidak perlu. Kesepian ini jarang dibaca sebagai persoalan sosial, ia lebih sering dipersonalisasi sebagai kelemahan mental atau kegagalan adaptasi. Padahal, kesepian tersebut adalah produk dari struktur yang membatasi ruang hidup ibu setelah menjadi ibu.
Flamingo Era juga tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan gender yang mengakar. Beban pengasuhan masih timpang dibebankan pada perempuan, bahkan ketika mereka juga bekerja di ruang publik. Minimnya pembagian peran domestik yang setara, ditambah kebijakan kerja yang tidak ramah keluarga, mempercepat kelelahan dan penyusutan identitas sosial. Ibu selalu dituntut untuk fleksibel, adaptif, dan tangguh, sementara sistem tetap kaku. Dalam kondisi demikian, kehilangan identitas bukanlah anomali, melainkan risiko struktural.
Menghadapi Flamingo Era tidak cukup dengan nasihat individual tentang self-care, manajemen waktu, atau sekadar ajakan “menjadi ibu yang bahagia”. Yang dialami banyak ibu merupakan krisis relasional antara tubuh, peran sosial, dan ekspektasi kultural yang bekerja bersamaan.
Pertama, masyarakat perlu mengakui bahwa keibuan tidak semestinya meniadakan identitas lain yang dimiliki perempuan. Dalam banyak kultur, ibu diposisikan sebagai figur yang “selesai” dengan dirinya sendiri. Ambisi, hasrat intelektual, karier, bahkan kesedihan pribadi dianggap harus mengalah demi peran pengasuhan.
Kedua, pengasuhan perlu dipahami sebagai kerja kolektif, bukan beban privat yang dibebankan hampir sepenuhnya pada ibu. Narasi “ibu hebat” seringkali justru menormalisasi kelelahan structural. Ibu yang sanggup mengurus segalanya sendiri dipuji, sementara kebutuhan akan bantuan dianggap kelemahan. Padahal, tanpa dukungan pasangan yang setara, keluarga yang responsif, komunitas yang peduli, dan sistem sosial yang menopang, pengasuhan akan selalu menjadi medan ketimpangan.
Ketiga, negara melalui kebijakan publik memiliki peran krusial dalam memulihkan identitas sosial ibu. Jam kerja yang kaku, cuti pengasuhan yang timpang, layanan penitipan anak yang mahal atau tidak tersedia, serta minimnya layanan kesehatan mental berbasis ibu menunjukkan bahwa kerja pengasuhan belum diakui sebagai fondasi keberlanjutan sosial.
Selama kebijakan masih mengasumsikan bahwa ibu akan “menyesuaikan sendiri” dengan kondisi lingkungannya, maka ini akan membuat kondisi ibu makin dipojokkan untuk memenuhi permintaan orang lain.






