Di tanah kelahiran saya, Minangkabau, adat adalah kehormatan. Ia dianggap sesuatu yang sangat sakral, dibentuk oleh nilai-nilai, sejarah, dan kosmologi nenek moyang, dan dijaga lintas generasi. Namun, di balik kehormatan adat yang diagungkan itu, seringkali saya melihat perempuan yang menanggung luka.
Itulah yang saya rasakan setelah membaca ulang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka. Sebuah perasaan yang bukan hanya tentang fiksi, tetapi juga tentang bagaimana sastra dapat berfungsi sebagai cermin hebat yang memantulkan cerminan penderitaan masyarakat yang belum pernah sembuh.
Zainuddin dan Hayati adalah dua karakter, dua jiwa, yang mencintai dalam diam, dalam batasan yang telah digariskan sebelum mereka lahir. Cinta mereka seperti dua benih yang tumbuh di tanah yang salah, bukan mereka tidak subur, tetapi karena ruang untuk tumbuh terbatas. Kemudian, ketika Hayati memilih jalan yang “dianggap benar”, saya tahu itu bukan drama, itu adalah realita. Inilah kehidupan gadis-gadis Minang yang telah diajarkan bahwa kepatuhan adalah bentuk cinta tertinggi kepada orang tua mereka, bahwa diam adalah cara paling elegan untuk mengekspresikan rasa sakit.
Jadi, ketika Hayati berkata maaf, itu bukan sekadar kata-kata, itu adalah jeritan jiwa. Ini adalah tanda bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri.
Baca Juga: Kisah Daina dan Petisi Hadisah: Perlawanan Perempuan Minang Menentang Adat Pemaksaan Perkawinan
Buya Hamka, dengan segala jeniusnya, menulis tragedi bukan dengan darah, tetapi dengan air mata. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan keheningan. Dia tidak menyalahkan Hayati, juga tidak menjadikan Zainuddin sebagai pahlawan yang sempurna. Faktanya, dia membiarkan pembaca tenggelam bersama kapal Van Der Wijck. Kapal yang bukan hanya membawa tubuh manusia tetapi juga sisa-sisa cinta, harapan, dan mimpi yang belum terwujud karena dikalahkan oleh sesuatu yang “lebih besar,” yang dikatakan tidak dapat disangkal, yaitu adat.
Tapi saya ingin bertanya, seberapa hebatkah adat itu sehingga bisa menenggelamkan kemanusiaan?
Di kampung saya, saya melihat terlalu banyak Hayati, perempuan yang baik, ramah, dan cerdas, tetapi tidak punya kendali atas hidup mereka sendiri. Mereka menikah bukan karena cinta, tetapi karena pilihan keluarga.
Mereka tinggal di rumah besar tapi hati mereka sepi. Mereka tersenyum di pelaminan tetapi menangis di dalam hati. Dan ketika saya mengatakan ini menyakitkan, orang-orang akan menyuruh saya untuk diam, mengatakan saya durhaka, mengatakan bahwa saya belum cukup “dewasa” untuk memahami bahwa hidup bukanlah soal perasaan. Tapi kemudian, sejak kapan adat membuat seseorang kehilangan hak atas perasaannya sendiri?
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bukan hanya tentang cinta yang kandas. Ini juga bicara tentang kelas sosial, diskriminasi, tentang bagaimana seseorang seperti Zainuddin yang bukan “murni” Minang, harus terus membuktikan nilainya hanya karena darah Bugis mengalir di nadinya. Sepertinya nilai seseorang hanya berlaku jika sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh masyarakat. Sepertinya bahkan cinta pun harus melewati ujian persyaratan administratif yang ditulis oleh sejarah yang penuh bias.
Baca Juga: Patriarki di Garis Matrilineal: Kondisi Buruk Menyerang Perempuan Minang
Novel ini bukan sekadar kisah cinta. Ini adalah kritik sosial yang dibungkus dalam bahasa yang indah. Karena di balik frasa-frasa puitis Buya Hamka, ada kenyataan pahit. Dan ketika kapal itu tenggelam, saya tahu itu bukan hanya kematian Hayati secara harfiah, tetapi juga kematian dari harapan akan cinta yang bisa menembus batas.
Kapal itu adalah metafora untuk harapan yang telah karam. Dari segala sesuatu yang indah tetapi mustahil, dari cinta yang sejak awal tidak diberi kesempatan. Dalam adat Minang, perempuan adalah penghuni rumah gadang. Tapi apakah mereka juga pemilik suara di rumah itu?
Kita diajarkan untuk bangga dengan filosofi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (Adat bersendikan syariat Islam, syariat bersendikan Kitabullah Alqur’an dan Sunnah). Namun dalam praktiknya, adat sering digunakan sebagai alat kontrol sosial yang kaku dan tanpa ruang negosiasi.
Kita berbicara tentang martabat, reputasi, dan garis keturunan, tetapi kita lupa bahwa semua ini tidak berarti jika hati seseorang dibiarkan hampa. Kita bicara soal garis keturunan ibu, tapi kita menutup mata ketika perempuan ingin menentukan arah hidupnya sendiri.
Dan mungkin inilah ironi terbesar dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Ia ditulis oleh seorang ulama yang sangat paham agama dan adat. Dan, melalui karya sastra itu, Ia mempertanyakan keduanya dengan realitas yang terjadi di masyarakat. Buya Hamka tidak menolak adat, tetapi beliau menyoroti bagaimana adat bisa kehilangan makna ketika menjelma jadi alat penindasan. Beliau tidak mengajak pembaca untuk memberontak, tetapi mengajak kita untuk berpikir, untuk merasakan, untuk menanyakan lagi siapa yang menulis naskah kehidupan kita?
Baca juga: Anak Saya Dipaksa Menikah Tanpa Seizin Saya, Apakah Pernikahannya Bisa Dibatalkan?
Ada bagian dari esai ini yang ditulis dengan amarah, ada pula yang ditulis dengan pilu. Karena sebagai perempuan Minang, saya menemukan diri saya berada di dua sisi. Di satu sisi, saya bangga karena adat Minang menghormati perempuan, memberi mereka tempat istimewa, dan memberi garis keturunan melalui ibu. Tapi di sisi lain, saya melihat bagaimana perempuan juga sering menjadi tumbal dari kebanggaan itu sendiri. Mereka dijadikan simbol kehormatan, tetapi mereka tidak memiliki ruang untuk memilih.
Saya tidak tahu berapa banyak Hayati di luar sana, tetapi saya tahu mereka ada. Di balik senyuman sopan dan baju kurung, ada hati yang ingin memberontak tetapi memilih untuk tetap diam. Dan mungkin, hal yang paling menyakitkan dari semuanya adalah mereka tidak merasa berhak untuk marah.
Buya Hamka, mungkin tanpa disadari, menulis surat panjang untuk generasi mendatang. Sebuah surat yang isinya tidak hanya tentang kehilangan tetapi juga tentang keberanian. Keberanian untuk mencintai, untuk mempertanyakan, untuk tidak menyerah pada “takdir” yang ditulis oleh orang lain. Dan mungkin saatnya telah tiba untuk membaca surat itu bukan sebagai cerita dari masa lalu, tetapi sebagai panggilan untuk hari ini. Karena cinta yang tenggelam sekali, tidak harus tenggelam selamanya.






