Film Indonesia bertajuk Something in The Way (2013) merupakan karya sutradara Teddy Soeriaatmadja salah satu karya sinematik yang berani mengangkat tema sensitif tentang pekerja seks di Jakarta tanpa mengaburkan realitas sosial yang pahit.
Film tersebut tidak dirilis secara komersial di bioskop Indonesia karena ketakutan akan kontroversi, dan hanya diputar pada film festival film internasional seperti Berlinale.
Melalui narasi tentang hubungan antara Achmad, seorang supir taksi yang bermuka dua, dan Kinar, seorang Pekerja Seks (PS), film ini membuka ruang untuk dianalisis melalui lensa teori feminisme.
Something in The Way berkisah Ahmad (Reza Rahadian), seorang supir taksi yang di siang hari senang mendengarkan ceramah masjid, namun di malam hari memiliki hobi melakukan mansturbasi dan menonton film dewasa. Ahmad diam-diam mencintai Kinar (Ratu Felisha), pekerja seks yang menjadi tetangganya.
Setiap malam, Ahmad mengikuti Kinar dengan taksinya kemanapun Kinar dibawa pelanggannya. Hal ini menciptakan dinamika hubungan yang kompleks antara keinginan, moralitas, dan stigma sosial.
Kinar digambarkan sebagai PS yang bekerja demi membiayai buah hatinya– sebuah detail penting yang menunjukkan pekerjaannya bukan sekedar pilihan moral yang buruk, melainkan strategi survival ekonomi dalam struktur patriarki yang memarginalkan perempuan. Film ini merupakan bagian kedua dari “Trilogi Kemunafikan” Teddy Soeriaatmadja, setelah Lovely Man, yang mengeksplorasi kemunafikan sosial terkait gender dan seksualitas.
Analisis melalui Teori Feminisme Simone de Beauvoir
Simone de Beauvoir dalam The Second Sex mengemukakan bahwa perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi dibentuk menjadi perempuan oleh konstruksi sosial.
Konsep The second sex (perempuan sebagai seks kedua) dan dikotomi self-other (diri-liyan) sangat relevan untuk menganalisis posisi Kinar dalam film.
Kinar diposisikam sebagai “liyan” (the other) dalam masyarakat patriarkal. Sebagai PS, ia dikategorikan sebagai perempuan “jahanam”, “kotor”, dan “tercela”—stigma yang diciptakan oleh masyarakat yang didominasi laki-laki. Namun, film ini justru menunjukkan bahwa Kinar bukanlah objek pasif dari stigma tersebut. Ia memiliki agensi untuk menolak cinta Ahmad, menantang Ahmad membuktikan cintanya, dan menyuruh Raya untuk mendapatkan hati Ahmad.
Tindakan ini menunjukkan bahwa Kinar adalah subjek yang aktif menentukan nasibnya, bukan sekedar objek eksploitasi.
Konsep transendensi dan imanensi Beauvoir juga terlihat jelas. Perempuan dalam dunia patriarki sering dijebak dalam imanensi (keadaan pasif, terjebak dalam peran domestik), tetapi Kinar menunjukkan transendensi dengan bekerja, menentukan strategi hidupnya, dan menolak dikotomi moral yang dipaksakan masyarakat.
Ia bekerja sebagai PS bukan karena lemah, tetapi karena dalam struktur ekonomi yang tidak adil, ini adalah salah satu sedikit pilihan yang tersedia untuk membiayai hidupnya dan anaknya.
Teori feminisme interseksional membantu memahami bagaimana gender berinteraksi dengan kelas sosial dan struktur kekuasaan dalam membentuk pengalaman Kinar. Sebagai perempuan miskin dari kelas bawah, Kinar menghadapi diskriminasi ganda: sebagai perempuan dalam masyarakat patriarki dan sebagai PS dalam masyarakat yang menghakimi.
Interseksionalitas terlihat dari bagaimana Kinar tidak hanya dihukum karena pekerjaan seksnya, tetapi juga karena ketiadaan akses ekonomi alternatif. Ia tidak memiliki pendidikan tinggi, tidak memiliki modal, dan tidak memiliki jaringan sosial yang mendukung.
Dalam konteks ini, prostitusi bukan sekedar “pilihan moral” melainkan strategi survival dalam kapitalisme patriarkal yang memarginalkan perempuan kelas bawah.
Film ini juga menyoroti hipokrisi sosial: Ahmad yang “alim” di siang hari ternyata memiliki libido tinggi dan menonton film dewasa, sementara Kinar yang dihukum sebagai PS justru bekerja demi membiayai anaknya. Kritik ini sejalan dengan feminisme yang menolak moralitas ganda yang diterapkan berbeda pada laki-laki dan perempuan.
Perspektif Perempuan: Dari Objek Menjadi Subjek
Salah satu kekuatan Something in The Way adalah keberaniannya menampilkan Kinar dari perspektif perempuan, bukan hanya sebagai objek pandangan laki-laki (male gaze).
Ratu Felisha sebagai Kinar menampilkan gerak-gerik yang menggoda pelanggan saat mangkal, tetapi penonton juga diajak melihat sisi manusiawinya: seorang ibu yang berjuang menolak cinta dengan caranya sendiri, dan seorang subjek yang memiliki kehendak.
Dalam analisis wacana kritis Sara Mills, film ini menggeser wacana tentang pekerja seks dari objek stigma menjadi figur berdaya dan bermartabat, seperti yang terjadi pada film Gangubai Kathiyawadi. Kinar tidak diposisikan sebagai “korban yang perlu diselamatkan” melainkan sebagai agen perubahan yang memiliki agency untuk menentukan bagaimana ia dan hidup berelasi.
Film ini mengkritik ideologi patriarki yang menciptakan moralitas ganda: laki-laki boleh memiliki libido tinggi dan menonton film dewasa tanpa dihukum, sementara perempuan yang bekerja sebagai PS dicap “kotor”.
Ahmad, yang ditunangkan dengan Raya (gadis cantik dan baik), justru mencari PS karena ia tidak puas dengan perempuan “normal”. Ini menunjukkan bagaimana patriarki mendekomposisi perempuan menjadi dua kategori: perempuan “suci” (istri, gadis, baik) dan perempuan “dosa” (PS), padahal kedua kategori ini diciptakan oleh kebutuhan dan fantasi laki-laki.
Kemunafikan moral juga tercermin dari kontradiksi yang dialami Ahmad: siangnya mendengarkan ceramah, malamnya melakukan “dosa”.
Film ini menyoroti bahwa kemunafikan ini bukan sekedar masalah individu, tetapi masalah struktural yang diciptakan oleh masyarakat yang menghukum ekspresi seksualitas perempuan tetapi mentolerir (bahkan mendorong) ekspresi seksualitas laki-laki.
Signifikansi Film dalam Diskursus Feminis Indonesia
Something in The Way merupakan film festival yang berani mengeksplorasi tema tanpa takut pada sensor ketat Lembaga Sensor Indonesia, yang seringkali menggunting cerita hingga menjadi aneh. Film ini menawarkan narasi yang jarang terdengar dalam sinema Indonesia: perspektif perempuan PS sebagai subjek yang memiliki agensi, bukan objek stigma.
Melalui analisis feminisme Beauvoir dan interseksionalitas, film ini menunjukkan bahwa perempuan PS bukan sekedar “korban moral” tetapi korban dari struktural ekonomi dan patriarki yang tidak adil.
Film ini mengajak penonton untuk melihat dari perspektif perempuan, memahami kompleksitas pilihan yang tersedia bagi perempuan kelas bawah, dan mengkritik moralitas ganda yang diciptakan oleh masyarakat patriarkal.
Dalam konteks feminisme Indonesia, film ini penting karena memberikan representasi perempuan yang tidak jatuh dalam stereotip tradisional: perempuan kuat, memiliki kehendak, dan menolak dikotomi moral yang dipaksakan.
Seperti yang dikatakan Beauvoir, perempuan tidak dilahirkan menjadi perempuan; mereka dibentuk oleh struktur sosial.
Something in The Way menunjukkan bagaimana Kinar, meskipun dibentuk oleh struktur yang menindas, tetap memiliki agensi untuk menolak, menentukan dan bertahan.






