Komunitas AyahASI yang mendukung kerja ibu menyusui dan pemberian ASI untuk bayi. (dok. pribadi Rahmat Hidayat)

AyahASI Dukung Ibu Menyusui: Dari Cuitan Jadi Gerakan Sosial

Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) diperingati tiap tahun pada bulan Agustus. Tak hanya menjadi urusan perempuan (ibu), peran ayah dalam mendukung keberhasilan menyusui ataupun pemberian ASI pada anak sangatlah penting.

Di tahun 2010 lalu, istri Rahmat Hidayat baru saja melahirkan secara normal. 

Dua hari pasca melahirkan, istrinya sudah bisa pulang. Namun, tidak dengan bayi mereka yang lahir secara prematur. Bayi itu terpaksa dirawat secara intensif di ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit)

Selama dua belas hari, Rahmat menjalani rutinitas mengantar air susu ibu perah (ASIP) untuk anaknya di rumah sakit. Meski jumlahnya tak banyak, mereka tetap kekeuh untuk memberikan ASIP kepada anaknya. Meski situasi stres dan rasa bersalah karena berpisah dengan anak, saat itu menyebabkan ASI yang dikeluarkan istrinya juga seret. 

Ditambah lagi, mereka mendapat cibiran karena dianggap terlalu “memaksakan” untuk terus memberikan ASI kepada bayinya yang prematur. Cibiran ini datang tak hanya dari perawat rumah sakit yang seperti menghalangi pemberian ASI, tetapi juga dari keluarganya sendiri. 

“Kenapa kok gak pakai susu formula aja. Itu saya sampai dibilangin gitu oleh keluarga, kenapa ‘kok keras kepala banget?’ Padahal bayinya kecil di inkubator,” cerita Rahmat kepada Konde.co, Minggu, 2 Agustus 2026.

Baca Juga: Bukan Dapur-Sumur-Kasur: Kodrat Perempuan Itu Haid, Hamil, Melahirkan dan Menyusui

Rahmat merasa beruntung karena dukungan didapatkannya dari dokter di RS itu. Selain mendukung pemberian ASIP untuk anaknya yang prematur, dokter itu juga mengajari mereka teknik Kangaroo Mother Care. Itu bertujuan untuk menjaga kestabilan suhu tubuh bayi, meningkatkan detak jantung dan pernapasan yang lebih teratur, mempercepat kenaikan berat badan dan menstimulasi produksi ASI.   

“Dokternya cukup mendukung,” imbuh dia. 

Pengalamannya bersama istri soal lika-liku mengASI-hi anaknya itu dia sempat bagikan ke media sosial Twitter/ X. Dari cuitannya itu, Rahmat mendapatkan banyak respons dari sesama pejuang mengASI-hi. Termasuk para ayah muda saat itu. 

“Cerita saya di Twitter itu di-retweet juga sama teman-teman AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Dari situ banyak support banget. Saya kasih lihat ke istri: ‘Oh, ternyata saya gak sendirian,” jelasnya. 

(Rahmat Hidayat saat menggendong anaknya. Dok: Pribadi)
(Rahmat Hidayat saat menggendong anaknya. Dok: Pribadi)

Berawal dari cuitan itu, Rahmat kemudian terhubung secara digital dengan para ayah yang memiliki kesadaran dan kepedulian tentang pentingnya menjadi AyahASI. AyahASI merupakan istilah bagi para suami (ayah) yang memberikan dukungan penuh, aktif, dan siaga kepada istrinya agar sukses memberikan ASI. Ini menunjukkan keterlibatan suami (ayah) secara fisik, mental, dan emosional terhadap perempuan (ibu). 

Baca Juga: Survei AJI: Hanya 4 media yang Punya Ruang Menyusui

Rahmat, yang bekerja di bagian penerbitan buku, termasuk buku seputar menyusui dan ASI, memang sebelum mempunyai anak sudah banyak terpapar tentang menyusui. Terlebih, dia juga beberapa kali mengikuti kelas menyusui bersama istrinya jelang anak pertamanya lahir. 

Itu menjadi bekal Rahmat untuk mempersiapkan diri sebagai AyahASI. Dari latar belakang dan berbagai kesempatan itu, dirinya juga mengenal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). 

(Rahmat Hidayat dalam diskusi AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)
(Rahmat Hidayat dalam diskusi AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)

Dari sanalah, Rahmat bersama para AyahASI lainnya bertemu juga dengan jaringan AIMI. Hingga menjadi cikal bakal tercetusnya gerakan sosial AyahASI Indonesia; sebagai wadah yang menghubungkan bapak-bapak dari berbagai latar belakang yang sadar dan peduli terkait ASI dan menyusui. Mereka berperan sebagai support system bagi istri mereka dalam keberhasilan menyusui dan pemberian ASI. 

Rahmat menjadi salah satu pendiri AyahASI Indonesia (Co-Founder AyahASI Indonesia). Selain Rahmat, gerakan AyahASI Indonesia juga diinisiasi oleh Ernest Prakasa, Sogi Indra Dhuaja, Dipa Andika, Shafiq Pontoh, Pandu Gunawan, Syarief Hidayatullah, dan Aditia Sudarto. Gerakan itu diresmikan pada 25 April 2011. 

“Pada saat itu, kita berpikir kayaknya isu ini (menyusui) terlalu penting jika hanya diurus oleh para ibu. Kayaknya bapak-bapak kayak kita perlu bantu nih,” kata Rahmat. 

Baca Juga: Pekerja yang sedang Menyusui Tak Mendapat Istirahat Cukup Setelah Bekerja
(Rahmat Hidayat (kedua kiri atas) bersama tim AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)
(Rahmat Hidayat (kedua kiri atas) bersama tim AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)

Di awal-awal, mereka mengusulkan adanya kampanye tentang pentingnya menyusui dari sisi ayah. Salah satu pendiri AyahASI yang hadir dalam pertemuan itu, Syafiq, mengusulkan untuk dibuatkan buku untuk cerita pengalaman dari POV ayah tentang menyusui. 

“Terus kita sambut, kita nulis pengalaman masing-masing,” katanya. 

Berawal dari cuitan di Twitter di akun AyahASI Indonesia yang mulanya bertujuan ‘mengetes’ pasar untuk penerbitan buku. Namun, akhirnya justru menjadi wadah untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman sesama ayahASI secara digital. 

Dalam 2-3 hari, AyahASI Indonesia di Twitter sudah mendapatkan pengikut sebanyak 3.000. Dalam sepekan, Twitter itu bisa menembus 10.000 (10k) pengikut dan sampai kini berada di angka hampir 400 ribu. Selain X, mereka kini aktif di Instagram dengan ratusan ribu pengikut juga. 

Baca Juga: Seksualitas dan Menyusui yang Dianggap Tabu
(Buku yang ditulis oleh para pendiri AyahASI Indonesia. Dok: AyahASI)
(Buku yang ditulis oleh para pendiri AyahASI Indonesia. Dok: AyahASI)

Akhirnya, buku yang berisi catatan para AyahASI itu resmi dirilis. Buku itu kemudian diberi nama ‘Catatan AyahASI’ (Kami bukan ahli, cuma mau berbagi). Buku tersebut sudah beberapa kali dicetak ulang. 

(Rilis buku AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)
(Rilis buku AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)

“Dalam waktu kurang dari setahun itu, banyak banget bapak-bapak di berbagai daerah mengajukan diri untuk menjadi AyahASI di daerahnya. Makanya ada AyahASI Medan, AyahASI Lampung, AyahASI Palembang, AyahASI Bekasi, AyahASI Malang, AyahASI Yogyakarta, dll.,” katanya. 

Baca Juga: Stop Normalisasi “Bapak-bapak Planga Plongo”: Bahaya Weaponized Incompetence yang Dianggap Lucu

“Saat ini, vocal point kita ada di 15 kota di seluruh Indonesia. Vocal point ini yang meneruskan informasi yang kita punya; mereka berangkat dari bapak-bapak biasa,” lanjutnya. 

(Tim AyahASI Indonesia bersama para istri. Dok: Pribadi)
(Tim AyahASI Indonesia bersama para istri. Dok: Pribadi)

Di masa itu, perjuangan kampanye gerakan AyahASI Indonesia sering kali dihadapkan pada tabu di masyarakat. Bahwa urusan ASI itu urusan ibu (perempuan). Mereka juga berhadapan dengan derasnya iklan sufor dan miskonsepsi tentang sufor yang menjadi tantangan bagi edukasi seputar ASI. 

Rahmat menekankan bahwa AyahASI Indonesia ini lebih pada networking yang kemudian membentuk sosial. Mereka tak punya struktur yang mengikat, namun memiliki inisiatif-inisiatif yang mereka jalankan hingga saat ini. 

Selain kampanye di media sosial seputar menyusui dan AyahASI, mereka juga rutin tiap beberapa bulan mengadakan pertemuan yang mereka sebut kopi darat (kopdar). Kopdar itu mempertemukan AyahASI di tiap kota. 

Baca Juga: “Nursery Room” atau “Mother’s Room”? Perawatan Anak Bukan Hanya Kerja Perempuan
(Edukasi yang dilakukan oleh tim AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)
(Edukasi yang dilakukan oleh tim AyahASI Indonesia. Dok: Pribadi)

Mereka bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mendatangkan ahli serta melakukan berbagai kegiatan yang menunjukkan kedekatan antara ayah dan anak.  

“Kita dari awal memang memposisikan AyahASI itu bukan sebagai komunitas. Sebab kalau komunitas, dia punya anggota, punya struktur, punya program kerja, dan sebagainya. Kita memilih sebagai gerakan sosial; kita memang pengennya ini senang-senang gitu tapi ada dampak sosialnya,” terang dia. 

(Kelas AyahASI Indonesia bekerja sama dengan UNICEF. Dok: Pribadi)
(Kelas AyahASI Indonesia bekerja sama dengan UNICEF. Dok: Pribadi)

AyahASI Indonesia juga pernah terlibat dalam penyusunan kurikulum edukasi seputar ASI dan peran AyahASI di kawasan bencana. Mereka menjadi relawan saat gempa Palu sebelum pandemi. 

Saat ini, mereka sedang memperbarui kurikulum edukasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Bagaimana modul AyahASI itu bisa menjangkau dan sesuai dengan karakteristik ayah-ayah baru generasi milenial dan Gen Z saat ini. Mereka dihadapkan pada era masifnya informasi.

Baca Juga: Apakah Begini Cara Memperlakukan Ibu? Posisinya Rentan Gara-gara MBG

“Jadi kalau kita lihat di tren sekarang, mereka mencari informasi di internet dan AI. Informasi yang dulu kita pernah sampaikan, kita sampaikan lagi dengan konteks yang berbeda dan format berbeda,” jelasnya. 

Secara garis besar, modul itu menjelaskan beberapa poin. Mulai dari membongkar tantangan dan masalah yang dialami dalam mengASI-hi, pengetahuan secara teknis terkait menyusui; mengapa puting lecet, mengapa payudara bengkak dan bagaimana mencegah serta mengatasinya. 

(Pelatihan AyahASI Indonesia yang melibatkan para ayah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dok: Pribadi)
(Pelatihan AyahASI Indonesia yang melibatkan para ayah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dok: Pribadi)

Di sisi lain, bagaimana AyahASI bisa memberikan dukungan mental sampai menjadi pendengar yang baik bagi istri. 

“Rencananya, modul ini akan kita distribusikan secara gratis di website kami (e-modul),” katanya. 

Rahmat memberikan tips-tipsnya bagi ayah baru supaya bisa berperan menjadi AyahASI yang mendukung istrinya. Supaya bisa menyusui secara optimal. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membekali pengetahuan yang benar soal menyusui dan mitos-mitosnya. Perlu membongkar tabu dengan sumber dan referensi terpercaya. 

Selanjutnya, persiapkan kelahiran anak sebaik mungkin. Caranya adalah mencari rumah sakit dan tenaga kesehatan yang mendukung pro-ASI. Selain itu, penting juga AyahASI untuk ikut hadir dan siaga dalam mengikuti kelas-kelas menyusui, jika perlu, mengajak anggota keluarga lain agar support system terbangun.    

“Tak kalah penting, AyahASI bisa saling berjejaring dan membangun dukungan satu sama lain. Sebab perjuangan mengASI-hi adalah berlapis-lapis tantangannya,” pungkasnya. 

(Editor: Luviana Ariyanti)

(Foto cover: dok. pribadi Rahmat Hidayat)

Nurul Nur Azizah

Redaktur Pelaksana Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!