Novel 'Bau Tubuh Perempuan' karya Ester Pandiangan (foto: dok. Mas Beni)

Ester Pandiangan: Ini Proses Saya Menulis Buku ‘Bau Tubuh Perempuan’

Setelah saya banyak menulis esai, akhirnya saya berhasil menelurkan karya fiksi. Mei 2026 lalu, kumpulan cerpen berjudul “Bau Tubuh Perempuan” akhirnya diterbitkan.

Dalam tulisan ini, saya mau cerita tentang buku terbaru saya yang berjudul “Bau Tubuh Perempuan” yang diterbitkan Mei 2026 lalu oleh penerbit akhirpekan. 

Jauh sebelum bergulat dengan tulisan nonfiksi, saya memang senang menulis fiksi.  “Bau Tubuh Perempuan” adalah tulisan-tulisan lama yang dirombak ulang dengan mempertajam isu yang diangkat, memperjelas setting ruang dan waktu, mengganti POV, untuk membuat cerita-cerita di dalamnya lebih hidup dan “bersuara”.

Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan esai-esai saya sebelumnya, benang yang mengikat kedelapan belas cerpen yang termuat di “Bau Tubuh Perempuan” adalah pengalaman perempuan di lingkungan di mana mereka beraktivitas; lingkungan sosial, rumah, tempat wisata, relasi romantik, ruang agama. Bagaimana tubuh perempuan di objektifikasi, dinilai, dipatutkan, agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan budaya.  

Di beberapa cerpen, saya mengambil setting keluarga Batak. Bagaimana peran anak perempuan dan anak laki-laki di dalam keluarga Batak, relasi antara suami dan istri, kemudian bagaimana situasi ekonomi sangat bisa mempengaruhi relasi antara anggota keluarga–terutama suami dan istri.

Saya juga menyoroti mengenai peran caregiver yang lebih sering dilekatkan kepada anak perempuan. Terutama bila anak perempuan belum menikah, seperti semacam ada keharusan untuk merawat orang tua yang sakit-sakitan. Seperti apa sebenarnya perasaan anak perempuan yang kepadanya dilekatkan tanggung jawab perawatan? Apakah dia memang dengan kerelaan melepas mimpinya dan menjadikan perawatan keluarga sebagai mimpi yang seterusnya diemban? Sampai kematian atau takdir menentukan kalau waktunya sudah selesai? Apakah manusiawi jika dia punya “pikiran jahat” supaya terlepas dari tanggung jawab yang mengikatnya?

Selama ini bisa jadi kita menganggap peran-peran yang direkatkan masyarakat kepada perempuan adalah kewajaran dan merupakan tanggung jawab moral buat perempuan untuk menjalani kehidupan yang sudah dikodratkan kepadanya. Tekanan pemaknaan membuat perempuan menjadi diri yang bukan dirinya. Pemaksaan personality ini membuat perempuan mengingkari kediriannya. Pengingkaran yang membuat perempuan tidak hanya menyakiti dirinya tetapi juga orang di sekitarnya. 

Suatu karya akan menjadi lebih bergema bila dibawa ke ruang diskusi. Tulisan-tulisan saya tidak hanya lahir dari pengalaman personal, melainkan pengalaman perempuan lain yang sebagian didapatkan dari membuka ruang-ruang diskusi. Sama seperti buku-buku sebelumnya, saya ingin membawa “Bau Tubuh Perempuan” ke ruang diskusi, untuk mendengarkan pengalaman berbeda dari mereka yang punya irisan isu sama dengan yang saya tuliskan.

Surprisingly, cerpen-cerpen yang lekat dengan cerita keluarga memiliki banyak kesamaan dengan yang dialami oleh para peserta diskusi. Hati saya terasa penuh ketika mendengarkan pengalaman teman-teman dari kacamata mereka sendiri. Salah satu yang paling di-highlight adalah kerja perawatan. Salah satu cerpen di “Bau Tubuh Perempuan” yang berjudul “Kebaikan Tertinggi di Dunia” menyoroti kisah seorang perempuan yang merawat ibunya yang sakit stroke. Saya menuliskan pergulatan si tokoh antara merawat orang tua, karier, dan relasinya.

Saya tersentuh ketika beberapa peserta membagikan pengalamannya sendiri ketika membaca cerpen ini. Salah satunya bercerita pengalamannya ketika merawat orang tuanya. Dia sebagai anak pertama merasa harus membagi peran antara menjadi penjaga orang tua dan mengurus keluarganya sendiri. Terkadang di tengah kelelahan mengemban tanggung jawab yang berbeda dari dua keluarga, terkadang terbersit pikiran kalau “kematian” akan mempermudah segalanya. 

Cerpen saya yang lain “Amsal 30:17” menyentil kesenjangan antara anak perempuan dan laki-laki. Ketika keluarga patriarki menempatkan anak laki-laki di posisi paling tinggi, sehingga stok dalih selalu tersedia untuknya. Seorang pembaca lainnya, menceritakan bagaimana baru-baru ini dia menyadari kalau orang tuanya memang terkesan lebih menyayanginya ketimbang saudara-saudara perempuannya. Ceritanya kenapa dia bisa sampai tahu begitu, bermula dari kematian orang tuanya. Tak berapa lama setelah ayahnya “berpulang”, adik perempuannya cerita kalau ketika kecil mereka selalu dibedakan. Kakak laki-lakinya selalu diutamakan, salah satunya dalam hal makanan. Makanan yang terbaik selalu lebih dulu diberikan ke kakak laki-lakinya. Kalau kakak laki-laki belum makan, saudara-saudara yang lain tidak diperbolehkan menyentuh makanan tersebut. Walaupun tidak diungkapkannya secara langsung, saya bisa menangkap dilema yang dihadapinya setelah tahu kenyataan sebenarnya mengenai situasi keluarganya. 

Setiap keluarga punya sejarah kelamnya sendiri yang justru terungkap setelah ada peristiwa besar–salah satunya kematian–yang membuat situasi menjadi tidak sama lagi. Saya menangkap cerita-cerita kelam yang terjadi di dekat kita dan mengubahnya menjadi fiksi. Jika terasa begitu menyedihkan, mungkin kita bisa bergumam, “Oh ini hanya fiksi..” atau bila terasa sangat nyata, bisa terbangun kesadaran, “Ini memang terjadi, apa yang harus kulakukan?”

Sampai tulisan ini dibuat buku “Bau Tubuh Perempuan” sudah diperbincangkan di beberapa kota, di antaranya Jakarta (Patjar Merah, Kios Ojo Keos), Bandung (TB Pellagia), Cirebon (Umah Ramah), Yogyakarta (Bawabuku, Berdikari), dan Solo (Lokananta Bloc). Setiap kota punya ceritanya sendiri, setiap cerita punya “baunya” sendiri, pengalaman identitas yang dibawa masing-masing personal. 

Saya berharap “Bau Tubuh Perempuan” dapat membersamai perjalanan perempuan, siapa pun, untuk menjenguk kembali identitasnya. Apakah dia sudah menjalani kehidupan yang dia inginkan, atau selama ini dia hanyalah sosok yang dipaksakan sosial? 

Begitu juga merangkul masa lalu sebagai bagian dari menerima kehidupan itu sendiri. Tidak membiarkan yang lalu menjadi trauma yang dibawa di kehidupan sekarang adalah salah satu cara untuk terlepas dari trauma antargenerasi. Belajar memahami mengapa pola didik boomer begitu otoriter, digitalisasi yang mengubah cara kita memandang keintiman dan ruang privat. Mungkin dengan lebih berempati terhadap suatu peristiwa kita lebih bisa berdamai dengan luka-luka.

Ester Pandiangan

Penulis lepas sana sini. Lima buku sebelumnya yang sudah diterbitkan; “Akibat Menabukan Seks” (2020), “Sebab Kita Semua Gila Seks” (2021), “Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin” (2022), “Seks Kita Memang Perlu Dibantu” (2024), dan “Waktu Aku Dilayoff” (2024). Alumni FISIP USU jurusan Jurnalistik. Bisa dikontak di @esterpandiangan atau pandiangan.ester@gmail.com.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!