Cuplikan trailer film 'Elemental: Forces of Nature' (sumber foto: YouTube Pixar / tangkapan layar Salsabila Putri)

‘Elemental: Forces of Nature’, Hidup Merantau dan Galaunya Cinta Beda Elemen

Hidup jauh dari tanah kelahiran, berusaha bertahan sebagai imigran minoritas demi keberlangsungan keluarga, hingga jatuh cinta pada sosok yang perbedaannya bagaikan air dan api. Film ‘Elemental: Forces of Nature’ menceritakan isu-isu sosial yang ternyata dekat dengan kita.

Rumah produksi Pixar kembali membawa film dengan kisah sarat nilai-nilai sosial. Film animasi ‘Elemental: Forces of Nature’ garapan sutradara Peter Sohn mulai tayang di berbagai layar bioskop di Indonesia pada 21 Juni 2023 lalu.

Elemental: Forces of Nature’ menceritakan tentang kehidupan remaja perempuan, Ember Lumen (Leah Lewis sebagai pengisi suara). Ember berasal dari keluarga imigran elemen Fire (Api) yang tinggal dan membangun usaha di Element City.

Meski kerap mengalami kesulitan lantaran kota tersebut didominasi oleh elemen-elemen selain Fire, Ember sejak muda kerap bersemangat membantu orangtuanya, Bernie dan Cinder. Selain karena menyayangi sang ayah dan ibu, Ember juga berambisi hendak meneruskan toko yang dibangun ayahnya dari nol di kota itu.

Namun, sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang lelaki dari elemen Water (Air), Wade Ripple (Mamoudou Athie). Tentu secara ilmiah, kedua elemen mereka tidak bisa bersatu. Tapi rupanya sains pun tidak dapat menolak munculnya percikan perasaan yang lain di antara Ember dan Wade. Meski demikian, jelas, mereka harus berjuang untuk menjembatani hubungan dengan berbagai perbedaan itu.

Premis film ‘Elemental: Forces of Nature’ secara garis besar bercerita tentang romansa dua sejoli beda elemen itu. Tapi sembari film berlangsung, penonton juga diajak menyelami sejumlah masalah sosial yang ternyata dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari suka-duka kehidupan keluarga Lumen sebagai perantau, stigma terhadap perantau, anak perempuan yang memendam mimpi demi keluarganya, hingga kisah cinta terhalang perbedaan interseksional.

Hal-hal tersebut dikemas dengan animasi warna-warni dan seru, kadang bikin tertawa. Di sisi lain, kisah Ember dan sosok-sosok di sekitarnya menohok hati dengan kesadaran bahwa isu-isu tersebut ada di sekitar kita. Atau jangan-jangan, kita juga mengalaminya?

Hidup Imigran di Tengah Perbedaan

Ember Lumen lahir dan besar di Element City, tapi kedua orangtuanya—Bernie dan Cinder Lumen—sebetulnya berasal dari Fireland. Tempat itu adalah tanah asli elemen Fire. Bernie dan Cinder meninggalkan tempat tinggal mereka meski keluarga tak memberi restu. Mereka lalu jatuh-bangun membangun kehidupan baru di tempat baru yang modern, tapi sama sekali asing.

Sementara itu, Wade berbeda dari Ember. Ia berasal dari elemen Water, yang sudah sejak lama bermukim di Element City. Keluarganya mapan dan bahagia, juga suportif. Meski ayahnya sudah tiada, Wade punya ibu dan keluarga yang mudah tersentuh dan sangat menyayanginya.

Makanya, ia sempat dibuat bingung dengan masalah-masalah Ember dengan keluarga dan emosinya. Butuh waktu bagi Wade untuk memahami bahwa permasalahan Ember saling berkelindan. Ember juga tidak sebebas Wade dalam menjalani hidup.

Ditarik balik, Bernie dan Cinder Lumen sebelumnya datang ke Element City saat Ember masih dalam kandungan. Awalnya mereka kesulitan berkomunikasi sebab tidak paham bahasa sehari-hari masyarakat kota tersebut.

Bagi mereka, elemen-elemen lain harus diwaspadai, terutama Water. Sedangkan bagi masyarakat Element City, elemen Fire amat asing dan sangat mungkin berbahaya. Hal tersebut bertahan sampai Bernie memutuskan untuk membuka toko kelontong untuk menyambung hidup, dan komunitas elemen Fire mulai berkembang di Element City.

Baca Juga: Film ‘Pesantren’ Perjuangkan Santri Perempuan Harus Berdaya Seperti Santri Laki-laki

Kesulitan tersebut membuat hubungan keluarga Lumen dengan sesama elemen Fire lainnya amat dekat. Mereka juga melatih diri agar tidak terlalu dekat dengan elemen lain, khususnya Water yang bisa memadamkan mereka.

Ember sendiri tumbuh sebagai anak perempuan Fire yang tangguh, tegas, dan tampak kuat kendati sering meledak-ledak emosinya. Sejak kecil, ia dididik untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai pedagang dan bercita-cita untuk meneruskan bisnis keluarganya.

Ketika Bernie menua, Ember merasa tanggung jawabnya juga semakin besar sebagai anak yang berbakti. Namun, pertemuan Ember dengan Wade menjadi titik balik premis tersebut.

Mengenai kisah perantauan yang menjadi benang merah film ‘Elemental: Forces of Nature‘, sutradara Peter Sohn mengungkapkan bahwa hal itu terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Sohn dan keluarga berasal dari Korea, lalu mereka menjadi imigran di Amerika Serikat. Makanya, poin-poin mengenai kisah keluarga Lumen di perantauan terasa begitu personal dan relevan bagi banyak orang.

Cinta Lintas Elemen

Tentu saja membahas film ‘Elemental: Forces of Nature‘ tidak bisa melewatkan tema percintaan antara Ember, si perempuan berapi-api, dan Wade, laki-laki yang lebih suka mengikuti arus. Meski sebetulnya, akhir kisah mereka mudah ditebak, namun menyaksikan kecanggungan di awal kedekatan Ember dan Wade tetap sukses membuat hati hangat dan agak tergelitik.

Selain itu, ada beberapa momen mereka berdua yang cukup bikin tertegun, khususnya bagi penonton yang pernah terlibat dalam cinta dengan perbedaan latar belakang, kelas sosial, hingga terhambat restu orang tua.

Mulanya, kita dapat menduga bahwa hubungan Ember dan Wade tidak akan berjalan mulus karena mereka berasal dari dua elemen yang saling bertolak belakang. Namun ternyata, persoalannya jadi lebih pelik daripada itu.

Pertama, Ember punya emosi yang sering meledak-ledak, sedangkan Wade malah gampang berurai air mata. Ember juga seringkali enggan jujur soal perasaannya, sementara Wade lebih terbuka. Yang barangkali paling runyam dan baru mereka sadari belakangan adalah ragam kesenjangan sosial, jurang yang ternyata ada di antara mereka berdua.

Tidak hanya itu, masalah kepercayaan yang sejak lama diadopsi keluarga Lumen dari elemen Fire juga turut menghambat hubungan Ember dan Wade. Bernie, terutama, menganggap elemen Water sebagai musuh. Padahal, keluarga Wade dari elemen Water justru menerima kehadiran Ember dengan baik.

Perbedaan nilai, latar belakang, dan kondisi keluarga Ember dan Wade membuat kisah percintaan mereka berdua berliku. Tapi benarkah api dan air tidak bisa bersatu sama sekali? Ini yang sebaiknya kamu cari tahu dengan menonton ‘Elemental: Forces of Nature‘ di bioskop.

Tak Semua Punya ‘Kemewahan’ Memilih Masa Depan

Di separuh pertama film ‘Elemental: Forces of Nature’, tampak bahwa Ember sangat dekat dan menyayangi kedua orangtuanya, terutama Bernie, sang ayah. Ember tahu berbagai kesulitan yang dialami ayahnya sebagai imigran, sehingga ia rela melakukan apa saja demi menyenangkan hati Bernie. Ia juga bekerja keras agar dapat mewarisi toko yang dibangun Bernie dan Cinder serta membantu ayahnya agar bisa pensiun dengan tenang.

Akan tetapi, usai bertemu Wade dan keluarga besarnya, Ember mulai berpikir bahwa hal yang selama ini didambakannya—meneruskan usaha keluarga—adalah impian sang ayah. Segala hal yang ia lakukan berorientasi pada ayahnya, ibunya—keluarganya yang berharga. Dirinya mulai gamang.

Di sisi lain, ia juga menyadari satu hal: sebaik apapun maksud Wade dan ibunya ketika mendorong Ember untuk mengasah bakatnya, lelaki itu tidak paham posisi Ember dan pergulatan batinnya. Ia tidak seperti Wade, warga asli Element City yang hidup berkecukupan dan punya keluarga suportif. Ember Lumen tetaplah anak imigran yang keluarganya harus banting tulang untuk bertahan di kota asing tersebut.

Ia tidak bisa bebas bermimpi, sebab demi kehidupan dirinya yang layak saja, kedua orangtuanya telah begitu banyak berkorban. Maka Ember merasa tidak punya pilihan; ia hanya ingin jadi anak yang baik dan membalas jasa orangtuanya.

Baca Juga: ‘Spider-Man: Across the Spider-Verse’, Rumitnya Hubungan Remaja dan Orang Tua

Terlepas dari alur kisah Ember berikutnya, dilema saat harus memilih antara meneruskan mimpi keluarga atau mengejar mimpi sendiri mungkin terasa familier bagi beberapa orang. Seperti yang Ember pikirkan: tidak semua orang punya ‘kemewahan’ untuk memilih masa depan.

Elemental: Forces of Nature’ seakan menunjukkan bahwa rupanya tidak semua orang ‘bebas bermimpi’ dan menentukan masa depan. Nyatanya, hal itu tetaplah privilese bagi sebagian orang. Misalnya, mendambakan masa depan untuk diri sendiri jadi berat ketika kamu adalah seorang perempuan, anak satu-satunya, keluargamu pendatang dan minoritas, lalu kondisi finansialmu tidak cukup baik untukmu bebas membuat pilihan sesuka hati. Setidaknya hal itulah yang mengganjal bagi Ember—dan, bisa jadi, di antara kita juga.

Menyimak keberhasilan Ember dalam memutuskan yang terbaik untuk dirinya sendiri juga belum tentu membuat penonton lantas merasa demikian. “Namanya juga film,” barangkali beberapa penonton bakal berpikir begitu.

“Tentu harus happy ending.” Memang tidak bisa dipungkiri, hidup seringkali tidak adil; kesenjangan sosial dan berbagai persoalan interseksional lainnya sering menghambat seseorang untuk bermimpi.

Perjuanganmu mungkin harus lebih berat dari orang lain, tapi jika kamu punya keinginan kuat dan celah ‘keistimewaan’ untuk bermimpi, maka kejarlah! Mari sama-sama berharap, jalan yang ditempuh saat ini akan membawa kita pada hal-hal baik yang pantas didapatkan.

Sumber foto: tangkapan layar dari YouTube Pixar

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!