Dilema Independen Woman: Ketika Kemandirian Jadi Alasan Bagi Laki-laki untuk Lepas Tangan

Sebenernya salah nggak perempuan jadi independen woman? Atau justru yang salah adalah cara masyarakat menganggap ketergantungan sebagai sesuatu yang memalukan.

Menjadi independen woman adalah sebuah perjuangan panjang untuk memiliki kedaulatan atas diri sendiri. 

Namun sayangnya, dalam ruang privat, kemandirian ini justru sering dijadikan alasan pembenar bagi ketimpangan relasi.

Bagi sebagian orang, predikat “perempuan independen” seringkali disalah artikan sebagai sosok yang harus selalu kuat, dan tidak pernah butuh bantuan. Padahal, kemandirian yang sehat bukan berarti anti terhadap perhatian atau perawatan dari pasangan.

Ada kekeliruan mendasar dalam cara masyarakat dalam mengkonstruksikan apa itu independensi. Karena sejatinya, ketergantungan bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan kondisi dasar yang melekat pada setiap manusia.

Perempuan yang bisa kemana-mana sendiri, punya uang sendiri, dan menolak bergantung penuh pada laki-laki bukan berarti kebal terhadap sakit dan tidak butuh dipeluk. Independensi yang sehat justru harusnya bisa kapan saja bisa saling meminta bantuan, dan kegagalan pasangan merespons kebutuhan itu, seperti dalam cerita di atas, adalah tanda bahwa relasi itu sejak awal dibangun secara timpang atau tidak ada kesalingan.

Carol Gilligan dalam In a Different Voice menjelaskan bahwa sejak kecil, laki-laki dididik untuk memisahkan diri dari perasaan dan empati demi mengejar objektivitas dan kekuatan. Sebaliknya, perempuan dididik untuk mengutamakan hubungan dan kepedulian (care). Akibatnya, kerja perawatan dianggap sebagai “sifat alami perempuan” dan bukan sebagai keterampilan hidup yang juga harus dipelajari laki-laki.

Gilligan mengkritik teori Lawrence Kohlberg tentang tahapan perkembangan moral yang dianggap bias laki-laki karena menempatkan penalaran berbasis prinsip keadilan, netralitas, dan hak sebagai “tahap tertinggi.” Gilligan menolak hierarki itu dan mengatakan bahwa ethics of care bukan tahap yang lebih rendah, melainkan suara yang berbeda (a different voice). Data dan penelitian mendukung kepahitan ini. 

Baca juga: Yang Bisa Dipelajari dari Celine Evangelista: Menjadi Janda Dan Mandiri

Sebuah studi menunjukkan angka-angka dalam statistik seperti, risiko perceraian meningkat secara signifikan ketika istri didiagnosis menderita penyakit serius (seperti kanker atau penyakit jantung), namun hal yang sama tidak terjadi jika suami yang sakit. Laki-laki secara statistik lebih cenderung meninggalkan pasangannya yang sakit parah karena mereka tidak terlatih dan sering kali tidak mau mengambil peran sebagai perawat. 

Lalu tingkat perceraian/perpisahan adalah 20,8% ketika istri sakit, dibandingkan hanya 2,9% ketika suami sakit. Ini menunjukkan bahwa laki-laki hampir 7 kali lebih mungkin meninggalkan pasangannya yang sedang berjuang melawan penyakit serius daripada sebaliknya. 

Tentu saja, tidak semua laki-laki meninggalkan istri yang sakit. Banyak yang bertahan dan belajar merawat. Namun data menunjukkan bahwa secara statistik, laki-laki lebih sering kesulitan atau enggan mengambil peran caregiver utama.

Fenomena ini juga terlihat dalam perawatan orang tua. Secara global, beban merawat orang tua yang lanjut usia mayoritas jatuh ke pundak anak perempuan atau menantu perempuan. Laki-laki sering kali merasa tugas mereka selesai hanya dengan memberikan uang (jika ada), sementara urusan memandikan, menyuapi, dan menemani ke dokter dianggap bukan domain mereka.

Jika seorang istri sakit, banyak laki-laki yang merasa kehilangan fungsi rumah tangga dan alih-alih merawat, mereka justru mencari pelarian atau bahkan menikah lagi karena merasa “haknya untuk dilayani” telah terenggut oleh penyakit sang istri.

Ketergantungan Kepada Laki-Laki: Apa Penyebabnya?

Sebenarnya, perempuan tergantung pada laki-laki karena mereka manja, atau karena sistem yang terpaksa membuat mereka tergantung pada laki-laki? 

Ketergantungan perempuan pada laki-laki tidak hanya muncul dari pilihan individual, banyak ketergantungan dibentuk oleh kondisi sosial yang memihak satu pihak. Ruang publik yang tidak sepenuhnya aman, akses perempuan yang dibatasi (bukan cuma akses uang, tapi akses kesempatan, akses mobilitas, akses perlindungan). Silvia Federici dalam Caliban and the Witch berargumen bahwa transisi ke kapitalisme mensyaratkan domestifikasi perempuan. Ruang publik seperti jalanan, kantor, institusi politik sering kali didesain tidak aman bagi perempuan. 

Perempuan yang pulang kerja larut malam harus menghitung rute, moda transportasi, penerangan di jalan agar ia bisa sampai di rumah dengan selamat dan lolos dari target kejahatan. 

Di Indonesia, kondisi ini diperparah dengan narasi bahwa perempuan perannya hanya sebatas pendukung laki-laki. Julia Suryakusuma dalam Ibuisme Negara membongkar bagaimana negara secara historis mengunci perempuan dalam peran domestik melalui kebijakan dan narasi nasional. Akses perempuan terhadap ruang publik, terhadap posisi pengambilan keputusan, terhadap kebebasan bergerak tanpa rasa takut, masih dibatasi oleh struktur yang sangat tua. Ketergantungan ini diciptakan secara sistemik. Akses ekonomi yang dibatasi selama berabad-abad membuat perempuan merasa bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menempel pada laki-laki.

“Independen Woman” Bukan Gaya-Gayaan, Tapi Perjuangan

Bagi perempuan, menjadi independen adalah perjuangan yang melelahkan. Virginia Woolf dalam A Room of One’s Own menekankan bahwa perempuan butuh kemandirian ekonomi dan ruang sendiri untuk bisa memiliki kedaulatan atas dirinya. 

Menjadi independen berarti perempuan harus bekerja dua kali lebih keras: ia harus membuktikan diri di tempat kerja (ruang publik yang masih bias gender) dan tetap diharapkan menjadi pengasuh di rumah.

Bagi laki-laki yang terbiasa dilayani, perempuan independen sering dianggap intimidatif atau terlalu arogan. Mereka tidak paham bahwa menjadi independen bagi perempuan itu sulit. Banyak laki-laki, yang dibesarkan tanpa pernah harus mempertanyakan akses mereka terhadap ruang publik, waktu, atau ekonomi, tidak memiliki kerangka untuk memahami bahwa independensi perempuan adalah hasil perjuangan, bukan sifat bawaan yang membuatnya tidak butuh siapa-siapa.

Kesalahpahaman ini berbahaya karena ia sering dijadikan alasan pembenar untuk lepas tangan. Ketika perempuan terlihat kompeten menyelesaikan segala hal sendirian, laki-laki dalam relasi tersebut cenderung berasumsi ia tidak perlu terlibat, padahal kompetensi itu justru sering lahir dari keterpaksaan, bukan dari ketiadaan kebutuhan akan dukungan.

Maka wajar saja ketika perempuan bangga menjadi “independent woman” karena memang yang dihadapi adalah dunia yang penuh marabahaya. Kebanggaan itu lahir dari kesadaran bahwa kemandirian bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan melawan sistem yang sejak awal merancang ketergantungan.

Baca juga: Perempuan Bekerja, Upaya Memutus Ketergantungan dan Menumbuhkan Kemandirian

Kemandirian itu justru dijadikan alasan bagi pasangan untuk berhenti memberikan perhatian. Sering kali muncul argumen, “Kan kamu perempuan mandiri, masa begitu saja tidak bisa?” Narasi ini sering kali menjadi bentuk gaslighting yang halus. Kemandirian perempuan malah diputarbalikkan menjadi sebuah kewajiban untuk selalu kuat, sehingga laki-laki merasa sah-sah saja untuk tidak hadir. Banyak laki-laki yang merasa nyaman memiliki pasangan mandiri karena hal itu membebaskan mereka dari banyak tanggung jawab, alias mau enaknya saja.

Ketika perempuan tersebut akhirnya mencapai titik lelah seperti yang dialami tokoh dalam cerita di atas, sang laki-laki justru merasa terganggu. Baginya, kemandirian sang perempuan adalah sebuah pola yang tidak boleh berhenti. Alih-alih menyadari bahwa pasangannya sedang butuh sandaran, ia justru merasa bahwa pasangannya sedang melanggar janji untuk terus menjadi sosok yang kuat.

Kemandirian seharusnya menjadi modal bagi kedua belah pihak untuk membangun hubungan yang lebih sehat, bukan alasan bagi salah satu pihak untuk bersikap pasif. Laki-laki yang mengandalkan kemandirian perempuan untuk lepas tanggung jawab sebenarnya sedang menunjukkan ketidakdewasaan. Ketika laki-laki juga belajar merawat baik pasangan yang sakit, orangtua yang menua, maupun dirinya sendiri baru lah ketimpangan dalam hubungan bisa dibongkar dari akarnya. 

(Editor: Luviana Ariyanti)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!