Saya bertanya kepada dua orang teman laki-laki, kapan mereka merasa kesepian?.
Jawaban mereka seragam: sering, tapi momen yang paling terasa adalah ketika teman-teman dari sekolah atau kuliah mulai menjalani hidup masing-masing.
Mereka merasa tidak lagi punya teman nongkrong yang “klik”, yang bisa diajak bicara ringan dan seru tanpa embel-embel obrolan materi seperti yang sering terjadi setelah masuk dunia kerja.
Lalu saya tanya, kenapa tidak berbagi cerita dengan pacar? Jawab mereka: itu beda. Menurut mereka, berbicara dengan pacar tidak sama dengan bicara dengan sahabat, dan bahkan percakapan dengan orang tua pun memberi rasa yang berbeda bagi mereka.
Pembahasan tentang male loneliness epidemic atau meningkatnya kesepian yang dialami laki-laki, tidak pernah sepenuhnya jernih.
Ada yang menganggapnya sebagai kenyataan, ada yang menolaknya sebagai mitos yang dilebih-lebihkan para laki-laki, dan tak sedikit yang curiga ini hanya narasibuatan perempuan atau disebabkan oleh perempuan.
Di media sosial, isu laki-laki kesepian ini meledak salah satunya lewat pernyataan Scott Galloway, seorang podcaster, yang menyebut bahwa laki-laki muda menghadapi lebih banyak kegagalan dalam hidup. Dari pendidikan, relasi, hingga ekonomi, yang kemudian berujung pada kesepian.
Galloway juga membandingkan bahwa perempuan di Amerika Serikat usia 30-an kini lebih berpendidikan, berpenghasilan lebih tinggi, dan secara umum lebih stabil dibanding laki-laki seumurannya. Dan meski laki-laki masih unggul dalam kekuatan fisik, katanya, tapi tidak secara mental.
Pernyataan ini memicu perdebatan di ruang digital, hingga banyak laki-laki menyalahkan perempuan sebagai penyebab kesepian mereka. Mereka berargumen, perempuan kini terlalu mandiri, terlalu selektif, terlalu tinggi standarnya. Tidak lagi seperti perempuan zaman dulu yang dikenal setia dan menomorsatukan suami serta anak. Dari sinilah muncul suara-suara yang menyalahkan feminisme, seolah-olah akar dari kesepian laki-laki terletak pada fakta bahwa perempuan masa kini enggan “turun standar” untuk mencintai mereka.
Baca juga: ‘Love in The Big City’: Persahabatan Dua Orang Kesepian di Kota Besar
Data menunjukkan sejak 1990 jumlah laki-laki yang mengaku tidak punya sahabat dekat meningkat 15% pada 2021. Dan pada tahun 2023, laki-laki dari generasi milenial dan gen z merasa bahwa tidak ada seorangpun yang benar-benar memahami mereka.
Dalam konteks hubungan romantis, survei Pew Research 2022 menunjukkan 6 dari 10 laki-laki di bawah 30 tahun memilih sendiri—dua kali lipat dibanding perempuan seumurnya. Sementara itu, studi Equimundo menyampaikan bahwa satu dari lima laki-laki tidak mencari atau tidak bisa menjalin hubungan intim.
Kondisi ini menurut riset tersebut berdampak nyata: hampir 40% laki-laki menunjukkan gejala depresi, 44% mengaku sempat punya ide bunuh diri dalam dua pekan terakhir. Praktisnya, laki-laki empat kali lebih mungkin bunuh diri dibanding perempuan.
Meskipun isu ini semakin banyak dibicarakan, ada skeptisisme tentang fokus khusus pada laki-laki. Beberapa kritikus menyebut bahwa faktor seperti usia, ras, kondisi finansial, dan disabilitas justru lebih berpengaruh terhadap tingkat kesepian mereka dibanding gender.
Laki-laki mengalaminya secara mendalam, dan banyak dari mereka tidak punya ruang aman untuk bicara tentang itu. Namun menyalahkan perempuan atas kesepian laki-laki jelas merupakan lompatan logika yang tidak nyambung. Jika benar, seperti kata Scott Galloway, bahwa perempuan hari ini lebih stabil secara ekonomi daripada laki-laki, maka penting juga melihat ke belakang ketika perempuan dulu dibatasi dari pendidikan, tidak boleh bekerja, dan dibuat tergantung penuh pada laki-laki, kesepian perempuan tidak pernah dianggap sebagai masalah sosial, apalagi lalu ditimpakan sebagai kesalahan laki-laki.
Bahkan sampai sekarang, stigma masih melekat pada perempuan yang melajang lama, direndahkan dengan julukan “perawan tua”, ditakut-takuti akan menua sendirian bersama kucingnya. Karena memang melajang atau hidup sendiri bersama kucing seperti yang dijalani penyanyi Enya bukanlah hal yang ampuh untuk dijadikan ketakutan bagi perempuan.
Baca juga: Malam Minggu Kesepian, Mesti Hubungi Siapa?: Pengalaman Perempuan
Hal ini mencerminkan betapa laki-laki selama ini terbiasa menerima emotional labor atau kerja emosional dari perempuan, mulai dari pacar, istri, ibu, hingga teman perempuan yang selalu hadir sebagai tempat curhat, penyemangat, bahkan perawat ego dalam relasi sosial.
Ketika perempuan mulai menetapkan batas, atau tak lagi menyediakan dukungan emosional secara otomatis, banyak laki-laki merasa kehilangan sesuatu yang sebetulnya selama ini mereka anggap sebagai hak, bukan sebagai hasil kerja relasional yang harus dibangun bersama.
Narasi yang menyalahkan perempuan atas kesepian laki-laki bukan hanya keliru secara logika, tapi juga berbahaya secara sosial. Ia membuka jalan bagi lahirnya kemarahan yang salah arah pada perempuan yang memilih untuk hidup lebih bebas. Dalam jangka panjang, narasi ini bisa memperkuat misogini.
Perempuan kembali dipaksa merasa bersalah karena tidak cukup peduli, atau tidak cukup memahami laki-laki. Lebih buruk lagi, narasi ini telah digunakan dalam ruang-ruang digital ekstrem seperti forum incel (involuntary celibate), yang menjadikan perempuan sebagai kambing hitam atas ketidakbahagiaan laki-laki, bahkan hingga membenarkan kekerasan.
Dalam Men Who Hate Women, Laura Bates menjelaskan bahwa dalam komunitas incel, kesepian laki-laki diubah menjadi ideologi kebencian terhadap perempuan. Di sana, kesepian bukan lagi pengalaman manusiawi, melainkan senjata untuk menyalahkan perempuan atas segala kegagalan emosional dan seksual laki-laki. Narasi yang tampaknya halus bahwa perempuan sekarang terlalu mandiri, tanpa disadari bisa menjadi pintu masuk ke pemikiran misoginis yang lebih ekstrem.
Sejalan dengan Laura Bates, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences (2021)menemukan bahwa orang yang secara aktif menolak atau menarik diri dari orang lain sebagai cara yang disengaja untuk mengatur emosi cenderung merasa kesepian. Mereka juga cenderung membayangkan hal-hal buruk yang belum terjadi, berfokus pada sisi terburuk dari situasi, dan berkutat pada konten negatif. Terakhir, mereka terlibat dalam atribusi kesalahan, di mana mereka mencoba menemukan hubungan sebab akibat untuk menyalahkan diri mereka sendiri atau orang lain atas kejadian negatif.
Baca juga: Single dan Happy: Kami Bukan Perempuan Kesepian
Menurut Fay Bound Alberti, profesor sejarah gender, emosi, dan pengobatan, dalam buku A Biography of Loneliness kesepian tidak sekadar perasaan sedih karena berada sendirian, tetapi merupakan suatu kluster emosi yang kompleks, campuran dari perasaan kehilangan, kerinduan, kemarahan, rasa malu, keterasingan, hingga kekosongan batin.
Komposisi kesepian bervariasi menurut persepsi dan pengalaman individu, keadaan, dan lingkungan. Kesepian dapat berubah seiring waktu tergantung pada berbagai faktor budaya, harapan, dan keinginan.
Kesepian adalah salah satu pengalaman manusia yang paling dalam, namun sekaligus paling sulit dikomunikasikan. Begitu kita mencoba membicarakannya, ia berubah dari rasa menjadi objek renungan dan subjek nalar. Bahasa kerap gagal menjangkau sepenuhnya karena meskipun kesepian terdengar seperti istilah universal, kenyataannya ia bersifat sangat personal. Setiap orang pernah merasakannya, tetapi cara mereka mengalaminya begitu berbeda, begitu khas, hingga tak ada satu definisi pun yang mampu mencakup seluruh spektrumnya.
Secara umum Alberti mencatat pergeseran sosial secara besar-besaran yang membuat manusia kesepian bermula dari transisi, dari masyarakat agraris tradisional (di mana beberapa generasi tinggal bersama dalam satu rumah tangga) lalu berpindah ke kerja perkotaan, di mana rumah tangga baru yang lebih mandiri dan individual diciptakan.
Kesepian modern, pada awal abad ke-20, mulai dipahami sebagai masalah mental yang berkaitan dengan cara kerja pikiran. Berbagai filsafat tentang keterasingan sosial yang menekankan rendahnya nilai-nilai bersama dan tingginya tingkat keterpisahan antarindividu, menguatkan gagasan bahwa kesepian adalah bagian disfungsional dan negatif dari jiwa manusia.
Kesepian dipandang sebagai akibat dari modernisasi, yang menyebabkan keterputusan mendalam antara individu dan orang lain di sekitarnya. Tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Émile Durkheim, dan lainnya telah meramalkan lima ciri utama dari keterasingan ini: ketidakberdayaan, kehilangan makna, ketiadaan norma, isolasi, dan keterasingan dari diri sendiri.
Kesepian adalah pengalaman yang kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan gender semata.
Baca juga: Kesepian Di Tengah Pandemi, Komunitas Disabilitas dan LGBT Rentan Bunuh Diri
Pengalaman akan kesepian dipengaruhi oleh banyak variabel sosial lain seperti tubuh, kelas, ras, dan stigma yang melekat padanya.
Alberti mencatat bahwa perempuan yang mengalami obesitas melaporkan tingkat kesepian yang jauh lebih tinggi dibanding perempuan yang tidak obesitas. Sesuatu yang dapat dimengerti mengingat kuatnya stigma sosial terhadap tubuh perempuan di masyarakat. Namun, laki-laki obesitas dalam studi yang sama tidak mengalami kesepian di antara laki-laki yang tidak obesitas. Hal ini mengindikasikan bahwa standar penampilan yang timpang secara gender turut memengaruhi pengalaman akan kesepian.
Selama ini alienasi relasi perempuan dan laki-laki ini dibentuk oleh budaya gender sejak dini. Laki-laki diajarkan untuk melihat perempuan sebagai “yang lain”, sebagai objek ketertarikan romantis atau seksual, sebagai sosok yang mengurus, bukan sejajar untuk bertukar pikiran.
Simone de Beauvoir, dalam The Second Sex, menyebut bahwa laki-laki selalu dipandang sebagai subjek utama, sementara perempuan dijadikan “other” pasif dan pelengkap hidup laki-laki. Banyak laki-laki tidak belajar melihat perempuan sebagai partner intelektual atau teman berpikir. Sementara bell hooks menyatakan bahwa kita tidak pernah mengajarkan laki-laki bagaimana cara mencintai dengan kerentanan dan jujur. Inilah salah satu akar dari alienasi, laki-laki tidak diajarkan untuk melihat perempuan sebagai manusia utuh bukan hanya sebagai pasangan atau objek.
Kesepian bukan hanya milik laki-laki, dan tentu bukan beban yang pantas dialihkan kepada perempuan. Membicarakan kesepian laki-laki penting, tapi kita juga tidak boleh melupakan berbagai wajah kesepian lainnya: kesepian seorang istri yang kehilangan koneksi dengan teman-temannya setelah menikah, kesepian lansia yang aksesnya terbatas dari ruang-ruang publik, atau kesepian perantau di negeri orang. Kesepian bukan kompetisi penderitaan.
Maka daripada saling menyalahkan, mari kita mulai dari hal-hal kecil, mengirim pesan pada teman lama, mengajak orang di sekitar ngobrol, atau mendaftar di komunitas yang sesuai minatmu. Dan akan membantu jika kesepian dianggap sebagai perasaan yang bisa berubah, bukan keadaan yang tidak bisa berubah.





