Media, Bentuk Tubuh dan Hasrat Seksual Perempuan


 
*Dea Safira Basori – www.konde.co

New media atau media baru adalah media online dan juga sosial media yang banyak muncul belakangan ini. Bagaimana media online menuliskan perspektif soal perempuan? Dea Safira Basori, mengambil contoh pengamatannya pada salah satu media online yang menuliskan bahwa “bentuk tubuh perempuan akan menunjukkan gairah seksualnya”. Penilaian tersebut berdasar pada penelitian yang dilakukan oleh Amanda Chatel. Padahal para feminis percaya bahwa bentuk tubuh dan gairah seks tak bisa dibandingkan begitu saja dan hanya merupakan konstruksi yang membungkus pemikiran-pemikiran masyarakat selama ini. Perempuan, haruslah keluar dari penilaian ini dan membongkar penilaian buruk pada tubuh mereka. Berikut tulisan Dea Safira Basori: 


Tanggal 8 April 2016 lalu, pada jam 14:05 WIB sebuah platform salah satu media di Indonesia yaitu: Beritagar.id mengeluarkan info grafik yang berjudul: "Bentuk Tubuh dan Hasrat Bercinta" seperti di bawah ini. Selanjutnya banyak yang meng-klik tulisan ini.

Info tersebut mereka ambil dari sebuah artikel dari though catalog yang ditulis oleh Amanda Chatel yang kemudian mereka terjemahkan. Namun sayangnya Beritagar.id sepertinya tidak melakukan pengecekan fakta ulang dan mencari tahu darimana Chatel mendapatkan infonya. Sepertinya mereka langsung saja menerjemahkan apa yang Chatel tulis. Apalagi ada beberapa kalimat yang kurang sesuai terjemahannya. Chatel memang menulis rubrik seksnya berdasarkan beberapa penelitian yang ia jumpai.

Pada info grafik mereka menjelaskan bahwa perempuan dengan bentuk tubuh tertentu memiliki kecenderungan perilaku seksual tertentu. Info grafik ini membahas perempuan dari bentuk tubuh kurus, gemuk, payudara besar, payudara kecil, badan tinggi, badan pendek, serta tubuh dengan bentuk jam pasir.

Setelah saya telusuri, penelitan ini tak bisa dijadikan standar pakem untuk menentukan standar tubuh perempuan sebagai penentu perilaku seksualnya. Kenapa demikian? karena budaya juga mengambil andil dalam perilaku tersebut. Dan penelitian tersebut hanya dilakukan pada populasi tertentu saja sehingga tak bisa digeneralisasikan. Namun sayang soal generalisasi ini tak dijelaskan secara detail dalam tulisan dalam berita tersebut.


Minimnya Perempuan Peneliti

Saat ini memang tak banyak perempuan peneliti yang melakukan penelitian terhadap perihal perilaku seksual. Perempuan peneliti baru saja muncul di abad 21, karena sebelumnya perempuan selalu dianggap emosional dan irasional sehingga (menurut laki-laki) tak berkualifikasi untuk meneliti mengenai perilaku seksual perempuan.

Bahkan kebanyakan perempuan tak diberikan ruang untuk melakukan penelitian tersebut. Dan tatkala perilaku seksual perempuan diteliti, para peneliti laki-laki selalu mengkaitkannya dengan mitos-mitos yang ada pada perempuan untuk membenarkan penilaian terhadap perempuan. Sehingga hasil penelitian yang ada selalu didapatkan dari sudut pandang laki-laki.

Dalam artikel Chatel tertulis bahwa “lemak meningkatkan endorphin” sedangkan yang dituliskan Beritagar.id adalah “lemak menghasilkan endorphin”. Chatel dalam hal ini menggunakan penelitian dari James Watson yang sangat bias. Dalam penelitiannya ia menuliskan bahwa:  pasangan yang gemuk atau berat badan berlebih, adalah orang-orang yang sangat bahagia. Sedangkan pasangan yang kurus adalah pasangan yang banyak masalah.

Namun lagi-lagi ada pula penelitan yang menyatakan bahwa laki-laki juga lebih memilih perempuan yang kurus karena lebih mudah saat melakukan hubungan seksual. Sekali lagi ditekankan bahwa penelitian ini tidak bisa dijadikan generalisasi karena populasi yang dilakukan kurang variatif. Dan terbukti pula bahwa penelitian yang satu juga bertentangan dengan penelitian yang lain.


Penelitian untuk Justifikasi

Walaupun bertentangan, namun penelitian-penelitian seperti ini sering digunakan untuk menjustifikasi penilaian laki-laki terhadap bentuk tubuh perempuan. Saya tidak bilang bahwa penelitian tersebut salah atau tidak, namun jika menggunakan penelitian tanpa mengetahui siapa penelitinya dan dalam konteks sosial apa penelitian tersebut dilakukan merupakan  bentuk justifikasi sikap laki-laki pada perempuan yang tidak bijak dan bias. Sama halnya ketika para ilmuwan dari Saudia Arabia yang menyatakan bahwa “menyetir tak baik untuk kandungan” dan “perempuan yang mengunggah foto makanan di Instagram dapat meningkatkan resiko kanker pada anak.”

Akan lebih baik jika media menuliskannya secara detail dalam konteks apa penelitian tersebut dilakukan sambil memberikan analisa secara kritis. Jangan menulis jika hanya untuk memenuhi traffic pembaca misalnya, karena yang ada tubuh perempuan hanya akan dijustifikasikan melalui kacamata laki-laki, digunakan sebagai bahan jurnalistik untuk membenarkan sikap misoginis mereka.

Semoga bukan ini yang terjadi.

Perilaku seksual perempuan sangatlah bermacam-macam dan jelas tidak ada kaitannya dengan bentuk tubuh perempuan. Begitu pula dengan laki-laki. Bentuk tubuh laki-lakipun sangat bermacam-macam dan hal tersebut tak ada kaitannya dengan perilaku seksual mereka.

Feminis, Maria Mies mengungkapkan bahwa riset feminis seharusnya dilakukan untuk menciptakan hal baru yang berdasar pada teori pengalaman perempuan dan kenyataan yang dialami perempuan. Tentu, bahasa yang dipakai adalah bahasa perempuan dengan istilah-istilah yang digunakan perempuan. Sehingga riset seperti ini akan melibatkan perempuan dan memberikan perubahan mendasar bagi kehidupan perempuan.


(Foto : techno.id dan beritagar.id)



*Dea Safira Basori, seorang feminis Jawa yang gemar melakukan eksplorasi jiwa. Tulisan-tulisan Dea bisa diakses dalam web: deasafirabasori.com