Akar yang Kuat




Sica Harum- www.konde.co

Tiga bulan lalu, saya memindahkan kantor, berjarak sekitar 18 kilometer dari lokasi lama. Dua kali bolak-balik, pick up besar itu tak juga bisa membawa beberapa tanaman besar di dalam pot. Akhirnya, ditinggalkan di lokasi lama.

Lalu hari berlalu. Kesibukan melanda. Dan tanaman-tanaman itu terlupa. Sedih, ya. Mereka susah dapat air.  Tetangga sebelah berbaik hati menarik slang, dan berupaya menyirami. Upayanya tak terlalu sukses.

Minggu lalu, saat sebuah proyek berakhir, saya mampir ke kantor lama. Duh, sedihnya. Daun-daun kering. Ada beberapa pot yang masih bisa selamat. Cemara-cemaraan itu aman. Juga kembang kertas. Tanaman jeruk purut juga aman.

Ini tentu bukan lagi mengeluh, lebih karena ini adalah cerita perempuan, seorang ibu yang memimpin perusahaan yang dikelolanya sendiri. Melihat tanaman ini seperti melihat si baby. Mereka lahir, tumbuh dan berkembang. Ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan prediksi kita, keinginan kita. Tapi mau apalagi, karena toh si baby harus tumbuh, menyesuaikan diri terlebih dengan lingkungan-lingkungan baru.

Saya banyak mendapatkan cerita ini juga dari para perempuan yang memimpin usahanya. Menyesuaikan lingkungan dan harapan baru itu biasa, yang lebih layak lagi adalah sebuah proses yang harus dilewati.

Dan dari semua yang masih bertahan, ada tanaman kecil dan mungil yang masih bardaun hijau. Pachira, atau biasa dinamai money tree itu masih menyisakan dua daun lima jari-nya. Batangnya juga masih terkepang dengan baik. Tampak, tunas kecil,  hijau. Sebuah tunas berarti harapan, kan?


Perempuan, selalu ada harapan dari akar yang kuat.