Perempuan pedagang dan Pahit Getir Kemerdekaan

Edisi Khusus Refleksi Kemerdekaan Perempuan: untuk edisi Kemerdekaan Agustus 2016 kali ini, www.konde.co akan menampilkan edisi khusus: “Refleksi Kemerdekaan Perempuan”. Refleksi kemerdekaan perempuan ini berisi kritik sekaligus evaluasi dari individu dan sejumlah kelompok tentang pentingnya kemerdekaan perempuan, ide soal kemerdekaan perempuan dan bagaimana refleksi mereka tentang kemerdekaan perempuan di Indonesia. Edisi khusus ini akan kami tampilkan dari tanggal 15-18 Agustus 2016. (Redaksi)


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Bagi Aris Kurniasih, perempuan pedagang jamu gendong berumur 44 tahun ini, hidup sebagai penjual jamu adalah soal bertahan hidup, untuk menyekolahkan anaknya. Bersama suaminya yang sopir gojek, hasil penjualan jamu dan ngojek harus mereka tabung untuk sekolah anaknya.

Anaknya 3, yang besar perempuan dan sekolah di Diploma Keperawatan di Jakarta, sedangkan 2 anak lainnya masih SMP dan SMA.


Sudah 22 tahun Aris berjualan jamu, tepatnya sejak umur 22 tahun saat ia belum menikah. Dulu, kebutuhan ekonomi tak sesulit sekarang. Ia mulai mengenang. Sekarang apa saja mahal, begitu Aris Kurniasih.

“Saya sampai bilang ke anak saya yang pertama, kalau sudah selesai sekolah perawat, nanti langsung kerja ya biar bisa ngeringanin beban emak sama bapak. Saya tidak tega ngomong ini, tapi mau bagaimana lagi, umur saya sudah semakin tua, harus ada yang membantu ekonomi rumah tangga,” begitu ungkap Aris Kurniasih.

Kemerdekaan bagi Aris tentu berarti banyak, ia ingin ekonomi lebih baik karena imbasnya sangat besar bagi pedagang. Sudah lama Indonesia merdeka, seharusnya pemerintah bisa mengelola dan mengatur ekonomi yang baik bagi para perempuan pedagang.

“Kalau ekonomi jelek, apa saja mahal, nanti tidak ada yang beli jamu. Sebenarnya pengin jualan jamu pakai motor atau punya toko jamu, tapi modalnya dari mana ya?. Mbok ya pemerintah memberikan modal untuk usaha kecil seperti saya, biar berubah jualan jamunya, tidak berjalan kaki terus.”

Aris Kurniasih memang jual jamu di sekitar Ciledug, Tangerang. Setiap hari ia harus berjalan kaki sepanjang 15 kilo hingga dagangannya habis. Lakon hidup berjalan jauh setiap harinya ini dilakukannya terus.

Satu hal sederhana yang kini ia minta di moment kemerdekaan, jika ada yang bisa membantu dengan membelikan motor bekas atau modal untuk berjualan jamu di toko, agar ia bisa istirahat dan tak selalu berjalan jauh. Usianya makin menua, dan itu adalah harapan hidup untuknya dan keluarganya.


Harapan Perempuan Pedagang: Harga Stabil, Stop Produk Impor

Pada umumnya, para pedagang secara garis besar menginginkan pemerintah bisa mengatur harga agar stabil. Jika harga stabil, maka para pedagang bisa memprediksi penjualan mereka, tidak rugi berkepanjangan.

Harapan ini juga disampaikan sejumlah perempuan pedagang lainnya. Yuni adalah salah satu pedagang baju di pasar Cipulir, Jakarta Selatan. Sudah 15 tahun  pekerjaan ini dijalaninya. Ia hanya ingin, pemerintah bisa mengatur harga dengan baik, karena jika harga tak pernah stabil maka pedagang akan banyak merugi.

Sedangkan bagi Rosmala, pedagang baju yang berjualan di sejumlah pasar kaget di Jakarta menyatakan bahwa harapannya, pemerintah tak lagi mendatangkan baju-baju impor karena ini akan mematikan industri baju dalam negeri yang banyak dikelola perempuan. Sudah lama Indonesia bisa memproduksi baju-bajunya sendiri, mengapa mesti impor yang malah menyulitkan para perempuan pedagang.

“Baju impor ini banyak sekali, padahal banyak baju yang diproduksi oleh perempuan-perempuan Indonesia dengan kualitas yang sama. Maka kalau bisa stop impor dan kita mulai jualan baju dalam negeri, karena baju-baju dalam negeri harganya lebih murah jadi kita lebih mudah menjualnya.”

Harga yang tak stabil juga menjadi keresahan para perempuan pedagang sayur-mayur. Rosini, salah satu pedagang sayur mayur di Ciledug mengatakan bahwa jika harga tak pernah stabil seperti saat ini, maka banyak sayur yang tidak terbeli, akibatnya sayur akan busuk dan dibuang.

Hari ini saja, harga bawang merah perkilonya sudah mencapai Rp. 40 ribu, sedangkan harga wortel Rp. 25 ribu perkilo. Harga ini terus merangkak naik sejak puasa hingga sekarang.

“Jika harga seperti ini terus, maka banyak pedagang yang rugi. Harga jual mahal, harga beli mahal. Dan belum tentu semua akan habis terjual .”

Rosini sudah berulangkali merugi. Sayuran busuk, jika tidak maka sayur yang berharga tinggi dan mahal dimakannya sendiri karena tak ada yang membeli. Ia berharap bahwa pemerintahan serius mengelola harga pasar agar para perempuan pedagang bisa menentukan nasibnya dengan lebih baik.