Pelecehan Seksual is Not Okay

Poedjiati Tan - www.konde.co

Beberapa hari yang lalu di sebuah acara talkshow CNN Ameika membahas tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh Donald Trump. Korban pelecehan Donald Trump tidak hanya satu orang tapi beberapa orang dengan rentang waktu yang berbeda. Tim kampanye Donald Trump mengatakan bahwa itu semua adalah bohong dan ingin menjatuhkan Donald Trump dimasa kampanye pemilihan presiden. Mereka mengatakan kenapa baru sekarang mengungkapkannya?

Tdak hanya persoalan pelecehan seksual saja, Donald Trump juga membuat pernyataan yang merendahkan perempuan. Dalam video yang beredar baru-baru ini, Trump mengatakan "Anda dapat melakukan apa saja" terhadap perempuan "ketika Anda merupakan seorang bintang" dan sesumbar tentang upayanya untuk meraba dan mencium perempuan.

Para pendukung Donald Trump menganggap bahwa itu hanya gosip laki-laki di ruang ganti. Dan para pelapor itu sedang mencari sensasi. Para aktivis menganggap pelcehen tetap pelecehan dan tidak semua perempuan mempuyai keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang dianggap memalukan. Kenapa sekarang? Karena Donald Trump akan menjadi orang nomer 1 di Amerika dan apa yang dia lakukan bukanlah contoh atau panutan buat anak muda. Bayangkan apa yang terjadi bila dia memiliki kekuasaan maka akan lebih banyak perempuan yang menjadi korban.

Lentera Sintas Indonesia, Magdalene.com dan Change.org pernah menggelar survei secara online pada Juni 2016Survei yang melibatkan 25.213 pengguna internet, terdiri dari 12.812 perempuan, 12.389 lelaki serta 12 transgender. Dari hasil survey tersebut mengungkap bahwa 58% responden mengalami pelecehan secara verbal, 25% alami pelecehan fisik seperti sentuhan, pijatan, remasan, pelukan, ciuman dan lain sebagainya, 21% dipaksa melihat, menonton konten porno, alat kelamin seseorang atau aktivitas seksual dan 6% mengalami pemerkosaan.

Sebanyak 70% pelaku kekerasan verbal merupakan orang tak dikenal korban, karena seringkali terjadi di ruang publik. Sedangkan 57% pelaku pelecehan fisik dan 69% pelaku pemerkosaan dikenal dekat oleh korban. Dari 6% responden yang merupakan korban kekerasan seksual, 41% diantaranya mengaku mengenal pelaku.

Data lainnya menyatakan bahwa 84% responden perempuan pernah mengalami kekerasan seksual secara verbal dan 66% korban pemerkosaan mengalaminya saat di bawah usia 18 tahun. Sedangkan dua dari tiga korban mengalami kejadian tersebut ketika masih di bawah umur.

Sementara itu, dari 72% korban yang pernah mengalami perkosaan memutuskan untuk diam dan 93% tidak melaporkan kasusnya. Hanya 6% yang melapor dan 1% yang kasusnya diusut tuntas, sisanya menghadapi penghentian kasus, pelaku bebas dan berakhir damai.


Banyak perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual dan tidak berani mengatakannya atau melaporkan apa yang dialaminya. Ada juga yang tidak mengetahui atau tidak mengerti kalau dia sudah mengalami pelecehan seksual. Menurut RUU Kekerasan Seksual, pelecehan seksual itu ialah Setiap orang yang melakukan tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang, yang terkait hasrat seksual, yang mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.

Sedangkan Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.

Beberapa survey tentang pelecehan seksual mengatakan hampir semua korban pelecehan seksua tidak pernah melaporkan ke polisi. Ada ketakutan dan juga tidak percaya terhadap polisi. Selain itu merka takut dianggap berbohong dan justru mengalami stigma di masyarakat. Selain itu adanya ancaman dan relasi kuasa dari pelaku.

Para pelaku pelecehan sering kali menggunakan kekuasaannya untuk melakukan aksinya. Seperti guru terhadap muridnya, dosen kepada mahasiswanya, pimpinana agama kepada umatnya, seperti kasus pimpinan pondok pesantren yang melakukan pelecehan seksual kepada santriwati atau pendeta kepada jemaaatnya, atasan kepada bawahannya.

Setelah video pernyataan Donald Trump yang melecehkan perempuan tersebar. Penulis asal Kanada Kelly Oxford meminta sejumlah perempuan untuk mencuitkan pengalaman pertama mereka dilecehkan secara seksual pada hari Jumat (07/10). Banyak para wanita mencuitkan kisah mereka dengan tanda tagar #NotOkay. Ribuan perempuan mencuitkan pengalamannya ketika dilecehkan secara seksual dan itu Not Okay.


Ini saatnya bagi perempuan untuk berani mengatakan tidak pada segala bentuk pelecehan seksual seperti cat calling, siulan, godaan yang mengarah seksual, serta berani melawannya dengan melaporkan pelecehan seksual. Jangan biarkan diri kita dan orang lain menjadi korban. Pelecehan seksual is not okay!








Sumber : 
http://pinkkorset.com/2016/07/fakta-mengejutkan-survei-kekerasan-seksual/
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161015_dunia_trump_pelecehan_seksual
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161010_dunia_trump_sex_tape

foto : 
Sexual Assault: Power Money Control Infographic
Love is Respect