Perempuan dan Tradisi Lontong Cap Go Meh

Poedjiati Tan - www.konde.co

Hari ini adalah Perayaan Cap Go Meh, 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Dulu ketika mendiang nenek saya masih hidup dan anak cucunya masih tinggal bersama di rumah besar, kami selalu merayakan cap go meh dengan makan lontong cap go meh. Saya masih ingat nenek berserta tante tertua selalu memasak semua masakan lontong cap go meh sendiri. Mereka masak untuk sekitar 30 orang. Malam hari semua berkumpul setelah sembayang kepada para Dewa, kami makan bersama lontong Cap Go Meh sambil bercerita dengan suasana yang menyenangkan.

Ketika  nenek telah meninggal dan anaknya mulai satu persatu meninggalkan rumah besar, tradisi makan bersama lontong cap go meh juga menjadi tidak ada. Tidak ada lagi masak bersama para perempuan sambil bercanda dan bercerita. Apalagi cucu-cucunya sudah tidak lagi menjalankan tradisi bersembayang kepada para dewa dan berpindah ke agama samawi. Sekarang ini bila perayaan cap go meh tiba, kita membeli lontong cap go meh di depot atau restoran yang menjualnya.

Tradisi Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.

Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao (元宵; Yuánxiāo jié) atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M). Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat Tiongkok dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas. Festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang.

Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan ‘Liong’) dan tarian Barongsai. Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao atau Wedang Ronde. Tentu saja, malam tidak akan menjadi meriah tanpa kehadiran kembang api dan petasan.

Yuan Xiao sendiri adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao atau juga biasa disebut Tang Yuan adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Bila ditilik dari namanya, Yuan Xiao mempunyai arti ‘malam di hari pertama’. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek.

Ketika Yuan Xiao Menjadi Lontong

Bagaiman Yuan Xiao berubah menjadi Lontong Cap Go Meh? Pada jaman Kerajaan Majapahit banya para pendatang dari Tiongkok dan bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, misalnya Semarang, Pekalongan, Lasem, Tuban dan Surabaya. Pada jaman itu hanya kaum laki-laki Tiongkok yang merantau hingga ke pulau Jawa. Mereka bekerja, menetap dan menikahi perempuan Jawa, hal ini melahirkan perpaduan budaya Peranakan-Jawa.

Untuk merayakan Imlek, saat Cap Co Meh, kaum peranakan Jawa mengganti hidangan Yuan Xiao (bola-bola tepung beras) dengan lontong yang disertai berbagai hidangan tradisional Jawa yang kaya rasa, seperti opor ayam, sambal goreng rebung, sambel goreng ati empela dan pete, koya, serundeng. Dipercaya pula bahwa lontong Cap Go Meh mengandung perlambang keberuntungan, misalnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Hal ini karena ada anggapan tradisional Tionghoa yang mengkaitkan bubur sebagai makanan orang miskin atau orang sakit, karena itulah ada tabu yang melarang menyajikan dan memakan bubur ketika Imlek dan Cap Go Meh karena dianggap ciong atau membawa sial. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan panjang umur. Telur dalam kebudayaan apapun selalu melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan, melambangkan emas dan keberuntungan.

Lontong Cap Go Meh adalah fenomena khusus Peranakan-Jawa; kaum peranakan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan tidak mengenal hidangan ini. Tradisi memakan lontong tidak dikenal dalam perayaan Imlek masyarakat Tionghoa di Kalimantan. Akan tetapi hidangan ini dikaitkan dengan perayaan Imlek di pecinan di kota-kota di pulau Jawa, khususnya Semarang, Surabaya. Karena Suku Betawi sangat dipengaruhi kebudayaan peranakan Tionghoa, Lontong Cap Go Meh juga dianggap sebagai salah satu masakan Betawi.

Banyak cerita yang berbeda tentang asal usul lontong cap go meh. Ada yang mengatakan bahwa Tradisi lontong Cap Go Meh masuk bersama dengan Laksamana Cheng Ho mendarat di pesisir Semarang dan anak buahnya menikahi perempuan Jawa. Diduga karena tidak bisa berkomunikasi mengajarkan cara memasak Yun Xiao kepada para istri jawa, lalu yun xiao diganti menjadi lontong. Tetapi yang pasti Tradisi memasak Lontong Cap Go Meh ini ini terus diturunkan dari perempuan ke anak perempuannya. Mereka berharap tradisi ini bisa terus dijaga dan diturunkan oleh para perempuan. Perempuan selalu dianggap sebagai penjaga tradisi dalam setiap ajaran tradisi, budaya atau keagamaan.

Waktu terus berubah Tradisi Cap Go Meh pun ikut berubah. Di Indonesia tradisi Cap Go Meh bukan lagi untuk bersembayang kepada Dewa, atau tradisi berkumpulnya semua keluarga seperti jaman dulu. Banyaknya keluarga yang merantau dan tidak lagi tinggal bersama, maka tradisi memasak lontong Cap Go Meh bersama pun diganti dengan membeli atau memesan lontong Cap Go Meh yang sudah jadi. Apalagi sekarang  festival kuliner makan lontong cap go meh banyak sekali di mal-mal atau food street yang selalu mengadakan festival makan lontong cap go meh setiap perayaan cap go meh. Bahkan kota Bogor juga ikut merayakan festival Cap Go Meh sejak tahun 2015. 





Sumber : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Lontong_Cap_Go_Meh
http://www.tionghoa.info/sejarah-cap-go-meh/
http://www.capgomehbogor.com/latar-belakang-tradisi-ratusan-tahun/

Foto : Koleksi pribadi Poedjiati Tan dan Anita Vivi