Aku, Perempuan Yang Harus Menikah


Febriana Sinta, www.konde.co

“Kapan nikahnya ?....”
“Ingat lho sudah 30 tahun….. ”


Itu adalah pertanyaan yang sering dilontarkan keluarga dan saudara-saudaraku saat kami bertemu di hari raya. Aku pun selalu berusaha membalas dengan sopan setiap pertanyaan mereka. Pernikahan, suami, anak, seolah – olah menjadi pertanyaan yang harus aku jawab setiap tahunnya.

Aku adalah perempuan berusia 30 tahun. Aku mempunyai pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhanku, aku mempunyai teman…ya aku sudah mempunyai kehidupan tanpa harus menikah.


“Adikmu sebentar lagi menikah, ibu tidak ingin kamu malu nak….”

Itu adalah pesan ibu ketika aku menjawab telpon darinya…. Tidak ada gunanya bertanya maksud perkataan ibu.

“Adikmu menikah setahun lagi, kamu tahu itu kan ?.”  Aku hanya terdiam……

Awal Februari 2016

Hari ini aku sakit. Dokter yang memeriksaku menyatakan aku harus menjalani opname di rumah sakit. Tapi aku tahu badanku tidak sakit….namun jiwaku yang sakit. Pernikahan di depan mata membuatku sakit.

Aku bertemu laki – laki itu saat bekerja di kota yang selalu dipenuhi dengan suara klakson kendaraan. Di kota yang bising ini, dia menceritakan banyak hal yang membuatku terpikat.

Namun aku tidak jatuh cinta dengan laki – laki ini, sikapnya yang ingin mengekangku membuatku merasa jauh. Namun aku telah terlanjur mengenalkan laki – laki ini kepada keluargaku. 

Undangan pun telah kukirimkan kepada semua saudara yang kerap menanyakan pernikahanku.

14 Februari 2016

Tepat di hari kasih sayang aku menikah. Ratusan tamu dan tiga kali acara resepsi digelar di dua kota.

Pesta telah usai. Saat ini tiba saatnya aku hidup berdua dengan laki – laki yang kupanggil dengan nama sayang.

“Sayang, teh panas sudah aku siapkan….”

” Sayang, bajumu sudah aku setrika….”

“ Sayang, aku sudah selesai masak, ayo makan…..”


Kehidupan macam apa ini? aku tidak terbiasa hidup dengan siapapun, dan aku tidak terbiasa harus melayani seseorang selama lebih 20 jam dalam sehari. Tetapi aku dipaksa memanggilnya dengan sebutan sayang dan bekerja melayaninya.

Sikapnya yang berusaha mengekangku semakin bertambah. Aku tidak boleh bekerja. Aku tidak boleh bertemu dengan temanku, aku tidak boleh memeluk saudara laki – lakiku, dan aku dilarang keluar rumah saat dirinya bekerja.

Aku seperti keong di dalam rumah petak yang berukuran 6x6 meter persegi.

10  Maret 2016

“Sayang, ngapain sih setrika baju aja kok lama banget, ayuk sini ke kamar…?.”

Aku bergidik setiap kali mendengar suamiku memanggil namaku. Aku berusaha tetap menyibukkan diri dengan menyetrika baju. Baju yang sudah rapi kembali aku setrika, dan hal itu sudah kuulangi hingga tiga kali…

Hingga akhirnya dia datang dan mencopot kabel setrika….

Hari ini sudah kali ke lima aku harus bercinta dengan suamiku….. Setiap hari aku ‘bersamanya’ minimal tujuh kali dalam satu hari. Begitu juga saat diajak pulang. Setiap bepergian dengannya aku selalu ketakutan ketika dirinya mengajakku pulang…

“ Ayo sayang kita pulang, sudah malam."

Pulang berarti aku harus melayaninya.

Hari ini sikap buruknya bertambah. Setiap kami duduk berdua selalu saja terjadi pertengkaran. Membanting HP,  membanting sendok, atau membanting pintu selalu dilakukannya.

April 2016
Aku tidak tahan dengan kehidupanku… Ibu, adalah orang pertama tempat aku mengadu.

“Ibu, aku ingin cerai..”

Juni 2016
Aku mengajukan cerai.

Di usia ke-30, aku tidak mempunyai suami.

(Cerita ini berdasarkan kisah nyata kehidupan seorang perempuan bernama RS).

Foto : www.pixabay.com