Morgan Oey dan Lukman Sardi, Monolog Kisah Pekerja Rumah Tangga


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Morgan Oey adalah salah satu artis yang membacakan tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) pada acara monolog dan launching buku PRT yang berjudul: Kami Tak Akan Diam yang diadakan International Labour Organisation (ILO), JALA PRT dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Acara ini diadakan pada Kamis, 10 Agustus 2017 di wisma nusantara.

Morgan telah hadir satu jam sebelum acara monolog dilakukan dan pulang ketika acara usai. Ia membaca cerita tentang nasib anak yang kemudian menjadi PRT di kota. Dalam kisah yang ia bacakan, PRT tersebut belum pernah bekerja sebelumnya dan harus dipaksa bekerja ketika usianya masih anak-anak.

“Penindasan itu terjadi bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga oleh majikan,” begitu Morgan Oey dalam kalimat pembuka di dalam tulisan tersebut.

Riuh rendah tepuk tangan tampak terjadi setelah Morgan, artis yang bermain dalam sejumlah film ini turun panggung. Monolog itu terasa ada jeda ketika banyak PRT yang kemudian berfoto bersama Morgan.

Selain Morgan Oey, artis lain yang membacakan tulisan PRT dalam acara Monolog dan Launching Buku PRT 15 Agustus 2017 lalu ada: Nia Dinata, Lukman Sardi dan Sari Nila.

Nia Dinata menyatakan bahwa ternyata dalam hidupnya, ada seorang yang selalu menemaninya, yaitu: PRT. PRT adalah orang yang selalu di rumah yang membantu menyediakan segala sesuatu. Ia juga merasa senang karena pembacaan ini merupakan bagian dari perjuangannya.

“Saya adalah seorang pekerja dan PRT juga pekerja, mari kita sesama pekerja berjuang secara bersama-sama.”

Di Monolog tersebut, Nia Dinata membacakan tulisan Yuni Sri, seorang PRT yang kemudian belajar menulis. Tulisan Yuni Sri saat ini sudah dimuat di banyak media online dan sosial media. Dalam tulisan tersebut, Yuni Sri menuliskan bagaimana ia diundang menjadi salah satu pembicara diskusi tentang “Internet dan Perempuan” yang diadakan www.Konde.co  pada bulan November 2016 lalu.

Yuni menceritakan bahwa itu merupakan pengalaman pertamanya yang tak pernah dilupakannya karena ia diundang sebagai pembicara tentang jurnalisme warga depan masyarakat. Nia Dinata juga menyatakan senang bisa berjuang bersama para PRT.

Presenter Sari Nila juga menyatakan hal yang sama, buatnya PRT adalah orang yang selama ini sangat berjasa dalam hidupnya. Sari Nila menyatakan, ia tak pernah kuatir dalam bekerja karena ada PRT yang menjaga anak-anaknya.

“Kalau suami keluar kota saya tidak bingung, tapi kalau PRT pulang, saya sangat bingung,” begitu ungkap Sari Nila.

Sejumlah cerita tentang kehidupan PRT memang dibacakan dan ada dalam buku ini. Salah satu cerita yang membuat banyak orang sedih adalah cerita tentang PRT bernama Ida Parida namanya. Ia menjadi PRT sejak umur 8 tahun. Bekerja membersihkan rumah, mencuci, seterika, memasak sesuatu yang ia tak bayangkan. Saudaranya mengajaknya ke Jakarta dan menitipkannya ke sebuah yayasan untuk menginap. Jadilah ia PRT di Jakarta sejak ia berumur 8 tahun. 7 tahun kemudian ia baru bisa pulang dan bertemu orangtuanya. Menjadi PRT anak ini merupakan nasib yang sulit ia jalani. Tapi apa daya, nasib menentukan lain.

Ada juga cerita dari Nurlela. Nur adalah PRT yang kemudian menjadi korban kekerasan. Dengan membaca Kisah yang dialami para PRT ini, sejumlah artis dan undangan yang hadir seperti diingatkan pada kehidupan mereka sehari-hari.


(Foto: Lukman Sardi dan Morgan Oey dalam Launching dan Monolog Buku PRT "Kami Tak Akan Diam")