Tidak Perlu Bunuh Diri, Karena Kamu Tidak Sendiri


Setiap tanggal 10 September kita memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Di hari itu sejumlah organisasi kemudian memperingatinya, ada yang melakukan aksi lilin, ada yang mengadakan pertemuan dengan para survivor untuk saling mengingatkan agar tidak lagi melakukan pencobahan bunuh diri.

Luangkan Satu Menit untuk Ubah Kehidupan, adalah tema peringatan Hari Pencegahan Bunuh diri yang ditetapkan oleh International Association for Suicide Prevention (IASP). Peringatan ini menjadi pengingat sekaligus pesan agar kita menyatukan pandangan dan bergerak melangkah melakukan penanggulangan.

Dan ini ada salah satu survivor bunuh diri yang bernama Endri. Endri bersedia membagikan ceritanya. Kisah yang dimuat ini sudah seijian penulisnya dan sebelumnya dimuat di: http://liquidkermit.net/saya-endri-survivor-depresi-dan-bunuh-diri/:

Saya tahu ada banyak orang lain yang menderita depresi dan berpikir untuk mengakhiri hidup.Saya ingin menyampaikan satu hal: Kamu Tidak Sendiri

Dua tahun lalu saya memegang pisau untuk mengakhiri hidup. Itu terjadi hanya satu hari setelah wisuda kelulusan pendidikan S2 di Swedia. Tapi digagalkan polisi Swedia yang muncul di apartemen saya. Kejadian itu berulang beberapa kali setelah saya pulang ke Indonesia dua minggu berikutnya.

Sebagian besar keinginan mengakhiri hidup disebabkan depresi, sebuah penyakit jiwa. Saya pun begitu. Saya dulu menderita depresi. Saya kehilangan semangat hidup, saya merasa sangat menderita, saya merasa gagal, saya merasa lebih rendah dari sampah, saya merasa berada di dasar sumur yang dalam dan tidak bisa keluar. Saya mati rasa.

Saya tidak bisa mmerasakan kebahagiaan, benci, sebal, ataupun sedih. Saya tidak tahu lagi buat apa makan. Buat apa hidup. Untuk lebih tahu tentang depresi bisa membaca catatan saya yang lain.

Kalau kamu merasakan itu semua. KAMU TIDAK SENDIRI.

Saya pun pernah merasa sendiri. Merasa satu-satunya orang yang mengalami semua hal diatas.

Kini saya sudah pulih. Saya menjalani terapi. Saya mendapat bantuan keluarga dan teman. Kamu juga bisa pulih.

Saya duduk di pagi ini karena ada begitu banyak penderita gangguan jiwa tetapi belum mau untuk terbuka karena stigma yang masih kuat di masyarakat. Kamu mungkin pernah mendapat respon seperti ini saat kamu bercerita tentang apa yang kamu rasakan:

– “Coba belajar bersyukur, masih banyak orang lain yang lebih tidak beruntung.”

– “Kamu harus lebih banyak beribadah, mungkin kamu kurang iman.”

– “Makanya kamu harus lebih banyak bergaul.”

– “Itu cuma ada di pikiran kamu, itu tidak nyata.”

Saya pun pernah mendapatkan respon-respon seperti itu. Karenanya, saya mengerti kalau kamu kemudian memilih untuk diam dan menarik diri dari pertemanan, membuat diri kamu semakin merasa sendiri. Oleh karena itu, saya pagi ini mewakili para penderita gangguan jiwa.

Saya tidak bisa menghilangkan apa yang kamu rasakan, mengembalikan kamu seperti dulu yang baik-baik saja. Semoga apa yang saya lakukan pagi ini setidaknya membuat kamu merasa tidak sendiri.

Bagi yang memiliki teman atau keluarga yang menderita depresi atau memiliki keinginan mengakhiri hidup, kamu juga ga sendiri. Saya paham merawat orang seperti saya ini butuh energi yang besar. Kamu juga ga sendiri. Walaupun saat ini rasanya tidak ada harapan, tapi siapapun bisa pulih seperti saya. Jadi, tolong bertahan dan tetap mendukung kami para penderita depresi.

Dan untuk kalian semua yang tidak pernah mengalami ini, saya tahu ini mungkin hal yang baru untuk sebagian besar dari kalian. Depresi adalah nyata. Begitupula keinginan untuk bunuh diri. Hari ini kalian berkesempatan untuk belajar hal baru tentang kesehatan jiwa. Silahkan membaca tulisan-tulisan saya yang lain.

Saya ingin mengajak siapa saja untuk berfoto bersama saya. Kalian para penderita, para survivor, para caregiver, ataupun hanya sekedar peduli dengan kesehatan jiwa. Mari befoto bersama. Bantu saya untuk menunjukan bahwa diantara mereka yang masih belum mengerti dan masih suka men-“judge”, ada pula yang paham dan peduli. Saya ingin menunjukan ini terutama kepada para penderita yang masih teralalu takut untuk bersuara.

Saya akan sangat berterima kasih jika kalian bisa membagi link ke blog saya di medsos kalian. Salah satu teman kamu mungkin sedang menderita sendiri dan perlu bantuan.