Sumilah, Narasi Perempuan Yang Terus Hidup (2)


*Abdus Somad- www.Konde.co

Sumilah adalah sosok penyintas yang menjadi korban salah ditangkap pada peristiwa kelam di tahun 1965. Ia dibawa ke penjara Wirogunan, di tempat itu ia ditahan selama 6 bulan, selanjutnya ia dipindah ke penjara Bulu dan terakhir dibawa ke Camp Plantungan yang merupakan penampungan para penderita penyakit Lepra. Selama 14 tahun lamanya ia dipenjara.

Saat ditangkap, Sumilah masih kelas 4 Sekolah Dasar yang umurnya saja masih 14 tahun, ia sendiri tidak mengerti gejolak politik yang ada kala itu. Yang ia tahu, ia hanya menari-nari di halaman selayaknya anak kecil lainnya, setelah itu ia diburu dan dipenjarakan.

Selepas dari penjara, ia mencoba untuk bertahan hidup dengan berjualan baju, lalu berjualan sate kambing di pasar Prambanan, Yogyakarta. Dari jualan itu ia mendapatkan kesempatan untuk bisa menjajaki kehidupan lebih baik, rasanya tidak ada yang ingin memilihan untuk bisa bertahan hidup dengan stigma sebagai tahanan politik, namun Sumilah memilih untuk terus hidup. Walaupun stigma tersebut selalu mengakar sampai ke anak-anaknya.

Pementasan tersebut berupaya memperingati perjuangan hidup Sumilah yang diberi judul ”Selamatan Anak Cucu Sumilah” pada 30 November 2018 lalu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Yohanes Bayu Adi, adalah anak kedua Sumilah yang ikut menonton pertunjukan mengenang ibunya merasa sedih bercampur haru. Ia tidak membayangkan akan bisa memperingati hari lahir ibunya dengan perayaan pertunjukan teater. Setiap adegan yang dipentaskan, ia merasa selalu ingat kepada ibunya. Setitik kisah tentang Sumilah menjadi penanda ingatan sejarah bagi Bayu.

“Terus terang, setahu saya dari lahir gak pernah ada ulang tahun, 1 Desember ulang tahun ibu, dengan adanya ini saya jadi ingat ibu,” ungkap Bayu sembari menetaskan air mata tak kuasa mengenang sang ibunya.

Dari apa yang ia tonton, ia ingin menyampaikan kepada publik bahwa apa yang dicap kepada ibunya perihal tahanan politik dan terlibat dalam Gestok (Gerakan 1 Oktober) tidaklah benar, ia menyatakan ibunya bukanlah penjahat, ibunya hanya anak SD yang belum mengerti apa itu politik.

“Sebenarnya saya ingin sampaikan ibu saya bukan penjahat, bukan orang kriminial, memang dia tahanan politik tapi dia gak tahu politik, masih anak-anak dipenjara,’’ ujar Bayu.

Bayu menuturkan yang menjadi beban berat perihal ibunya bukanlah saat ibunya dipenjara selama 14 tahun. Melainkan legitimasi buruk akan ibunya seorang tahanan politik terus membanyangi sang Ibu setiap harinya. Masa-masa berat itu adalah sebuah ujian yang berat tidak mudah bagi seorang tahanan politik dapat kuat menghadapi dinamika kehidupan pasca bebas.

“Sebenarnya beratnya bukan dipenjara, tapi setelah ibu bebas karena dimana pun ibu selalu ada dianggap itu jahat, penjahat, padahal gak. Ibu selalu bilang ya sudahlah orang bilang apa, biarkan saja orang lain menghina kita ditampar pipi kanan kasih saja pipi kiri yang penting kita berbuat baik baik gak kenal mau kenal,’’ katanya mengenang pernyataan ibunya.

Bayu sempat menceritakan masa kecilnya bersama ibunya merasakan distigma oleh masyarakat. Ia lalui ujaran itu dengan penuh luka. Meskipun marah dengan sebutan itu, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, membalas ujaran itu baginya buang-buang waktu, sementara itu ibunya mengajarkan ia untuk menerima apa yang dihadapi saat ini.

“Saya waktu kecil dikatakan itu anak PKI, kalau mau nuntun, nuntut apa kita ke siapa? Orang tua saya dihukum 14 tahun masa mudanya di mana?, setelah dipenjara menerima stigma sempel tahanan politik padahal bukan penjahat. Itu yang berat,’’ ujar Bayu.

Bayu sendiri sempat merasa khawatir dengan masa depannya ketika dianggap bagian dari anak Tapol. Tentu yang membuat ia begitu takut adalah perihal pekerjaannya yang kemudian disangkut-pautkan dengan ibunya sebagai tahanan politik. Ia sendiri tidak mengira sampai sebegitunya menjadi orang yang dicap tahanan politik PKI.

Meskipun demikian Bayu mencoba terus terang kepada atasannya, keterbukaan bagi Bayu adalah sebuah kunci proses penerimaan itu bisa diterima masyarakat, ia memulai dari lingkaran pekerjaannya.

“Saya dulu sering merasa ketakutan, tapi saya harus kerja, bagaimana perusahaan? Apakah saya dipecat atau tidak? itu mungkin terjadi, saya terbuka kepada perusahaan latar belakang orang tua saya,’’ tuturnya.

Semua itu dijalaninya karena pesan sang Ibu, ia terus bepegang teguh pada nasehat ibunya, meskipun dirinya tahu sang Ibulah yang paling berat menghadapi kehidupan ini. Sosok Ibu begitu berharga baginya, lambat laut nasehat ibunya mulai mendapatkan hasil, stigma yang ia terima mulai berkurang meskipun masih ada segelintir orang yang masih mengkaitkan dirinya dengan ibunya yang tahanan politik.

Sebagai anak kedua, rasa percaya diri ibunya bahwa dirinya tidak bersalah begitu terasa, ajaran untuk tidak membenci orang meskipun ia menyakiti melekat disendi-sendi tubuh Bayu.

Menurut, Bayu, ibunya mulai terbuka kepada masyarakat ketika ada wawancara dari Fahri Sasongko yang hendak menulis buku tentang ibunya. Bayu menerangkan sebelum buku itu terbit, sang ibu meminta izin kepada keluarga untuk mendapatkan restu, masa-masa itu ia melihat bola mata ibunya nampak ingin menjaga anak dan keluaranya.

Dan Bayu dan keluarga kemudian menguatkan Ibu Sumilah untuk terbuka apa adanya kepada masyarakat, agar tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Terus terang ibu mulai terbuka saat diwawancara Fahri Sasongko, ibu minta izin keluarga boleh gak ini terbitin? kalau ibu gak kebaratan gak terluka gak masalah, ibu bukan penjahat. Kalau dicap Tapol gak masalah, ibu gak tahu politik apa, ibu hanya anak kecil yang tahu tari-tarian,’’ kenang Bayu saat berbicara dengan Ibunya.

Kini, ia merasa lega. Air matanya menetes ketika menyampaikan kesan singkat tentang ibunya, Sumilah. Ia merasa tenang, merasa dihargai. Apa yang dilakukan ibunya dulu, adalah penyemangat bagi hidupnya yang tak pernah habis hingga kini.(Selesai)


*Abdus Somad,
penulis dan aktivis lingkungan. Koresponden www.Konde.co di Yogyakarta