Laki-Laki yang Tak Mengenal Janji


“Biarkan kemarin, untuk pelajaran hari ini.”

*Cinta Ariana- www.konde.co

Kalimat ini sering saya dengar sebagai nasehat sehari-hari di rumah. Tapi apa mau dikata, jika saya tak lagi mengingatnya di saat kondisi saya sangat buruk dan tak biasa:

Saya menemuinya kembali setelah ia meninggalkan saya dulu, laki-laki itu, selepas masa kuliah di universitas selesai.

Dulu kami kuliah di kota yang sama, kemudian dia pergi, berjanji untuk kembali. Tapi yang terjadi, sejak janji itu dikatakan, ia tak pernah datang lagi.

Saya menjadi perempuan yang paling sulit menghubunginya. Bahkan saya pernah menanyakan kabarnya di sosial media, hal terakhir yang harus saya lakukan ketika saya sudah putus asa menghubunginya lewat medium apapun.

Banyak teman yang kemudian tahu, dan tentu saja kaget dengan pertanyaan saya di facebook itu. Mereka semua bertanya: apa yang terjadi? Mereka pikir kami baik-baik saja.

Saya jawab: tidak pernah baik-baik saja sejak dia meninggalkan kota ini, negeri tempat kami tumbuh.

Beberapa teman pernah menyarankan agar saya mendatanginya, walau jauh dan tak pernah murah. Ia hidup di sebuah kota di Eropa.

Namun karena keyakinan saya pada sesuatu lebih besar daripada rasa ingin tahu, akhirnya saya urungkan niat saya kesana. Buat apa kesana jika saya tak akan mendapatkan hasil seperti yang saya harapkan? Membalas telpon dan email saja sulit ia lakukan. Waktu itu saya merasa akan sia-sia saja dan menghabiskan banyak energi melakukannya.

Lalu saya putuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan laki-laki itu, sejak itu.

Saya putuskan untuk tidak lagi mengingatnya: hal paling berat dalam hidup saya kala itu, harus melupakan orang yang dulu tiap hari selalu ada dalam waktu-waktu ketika saya sedih dan senang.

Tapi apa mau dikata, toh, dunia tak boleh berhenti berputar. Hidup saya juga harus terus berputar. Ini lebih mirip kata-kata di film-film Hollywood yang sering saya tonton.

Walau setelah itu, hidup saya tak pernah benar-benar baik saja.

Akan saya sematkan dimana janji-janjinya untuk kami akan menikah dulu? Akan saya buang kemana harapan yang tidak akan datang? Akan saya usir kemana kesepian-kesepian yang tidak ada ujungnya? Akan saya usir kemana rasa marah, jengkel, kecewa yang akan menghantui seumur hidup saya?

Saya merasakan menjadi orang yang kalah. Menjadi orang yang paling lemah karena tidak bisa menuntut sesuatu. Tidak bisa melapangkan jalan keadilan untuk menuntut kasus ini, karena kasus relasi pacaran tidak ada undang-undangnya. Jika ada undang-undangnyapun, maka sulit untuk menembusnya. Saya menjadi orang yang tak bisa keluar dari stress dan depresi, karena tak bisa menuntaskan peristiwa yang saya alami ini.

Sejak itulah saya belajar pada janji, tentang janji yang didalamnya terdapat penghormatan pada sesuatu, pada sebuah relasi. Siapa yang menyangka jika sebuah janji, kemudian bisa menghancurkan kepercayaan diri seseorang? Kepercayaan orang pada sesuatu? Karena janji adalah penghormatan pada sesuatu yang pernah kita ucapkan dan harus kita yakini.

Tak pernah mudah bertemu dengannya lagi setelah 6 tahun kami tak bertemu.

Kami, 6 tahun kemudian memang bertemu kembali secara tak sengaja. Tentu saja saya marah mendengar semua alasannya: ingin konsentrasi belajar dulu waktu itu, oleh karena itu dia meninggalkan saya. Begitu saja.

Padahal buat saya, bukan itu. Persoalannya adalah pada janji yang ingkar, dan hal-hal yang tak mudah diterima setelah itu.

Saya hanya bilang ke laki-laki tak bertanggungjawab ini, juga sekaligus kepada pasangannya sekarang: bahwa kekerasan, ingkar janji yang dia lakukan, tak bisa ditebus dengan permintaan maaf. Apa yang ia lakukan ketika ribuan hari saya, tak benar-benar bisa melupakan keyakinan pada janji itu? Apa yang telah ia lakukan dengan depresi saya, pulang pergi ke psikolog, hanya untuk menerima kondisi buruk itu dan mengubahnya menjadi kondisi yang harus baik baik saja?

Mana janji-janji dan omong kosongnya dulu? Apakah ia berani mengatakan saat ini?

Beberapa detik saya tunggu agar dia mengucapkan kesalahan-kesalahannya yang dulu.

Namun tak juga ada ucapan itu.

Saya lalu memberikan pelajaran bahwa: laki-laki seperti ini, tak pantas untuk dijadikan pasangan.

Kalimat itulah saya ucapkan di telinga pasangannya yang sekarang.

Saya bilang bahwa saya akan memberikan bukti-bukti padanya, tentang janji itu, tentang uang yang saya habiskan untuk pergi ke psikolog, ke dokter kandungan, tentang hidup saya yang tak pernah baik-baik saja sampai sekarang.

Saya katakan pada pasangannya: Tidakkah kamu tahu, bahwa saya pernah hamil dan mengalami keguguran oleh laki-laki ini, dan kemudian dia meninggalkan saya begitu saja? Tak pantas laki-laki ini mempunyai pasangan, perempuan sebaik pasangannya saat ini.

Agar ia menjadi tahu, agar semua orang menjadi tahu apa yang sudah laki-laki ini lakukan terhadap saya:

Pada laki-laki yang tak mengenal janji.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Cinta Ariana, bukan nama sebenarnya. Seperti diceritakannya kepada www.konde.co