Menjadi Pemilih Milenial Hari-Hari Ini


*Lia Toriana- www.Konde.co

Pastinya tidak mudah dan penuh kegalauan. Ada seonggok harapan disematkan kepada kaum muda yang identik dengan tuntutan perubahan. Harapan besar itu pula yang dititipkan dari ragam pihak kepada pemilih milenial dalam kontestasi Pemilu Serentak 2019. Mulai dari ajakan ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), kenali siapa calon legislator di daerahnya, kampanye menolak politik uang serta bagaimana menangkal berita bohong yang mereka temukan di ruang virtual kehidupan sehari-hari.

Data Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebutkan, dari total pemilih tetap yang berjumlah 192.828.520 orang, pemilih milenial di rentang usia pemilih pemula muda sampai usia 20 tahun sebanyak 17.501.278 orang dan usia 21-30 tahun sebanyak 42.843.792 orang. Jika definisi milenial yang digunakan juga adalah mereka yang maksimal berusia 34 tahun pada 2019, maka angka itu akan terus bertambah.

Hasil survei LIPI pada akhir 2018 menyebutkan ada sekitar 35 sampai 40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi generasi milenial. Jumlahnya bahkan bisa mencapai 80 jutaan orang.

Angka ini lah yang diperebutkan oleh mereka yang berkepentingan dalam Pemilu 2019, khususnya penyelenggara dan peserta pemilu. Target penyelenggara Pemilu mesti terpenuhi sebagai amanat dan indikator keberhasilan. Sedangkan bagi peserta Pemilu, 80 jutaan suara pemilih milenial adalah target konversi suara mereka terhadap capaian perolehan kursi parlemen.

“Milih Salah, Golput Apalagi”


Kegalauan itu yang mungkin dirasakan pemilih milenial hari-hari ini. Merasa enggan diidentifikasi di antara dua kubu yang bertarung dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, milenial lalu cenderung memilih sikap apatis. Bukan karena tidak peduli, tapi keseharian milenial sudah terokupasi pada: jam belajar, tenggat lulus kuliah, skripsi yang belum juga kelar, kepastian kerja yang tidak kunjung datang, invoice pekerja lepas yang dicuekin sama klien, paket data seadanya, sampai kegalauan yang bagi banyak pihak terlalu receh, padahal ini merupakan hak yang hakiki bagi mereka.

Kontestasi Pemilu 2019 juga demikian tereduksi pada pilihan nomor 1 atau 2. Padahal tahapan Pemilu Serentak 2019 adalah rangkaian yang panjang –dan njelimet. Sehingga dibutuhkan ekstra sabar menjelaskan kepada pemilih milenial tahapan-tahapan tersebut. Pemilu Serentak 2019 bukan sekadar memilih Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

Di hari yang sama pada 17 April 2019, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia secara serentak pemilihan eksekutif dan legislatif dilangsungkan. Ada setidaknya lima kertas suara yang nanti akan diberikan kepada kita sebagai pemilih. Kertas suara untuk memilih representasi dari DPD, DPRD Tingkat I (provinsi) dan II (Kota/Kabupaten), DPR RI (pusat), dan presiden/ wakil presiden.

Reduksi informasi itulah yang bisa menjadi potensi keengganan partisipasi memilih bagi milenial. Namun, menjadi golput pun menuai kegalauan lain. Sebagian milenial garis keras pendukung kubu 1 atau 2 menganggap menjadi golput tidak menghargai proses demokrasi, apatis, tidak peduli, bahkan mungkin: durhaka. Durhaka pada suara rakyat, katanya.

Menjadi golput atau tidak, idealnya adalah proses bagi pemilih milenial menentukan sikap politik mereka yang secara sadar dan kritis dipilih oleh tiap individu. Kritik bagi pemilih golput juga sah-sah saja, tetapi kalau sampai mempidanakan mereka? Tentu ini merupakan sesat pikir.


Pentingnya Faktual di Tengah Gegar Informasi


Kekinian sepertinya tidak lebih penting daripada faktual dalam hal memilih dan memilah informasi. Percuma menjadi tahu yang pertama dan terdepan, saat berita yang didapatkan justru mengaburkan.

Pemilih milenial penting mendapatkan informasi yang cukup, berkualitas, dan faktual terkait rangkaian Pemilu Serentak 2019. Informasi itu bisa mereka peroleh lewat media konvensional dan media baru, seperti media sosial, jejaring perkawanan virtual, dan lain sebagainya.

Kebijakan dari pemirsa –dalam hal ini pemilih milenial, juga diperlukan. Kemampuan melakukan kroscek, klarifikasi, dan mendiskusikannya dengan orang terdekat seperti teman, orang tua, atau guru bisa jadi pilihan. Sejumlah ruang alternatif informasi Pemilu Serentak 2019 juga diberikan oleh kawan-kawan masyarakat sipil yang independen.

Ajakan mengecek profil Caleg, menyelami seluk-beluk karir politik mereka, serta visi dan misinya dihadirkan oleh ragam kelompok masyarakat. Platform seperti pintarmemilih.id, jariungu.com, rekamjejak.net, iklancapres.id, adalah sebagian inisiatif dari masyarakat sipil yang memanfaatkan data KPU untuk mengajak pemilih mengenal para Calegnya.


Hadirkan Ruang Diskusi yang Setara

Menjadi pemilih milenial hari-hari ini mestinya tidak sekadar ditempatkan sebagai penentu arah masa depan bangsa dan di tangan milenial lah perubahan Indonesia tercipta.

Adalah tugas seluruh warga negara lintas usia yang harus mewujudkannya. Membebankan cita-cita mulia negara kita hanya kepada pemilih milenial adalah mitos. Selama ruang pengambilan keputusan masih dikuasai orang tua yang enggan hengkang dari percaturan kebijakan publik, sepertinya memang pemilih milenial sampai kapan pun sebatas penggembira dan penentu target capaian suara. Itu saja.

Menyediakan ruang berdiskusi yang sehat, setara, kritis, aman serta nyaman bagi milenial bersuara juga penting. Tidak sedikit pemilih milenial yang sebetulnya ingin sekali bertanya banyak hal namun ragu karena: takut salah, kadung dicap pendukung kubu ini dan itu, ragu karena menganggap pertanyaan dan dirinya tidak penting, dan alasan lain sebagainya. Ini bukan sepenuhnya salah mereka.

Malu bertanya konon akan sesat di jalan. Sayangnya hari-hari ini penunjuk jalan di era pasca-kebenaran lebih banyak menawarkan kesesatan. Sehingga kami, kita, saya, dan kamu yang tegolong milenial penting untuk memastikan bahwa hak berpolitik bisa kita ekspresikan, apapun pilihannya.


*Lia Toriana,
Founder Youth Proactive, Pegiat isu partisipasi kaum muda, demokrasi digital, dan gerakan sosial

*Artikel ini dimuat di rumahpemilu.org.
(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)