Keterlibatan Sineas Perempuan dalam Film Dokumenter Penting Memberikan Perspektif Minoritas


*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- “If Not Us The Who” adalah kampanye yang dilakukan pembuat film dan antropolog Jaye Renold. Ia menyampaikan pentingnya pembuatan film dokumenter yang disutradarai perempuan. Karena perempuan bisa memberikan perspektif yang berbeda, mengedepankan suara-suara minoritas di sekitar mereka.

Namun sayangnya, perempuan yang berprofesi sebagai pembuat film jumlahnya belum banyak. Dunia perfilman masih didominasi oleh laki-laki, apalagi film yang berjenis dokumenter. Ini dikatakan Fajria Menur Widowati dan Jaye Renold dua perempuan yang menggeluti dunia film dokumenter selama ini.

Pada perayaan 20 tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Sabtu 10 Agustus 2019, mereka berbagi kisah dalam Session With Women Filmmaker: Finding The Indigenous Voices.

Fajria Menur Widowati membuat film dokumenter berjudul Pusenai, The Last Dayak Basap. Film ini mendapat penghargaan menjadi salah satu film terbaik dalam Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018.

Pusenai, The Last Dayak Basap mengambil latar tempat di Teluk Sumbang, Kalimantan Timur. Berkisah tentang seorang nenek bernama Pusenai yang berasal dari suku Dayak Basap. Nenek berusia 87 itu menggantungkan hidupnya dengan membuat kerajinan tas rotan.

Teluk Sumbang merupakan wilayah yang sangat kaya. Di sana ada hutan, bukit, laut, karst, dan air yang melimpah. Kekayaan ini membuat Teluk Sumbang menarik bagi para pengusaha. Industri kelapa sawit mulai menggusur hutan-hutan untuk dijadikan lahan kelapa sawit. Bahkan terdengar kabar, pabrik semen juga akan masuk ke sini.

Hutan yang semakin menghilang membuat nenek Pusenai semakin sulit mencari rotan di hutan. Ia yang menggantungkan hidupnya kepada hutan kini terancam karena hutan semakin habis. Ending film ini dibuat begitu apik oleh Fajria ketika ia mengambil gambar Pusenai memandangi traktor yang sedang menghancurkan hutannya. Itu merepresentasikan pesan yang ingin disampaikan Fajria tentang bagaimana masyarakat menghadapi arus modernisasi pembangunan.

Jaye Renold seorang antropologist, pembuat film, dan akfit mengampanyekan “If Not Us Then Who?”, menyampaikan pentingnya pembuatan film dokumenter yang disutradarai perempuan.

Film dapat menjadi jembatan untuk masyarakat adat bercerita kepada masyarakat lain. Perempuan punya perspektif yang berbeda dalam memotret sesuatu ketika memfilmkan sesuatu. Mereka dapat mengerti kondisi-kondisi yang hanya dimengerti oleh perempuan. Perempuan bisasanya lebih nyaman jika bertemu dengan perempuan lainnya sehingga informasi akan lebih terbuka.

Ketika Jaye memfilmkan tentang kisah pemadam kebakaran di Brazil, ia melihat pemadam kebakaran hampir semuannya adalah laki-laki. Ia merasa ini terlalu didominasi laki-laki. Jaye harus mencari perempuan agar film ini lebih berimbang.

“Ini bukan hanya masalah perspektif tapi soal keseimbangan, bagaimana kita menggunakan suara perempuan dalam narasi film agar tidak hanya didominasi narasi laki-laki saja. “

Perempuan Filmmaker Melihat Masyarakat Adat

Fajria punya keinginan untuk menyuarakan hilangnya tradisi masyarakat adat karena modernisasi dan masuknya agama-agama yang diakui negara.

“Kalau dalam bentuk tulisan, berapa banyak orang Indonesia yang mau membaca? Sedangakan jika lewat film sebagain masih mau menonton. Oleh sebab itu saya memilih menyampaikannya lewat film”.

Menurut Fajria perempuan adat adalah perempuan yang hebat dan kuat. Ia kenal seoarng perempuan adat yang hanya mau minum dari sungai dan mempertahankan tanahnya padahal sekelilingnya sudah berubah jadi sawit. Dia masih menyirih, menyinang dan menggunakan telinga panjang.

“Saya mau menyuarakan suara hati para perempuan adat yang tidak dapat tersampaikan karena faktor bahasa dan ketertutupan informasi di beberapa daerah masyarakat ada”, tuturnya.

Menurut Jaye, dunia butuh suara lebih banyak dari masyarakat adat. Cerita tentang masyarakat adat di dunia global masih sangat sedikit. Masayarakat dunia harus menyadari bahwa negara-negara yang memiliki tingkat konsusmsi tinggi ternyata berdampak kepada masyarakat adat. Banyak dari mereka yang tidak mengetahuinya.

Ketika dunia dihadapkan dengan masalah perubahan iklim, mereka bingung bagaimana harus menghadapinya. Padahal masyarakat adat punya jawabannya dan sudah mempraktekan nilai-nilai kearifan lokal yang ramah terhadap lingkungan.

Dalam kampanye “If Not Us Then Who?”, Jaye mendorong agar filmmaker yang berasal dari masyarakat adat membuat sendiri film tentang masyarakatnya. Karena film yang dibuat oleh filmmaker dari masyarakat adatnya sendiri dengan filmmaker dari luar memiliki pandangan yang sangat berbeda. Akan banyak hal-hal yang terlewat jika bukan dibuat oleh masyarakatnya sendiri.

Fajria dan Jaye memberikan tips untuk perempuan yang hendak menjadi pembuat film. Perempuan harus bergerak untuk berkarya terus dan tidak perlu takut dengan pandangan orang lain.

“Perempuan harus punya kepencayaan diri dengan karya-karya yang mereka buat karena perempuan mempunyai perspektif yang tidak bisa dilihat orang lain.”

*Aprelia Amanda, biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co